21. Berbohong

19.2K 111 0
                                        

Lebih dari dua jam setelah Angga mengabari Angel, belum ada balasan dari gadis itu. Hm, barangkali Angel sedang asyik mengobrol dengan sahabatnya, makanya lupa menanggapi pesan dari suaminya. Ah, suami ya? Angga sedikit geli mendengarnya. Tapi, sekarang dia bukan lagi laki-laki lajang, meski sesampainya di negeri orang, Angga tetaplah laki-laki tak berpasangan karena kemana-mana selalu sendiri. Kalaupun ada orang lain di sisi, pasti teman tongkrongannya. Rantauan dari Indonesia, sama seperti dirinya.

"Lo beneran udah married?" tanya Yudha, lalu menyesap rokoknya.

Angga mengedikkan bahu. "Di Indonesia iya, di sini tetep happy-happy dong."

"Dasar buaya!" maki Hendrik.

Disambut gelak tawa Yudha. "Lagian cewek mana sih yang percaya sama lo?"

"Adik angkat gue," jawab Angga tanpa beban.

Membuat kedua temannya kompak berjengit kaget. "Hah?"

"By the way, gue udah putus sama Chloe," ungkap Angga.

"Ya emang perjanjiannya gitu kan," timpal Yudha.

"Tapi gue perhatiin kayaknya si Chloe cinta beneran ama elu deh, Ngga," gumam Hendrik menilai. Angga sependapat. Setelah obrolan mereka—Angga dan Chloe—dua minggu lalu, diikuti aksi nekat Chloe yang menelanjangi Angga terang-terangan, Angga benar-benar bertindak tegas pada wanita itu agar janda anak satu tersebut tidak berharap lebih padanya, tapi Chloe tidak mengiyakan, tidak pula menolak. Chloe pergi begitu saja dengan raut kecewa.

"Eh by the way, karyawan lo cakep juga, Ngga," beo Yudha.

"Karyawan?" balik Angga bingung.

Yudha mengangguk. "Iya, karyawan lo. Kayaknya dia dari Indonesia deh."

Beberapa tahun lalu, sambil melanjutkan S2, Angga memanfaatkan uang tabungan yang ia punya untuk mendirikan restaurant nusantara. Dan sebenarnya di Indonesia pun, ia sudah memiliki tiga cabang yang diurus oleh para sepupunya. Namun, ia tetap memilih kembali ke Amerika karena ... satu, dia belum siap menjadi suami. Dua, dia masih belum bisa bersinggungan dengan kedua orangtuanya—pasca perpisahan Mami dan Daddy, tetapi tidak cerai, dan terakhir ... setiap kali melihat wajah Mami, rasa bersalah di hatinya selalu muncul lagi, lagi, dan lagi.

Seharusnya ia bisa membanggakan Mami, tapi malah sebaliknya.

Seharusnya ia yang menjaga Mami, tapi malah ia tinggalkan wanita itu sendiri.

Seharusnya ia bisa diandalkan, tapi egonya mematahkan.

"Kata manajer gue emang ada karyawan baru sih, tapi gue belum ketemu orangnya," ujar Angga.

Tak lama Yudha mendadak heboh, menunjuk ke satu arah. "Nah, itu!"

Angga mengikuti arah jari telunjuk Yudha. Benar. Tidak jauh dari meja yang ia dan kedua temannya tempati, berdiri seorang gadis yang Angga perkirakan seumuran istrinya—lengkap dengan seragam kerja yang super ketat. Astaga. Mata Angga meleset ke bagian dada gadis itu. Besar sekali. Melebihi milik Angel.

"Eling, nyet! Lo udah punya bini," ingatkan Hendrik.

"Tahu nih monyet satu!" Yudha tidak segan-segan melayangkan jitakan ke kepala Angga. Buat pria tampan itu mendengus sewot. Ia pikir dengan ia jauh dari Angel, ia bebas melakukan apapun yang ia suka. Tetapi ada dua kampret yang siap menghalangi.

Angga memutar bola mata jengah. "Kan tadi gue udah bilang; di sini tempatnya gue happy-happy. Jadi gak usah ngatur kalian!"

"Buaya!"

Selama menghabiskan sore hari, sambil menanggapi celotehan kedua temannya, mata Angga tidak berhenti melirik karyawan barunya yang sesekali menoleh padanya dan melempar senyum. Namun sebagai boss yang dikenal dingin dan galak, Angga tetap konsisten menunjukkan muka datarnya. Hingga kedua kampret alias temannya pulang, Angga melangkahkan kaki menghampiri si karyawan baru.

"Siapa namamu?" tanya Angga.

"Laura, Pak," jawab si karyawan yang ternyata bernama Laura itu.

"Oh, okay." Angga melenggang pergi meninggalkan restaurant. Ia ingin mengistirahat hati, otak, dan fisik di apartemen miliknya, karena setibanya di Amerika, dia langsung digiring ke sini oleh kedua temannya. Well, Slamet dan Cahyono—nama kesayangan Angga untuk Yudha dan Hendrik—butuh penjelasan mengenai kabar pernikahannya.

Dan sesampainya di apartemen, Angga mengindahkan permintaan Angel—merekam seisi apartemen, lalu ia kirim ke nomor istrinya. Centang dua abu-abu. Sama seperti pesan yang ia kirim beberapa menit lalu, saat ia mengabari istrinya kalau ia sedang perjalanan menuju apartemen. Ck! Angga berdecak, agak panik. Ia telepon maminya, namun tidak ada jawaban.

Angela sayang
Adek, u okay?
Bls pesan Abang, sayang
Jgn buat Abang khawatir
Angela, istri Abang

Angelaku <3
Aku gpp

Angga menghela nafas lega, meski typing Angela-nya agak beda.

Mau vicall tidak?
Abang lg tiduran

Dan ketika ia hubungi Angel melalui panggilan video, nomornya mendadak tidak aktif. Shit! Angga mengumpat keki. Padahal tadi di bandara Angel merengek-rengek agar diajak atau paling tidak Angga menunda keberangkatannya. Tapi sekarang ...

Apa istrinya ngambek?

Angela, kenapa gak diangkat?
Kamu ngambek grgr Abang tinggal?

Tidak ada balasan.

Karena centang satu.

Fakkk!!!

Angga tidak punya nomor Gita, sahabat Angel.

Oh, sebentar. Selain Mami, Daddy pasti tahu.

Dad, kirim nomor Gita
Sahabat Angela

Daddy
👤 Sahabat Putriku Angela

Membaca kontak yang tertera, bibir Angga tersungging tipis. Liat! Sesayang itu Daddy ke Angela, sampai-sampai nomor sahabat anak angkatnya ditulis dengan embel-embel Putriku. Pun Mami yang akhirnya membalas pesan WhatsAppnya dan mengirimkan nomor Gita.

Mami
👤 Gita - My Angela

Angga menghela nafas.

Sudah.

Ia kirimkan pesan ke nomor Gita dan ...

Gita, ini saya Angga
Suaminya Angela
Istri saya lg sm kamu?

081346778xxx
Hai, Abang
Engga tuh
Tadi aja dia ingkar janji

Ingkar janji?

Angga mengerutkan kening.

Tp td dia bilang mau ketemu kamu

081346778xxx
Betul Bang
Tapi pas aku nyampe cafe, Angel ga ada

Apa Angel membohonginya?

Angela; I'm Yours [21+]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang