26. Tamu

9.2K 27 0
                                        

Aktivitas panas mereka terhenti begitu saja setelah Angel meminta izin pada Angga untuk bekerja di tempat Daddy. Angga bukannya melarang, dia hanya tidak ingin istrinya itu jadi overthinking dan berujung menyimpan benci pada Daddy.

Angga memang bukan anak sekaligus suami yang baik, tapi makin ke sini pola pikirnya makin berkembang. Dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang pantas dan mana yang tidak. Dia bukan lagi Angga yang hidupnya penuh foya-foya dan leha-leha, yang menganggap bisnis hanya sebagai formalitas.

Bahkan jika dibanding Angga beberapa bulan lalu, jelas Angga hari ini sudah jauh lebih baik. Sebab yang jadi titik fokusnya saat ini cuma satu yaitu keluarga kecilnya, tapi kenyataan yang harus dia hadapi tak seindah bayangannya. Angel masih belum bisa diajak kompromi. Meskipun dia tahu apa alasan Angel masih mau ini dan itu, tapi tetap saja, kadang Angga merasa bahwa perannya tidak begitu penting di mata Angel.

"Abang," panggil Angel ketika memasuki kamar mereka dan Angga yang kini duduk bersandar di headboard sambil memainkan ponsel, segera menoleh. Angel menghampirinya lalu beranjak naik ke ranjang, duduk di samping Angga. "Abang gak kasih izin ya?" tanya Angel. "Aku gak marah kok kalau Abang gak kasih izin."

"Kan kita udah pernah bahas ini." Angga mengingatkan barangkali Angel lupa.

Angel mengangguk. "Aku inget. Tadi—"

"Abang gak pengen debat soal apa pun, sayang," potong Angga dengan mata menatap Angel. "Abang gak ngasih izin bukan berarti Abang gak sayang sama kamu." Angga menggeleng tegas. "Gak gitu, sayang." Angel mengangguk mengerti. "Pertama, Daddy pasti bakal tanya kenapa Abang ngebiarin kamu kerja. Dan yang kedua, karyawan di sana pasti ngeliat kamu—"

"Gak usah diterusin, Abang. Aku paham." Angel mengangguk lagi.

Angga mengusap lengan Angel dengan lembut. Bibirnya tersenyum manis. "Kalo kamu mau kerja, gak apa-apa, silahkan. Tapi saran Abang, coba apply ke tempat lain."

Ekspresi Angel berubah masam. Punggungnya disandarkan ke headboard lalu kepalanya menoleh ke samping menatap Angga. "Kadang aku pengen nyerah," ujarnya, putus asa. "Aku ngerasa gak pernah punya kesempatan di fase ini. Tapi kalo liat temen-temen aku yang udah kerja, bisa beli ini itu pake uang sendiri, bisa healing bahkan ngonser kemanapun yang mereka mau, aku selalu berusaha ngeyakinin diri sendiri kalo aku juga bisa. Tapi ya itu kayak sementara. Semacam perasaan hilang timbul gitu."

Tangan Angga menyingkir dan ganti mengusap pipi Angel. "Abang paham. Yang namanya hidup, pasti ada hoki dan enggaknya. Kan roda kehidupan itu berputar, jadi kita gak bisa berharap banyak untuk selalu menang. Kita harus siap juga dengan kekalahan."

Angel mengangguk setuju. "Iya, Abang."

"Abang minta maaf ya kalo tadi Abang pergi gitu aja," ujar Angga. Angel mengangguk lagi. Perempuan itu menghambur ke pelukannya. Angga balas memeluknya. "Abang gak ada maksud bikin kamu sakit hati. Abang cuma sedikit kecewa aja karena kamu bahas apa yang sudah kita sepakati bersama."

Masih memeluk Angga, Angel mendongak. "Aku minta maaf."

"Iya, dimaafin." Angga mengecup bibir Angel dengan lembut.

"Kita gak jadi makan?" tanya Angel, mengerjapkan mata.

"Kamu laper?" balik Angga. Angel mengangguk dengan bibir manyun. Bikin Angga terkekeh. "Ya sudah, kita delivery aja ya?" putusnya. Angel mengangguk lagi. Kemudian Angga memesan makanan untuk dirinya dan Angel. Dan sembari menunggu pesanan datang, keduanya memilih menonton TV.

Angel bersandar di dada bidang Angga sementara Angga membelai lembut rambut hitam Angel yang tergerai. Angga akui, Angel memang secantik itu. Padahal dulu, di matanya, Angel tidak lebih dari sekedar anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Tapi ternyata dibalik kepolosan Angel dulu, adik angkatnya itu kerap mengoleksi novel dewasa yang lantas membuat Angga tercengang.

Fokus Angga beralih pada layar TV yang menampilkan sinetron remaja masa kini. Sinetron yang sering muncul di fyp TikTok, yang kata Angel vibes-nya mirip cerita Wattpad. Entahlah. Angga sendiri pun tidak tahu apa itu Wattpad.

Diam-diam tangan Angga turun ke bagian dada Angel dan berhenti di sana. Bukit kembar itu sudah terbungkus kaos juga bra.

Tiba-tiba Angel mendongak.

Angga tersenyum penuh arti.

"Kita baru pesen makanan lho, Bang." Angel mengingatkan.

"Sebentar aja gak boleh ya?" Angga menunjukkan wajah kecewa.

Angel berdecak. "Bukan gak boleh. Tapi nanti kalo tiba-tiba pesenan kita dateng, gimana?"

"Kan yang nyamperin Abang. Kamu di sini aja," balas Angga, tidak ingin menunda kesempatan. Sementara itu Angel memutar kedua bola mata, lalu kembali menatap layar TV, lanjut menonton. Angga yang seolah diberi lampu hijau, kemudian menyusupkan tangannya ke dalam baju Angel.

"Menurut Abang," suara Angel membuat Angga menunduk menatap wajah Angel. Tangan Angga masih meraba-raba lalu kemudian meremas bukit kembar Angel. "Baiknya aku apply ke perusahaan yang sesuai bidang aku, atau sambil nyoba ke yang sekiranya bisa aku lakuin?"

"Sebenernya kalo kita udah terjun ke dunia kerja, jurusan yang kita ambil sewaktu kuliah, bisa aja gak kepake," ujar Angga. "Tapi bukan berarti usaha kita selama kuliah jadi sia-sia ya. Terkadang realita di lapangan gak seperti bayangan kita sewaktu kuliah."

"Iya sih, aku setuju. Soalnya banyak juga temen seangkatanku yang kerja diluar bidang mereka," kata Angel.

"Nah, jadi kalo ditanya pendapat, Abang balikin lagi ke kamu karena yang nantinya ngejalani kan kamu. Abang cuma bisa kasih pandangan aja." Ditengah ucapannya itu, jari-jari Angga berhenti di ujung payudara Angel. Angel menggeliat geli saat ia mainkan puting tersebut. "Dan sekarang kamu maunya gimana?"

"Aku masih ragu sebenernya, tapi aku nggak mau kalah gitu aja," gumam Angel.

"So?"

"Aku bakal coba apply ke tempat lain dan kalaupun aku dapet posisi yang nggak sesuai sama bidangku, aku gak masalah. Gak ada salahnya juga kan untuk aku belajar lebih banyak?"

"Iya." Angga tersenyum. Melihat Angel yang begitu bersemangat menjajal dunia kerja, dia jelas tidak bisa melarang dengan dalih yang sebetulnya lahir dari ego. Maka mendukung keputusan yang diambil Angel adalah pilihan Angga saat ini.

Tak lama terdengar bunyi bel dari luar. Angga segera beranjak dari kamar. Sepertinya pesanan mereka sudah datang. Namun ketika Angga memeriksa titik lokasi driver yang seharusnya mengantarkan pesanan mereka, titik tersebut masih berada di restoran.

Enggan ambil pusing, Angga bergegas membukakan pintu. Dan tepat ketika pintu terbuka, tubuhnya ditubruk oleh seseorang yang tahu-tahu saja menghambur ke pelukannya. "Angga, please, help me!"

Angela; I'm Yours [21+]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang