Pict gue delete besok daripada kena peringatan wattpad.
.
Baru juga ketemu, tapi Angga sudah minta jatah. Lelaki itu membimbing Angel duduk di pangkuannya, lalu ia lepas dua kancing teratas blouse yang dikenakan sang istri, dan sepasang payudara bulat, besar, nan berisi yang ia rindukan kini terpampang nyata di depan mata. Sialnya, masih terhalang bra. Tapi tenang, mereka sudah aman. Sekarang keduanya singgah ke hotel dekat bandara untuk melepas rindu.
"Tambah gede aja, sayang," gumam Angga, meremas payudara Angel. Kemudian ia lepas blouse yang membungkus tubuh langsing Angel. Ia buang ke sembarang arah. Tatapan matanya tertuju pada bagian dada Angel. "Kalau kita punya anak, kamu harus siap nenenin Abang sama ajak kita tanpa ngeluh.* Angga lepas bra yang membungkus payudara Angel. Puting susunya yang cokelat nan tebal tampak mengacung tegang. Dengan iseng ia towel pentil susu Angel. Sontak sang empunya menggelinjang geli.
"Abaaaangg!"
"Tiduran aja, sayang. Abang capek," pinta Angga.
Angel mengindahkan, menggiring Angga ke ranjang, lalu berbaring di sebelah lelaki itu dengan posisi menyamping. Ia sodorkan pentil susunya yang tak memproduksi ASI ke mulut Angga. Angga dengan penuh nafsu menyambutnya, lalu dihisap cukup kuat, sedang tangan Angga dimasukkan ke lubang kewanitaan Angel. Angel menggelinjang keenakan. "Abaaangg."
Pandangan Angga naik ke atas, menatap Angel yang mendongak dan mendesah, menikmati permainan tangan serta bibirnya. Angga menyeringai tipis. Kalaupun nanti Angel hamil anaknya, Angga tidak keberatan.
Angga menyusu pada Angel selama hampir sepuluh menit hingga dering ponselnya menginterupsi, Angel menjauhkan diri sebentar. Video call dari Gita. Tanpa memakai atasan, Angel terima panggilan video dari sahabatnya. Reflek Gita memekik shock. "HEH SINTING! TETEK LO GELANTUNGAN TUH!" katanya, "MANA PENTILNYA BASAH. LO ABIS DICIPOK SIAPE ANJIR?!"
"Suami gue lah."
Mengabaikan Gita, Angga menarik Angel mendekat, membaringkan kepala ke pangkuan gadis itu, lalu seakan mengerti Angel mengarahkan pentil susunya ke mulut Angga untuk dihisap lagi, sementara tangan Angel yang nganggur menurunkan risleting celana Angga, ia keluarkan milik pria itu untuk dielus. "Kenapa telepon?"
"Lo nggak ke kampus?" tanya balik Gita.
"Gak."
"Sepi banget gak ada lo," keluh Gita cemberut. "Ketemuan yuk?" ajaknya.
"Gak bisa, Git," tolak Angel.
"Mentang-mentang udah halal, lupa sama temen," sindir Gita.
"Next time aja ya. Bye!" Angel matikan sambungan teleponnya, lalu ia letakkan handphone mahalnya ke atas nakas. Mata Angel teralih ke Angga yang masih sibuk menyusu padanya. "Abang," panggil Angel. Angga mendongak menatapnya. "Kalau aku udah lulus, aku boleh ikut Abang ke luar negeri kan?"
"Ngapain?" Tanggapan Angga buat Angel kesal.
Ia tarik payudaranya dari bibir Angga sambil cemberut. "Oh, jadi Abang gak suka diikutin istri?"
"Gak gitu, sayang. Kan Abang lagi urus kepindahan Abang," decak Angga.
"Abang usaha di sini aja?" tanya Angel.
Angga bangun lalu mengangguk. Ia colek pucung hidung Angel. "Betul, sayang. Biar kita gak LDR lagi. Sedih banget tiap malem peluknya cuma guling." Angga memanyunkan bibir. Dan ekspresinya itu berhasil menghilangkan kesal di hati Angel. Angel tertawa geli, memukul pelan lengan Angga. "Terus udah gitu gak bisa nenen kayak gini."
"Ish, dasar!" dengus Angel.
"Lagi, sayang," pinta Angga lembut.
Angel membimbing Angga tidur di pangkuannya, ia peluk laki-laki itu ketika bibir Angga melahap puting susunya. "Abang," panggil Angel lagi. "Selama kita nikah kan kita belum honeymoon. Memangnya Abang gak ada niat untuk ajak aku honeymoon?" singgung Angel dengan nada manja seperti biasa.
Angga melepas kuluman puting, mendongak menatap Angel. "Memangnya kamu mau honeymoon kemana? Kan Abang nyesuaiin sama jadwal kuliah kamu."
"Eumm ..." Angel berpikir sejenak, "Terserah Abang aja deh, yang penting perginya sama Abang," cengir Angel. Angga mendengus geli. "Ya udah, Abang lanjutin lagi. Aku mau chat Gita dulu. Kayaknya dia ngambek deh."
"Gini doang, sayang?" protes Angga.
"Memangnya Abang mau yang gimana?" tanya Angel.
Pertanyaan yang seolah memancing hasrat Angga. Laki-laki itu bangun, melucuti semua pakaiannya. Begitupun Angel. Ia sambar bibir istrinya untuk dilumat dan Angel tidak pikir panjang untuk membalas. Tangan Angga meremas kedua payudara Angel. Lalu bibirnya turun ke leher jenjang Angel, meninggalkan tanda cinta di sana. Setelahnya ia dorong tubuh Angel hingga jatuh terlentang diatas ranjang. Angel melebarkan kedua kaki, mempersilahkan Angga yang kemudian menyatukan miliknya dengan milik Angel.
Angel meringis ketika dimasukki Angga.
"Pelan-pelan, Abang," Angel mengingatkan.
"Iya, sayang," balas Angga.
Setelah milik mereka menyatu, Angga dengan hati-hati menggerakkan tubuh. Ia genggam kedua tangan Angel guna menjaga keseimbangan. Mata Angga tertuju pada payudara Angel yang naik-turun. Lalu ia hentikan hentakkannya, ia bimbing Angel bangkit tanpa melepas penyatuan, dipeluknya tubuh Angel, dan Angga hentakkan lagi miliknya—meraih pelepasan sembari menyusu pada payudara Angel.
Angel mendesah.
"Kita sudah sah, sayang. It's okay," bisik Angga, menyemburkan cairan cinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Angela; I'm Yours [21+]
RomanceMenceritakan tentang Angga yang jatuh hati pada adik angkatnya.
![Angela; I'm Yours [21+]](https://img.wattpad.com/cover/367317552-64-k685867.jpg)