32. Gara-gara Pingkan

11.2K 22 0
                                        

Setiap hari banyak hal yang mengganggu pikiran Angga. Setelah kemarin Angel lebih banyak diam dan pulang-pulang tampak murung, ternyata setelah ditelusuri penyebabnya adalah Daddy. Istrinya itu baru tahu boroknya Daddy. Tapi, kenapa pagi tadi Angel mendadak ketus? Siapa lagi yang menjadi penyebab istrinya itu badmood? Apa ada hal lain tentang Daddy yang baru Angel tahu?

Angga menghela nafas berkali-kali. Siang ini, seperti biasa, ia mengunjungi cabang cafe dan restoran miliknya yang ada di sekitar Jakarta. Usaha yang awalnya ia rintis di luar negeri pasca lulus kuliah, kini ia lanjutkan bersama para sepupu—yang memilih hidup mandiri tanpa campur tangan harta warisan keluarga.

Dulu keluarganya sempat berseteru karena pembagian warisan yang dirasa tidak merata. Orangtuanya dan orangtua para sepupumya tidak lagi saling bicara. Merasa terkhianati oleh harta yang padahal tidak dibawa mati. Namun Angga dan para sepupu memilih untuk tetap menjalin silahturahmi. Bahkan mereka sepakat untuk tidak tergiyur dengan harta. Mereka mematahkan warisan pada generasi mereka dengan memutuskan untuk berbisnis sama-sama, meski kadang ada yang curang, ada pula yang saling senggol, tapi sejauh ini semuanya aman.

"Asem banget tu muka," celetuk Cakka, memasuki ruangan Angga lalu beranjak duduk di hadapannya. "Lagi ribut sama istri?"

"Gue bingung sama istri gue," ujar Angga.

Cakka mengerutkan kening. "Bingung kenapa?"

"Dia tuh kadang-kadang manis, manja, kalem, lugu, tapi tiba-tiba bisa berubah jadi ketus juga. Kayak mood dia tuh gampang banget berubahnya," ungkap Angga sambil menggoyangkan kursi kerjanya. "Apa istri lo begitu juga?"

Pengakuan Angga disambut Cakka dengan tawa. "Kayaknya semua istri gitu gak sih? Istrinya Romi, Damar, sama Yudhis juga gitu kok."

"Ya maksudnya kalo emang gue ada salah tuh bilang, jangan tahu-tahu ngambek, terus ngomongnya ketus," sungut Angga, disambut Cakka dengan tawa lagi. "Asli, gue kesel banget. Tapi kalo gue bales, dianya makin marah. Gak paham lagi gue sama kamus cewek."

"Ternyata player kayak lo masih butuh belajar tentang cewek ya?" sindir Cakka.

Angga mendengus. "Sialan lo!"

"Coba lo inget-inget," saran Cakka. "Barangkali sebelum istri lo ngambek, lo ada bilang sesuatu atau ngelakuin apa gitu yang tanpa sadar justru bikin dia tersinggung." Angga langsung berusaha mengingat-ingat, tapi yang muncul di benaknya cuma tubuh polos Angel.

Cara bagaimana gadis itu balas memuaskannya.

"Kayaknya gak ada deh," gumam Angga.

"Menurut lo," timpal Cakka. "Sekarang gue tanya, sejak kapan Angel kesel sama lo?"

"Pagi tadi," jawab Angga.

"Sebelum dia kesel, kalian ada ngobrolin sesuatu gak?" tanya Cakka lagi.

Angga mengurut satu per satu momen yang ia lakukan bersama Angel. Well, sebelum istrinya ngambek, mereka sempat melakukan itu beronde-ronde. Tapi sewaktu Angga mengonfirmasi perihal dirinya yang sering menyusu, Angel bilang bukan soal itu.

Apa ini ada kaitannya dengan Daddy?

"Ya lo tahu lah apa yang dilakuin suami istri tiap malem," decak Angga, agak malu.

"Lo mainnya terlalu beringas kali, makanya dia ngambek," terka Cakka.

Angga mengernyit. "Gak ah, biasanya juga gitu."

"Lo kan doyan banget!"

"Kayak lo gak aja," balas Angga. "Tapi sebelum olahraga, kita sempet ada bahas soal Daddy."

"Kenapa Om Willi?" tanya Cakka.

"Angel udah tahu gimana Daddy. Gue gak bisa jelasin detailnya, tapi dia keliatan kecewa banget," ungkap Angga. Cakka manggut-manggut. Tidak ada hanya Daddy, beberapa ayah dari sepupunya juga sama. Tapi ada pula yang bertingkah justru ibu mereka. Dan sisa-sisanya dua-duanya.

Salah satu alasan yang awalnya bikin Angga takut melangkah karena menyaksikan cerita cinta kedua orangtua serta paman dan bibinya, membuat Angga berpikir seribu kali untuk serius dengan seorang perempuan. Sebab ketika ia menikahi perempuan tersebut, tanggungjawabnya tidak hanya sekadar memberi nafkah—baik secara materi maupum batin, tetapi lebih besar dari itu.

"Gue paham sih..."

"Tapi kayaknya gak mungkin karena itu," sambung Angga.

Cakka mengernyit. "Terus karena apa atuh?!"

"Gue gak tahu." Angga menggeleng lesu.

"Ya udah deh, lo cari tahu dulu." Cakka lalu bangkit. Angga mendongak menatap sepupunya. "Gue mau jemput Kafka." Kali ini Angga mengangguk mempersilahkan. Sebelum pergi, Cakka menghantamkan kepalan tangannya dengan kepalan tangan Angga—tos laki-laki. "Gue cabut!"

"Yo, hati-hati."

Angga tetap menjalani rutinitasnya seperti biasa. Namun yang membuat harinya sedikit berbeda adalah... Angel. Sejak tadi pesannya tidak juga dibalas. Padahal biasanya yang paling sering mengirim pesan lebih dulu justru Angel, tapi, kenapa gadis itu berubah? Sebenarnya ada apa? Apa Angga ada salah?

Angga mengetikkan pesan lagi.

Kali ini sedikit menggoda.

Sayang, kamu lagi apa? Pap dong. Tapi yang hot ya.

Tetap tidak ada balasan. Padahal sudah dibaca.

Angga mencoba menghubungi Angel lewat panggilan suara hingga video, tapi selalu ditolak. Angga lalu mengiriminya pesan lagi.

Sayang, kenapa ditolak? Abang salah apa sama kamu?

Tidak ada jawaban. Angga jadi frustasi sendiri. Ingatannya dipaksa mengurut detik demi detik, tapi yang ia tidak menemukan apapun. Sebelum pagi tadi, Angel tampak baik-baik saja. Gadis itu masih bertingkah manja seperti biasa. Tapi...

Tiba-tiba ponsel Angga berdering. Pesan masuk dari nomor asing.

Angga buka pesan itu dan seketika matanya melebar. Chloe mengiriminya sebuah foto yang membuatnya tercengang tak percaya. Kenapa nomor baruku tadi diblok? Angga lalu mengerutkan kening. Ia tidak merasa memblokir nomor baru Chloe, bahkan nomor wanita itu memang sudah lama ia blokir. Tapi, kenapa...

Oh!

Angga baru sadar.

Apa jangan-jangan...

Angga menghubungi nomor Chloe. Dan suara Chloe terdengar dari ujung. "Angga, akhirnya kamu telepon aku juga. Tadi kenapa kamu blokir nomor aku? Kamu udah gak suka sama Pingkan ya?"

Angga meneguk ludah kasar.

Sialan.

Pingkan adalah nama iseng yang ia ciptakan untuk menyebut sepasang payudara Chloe—dulu.

"Kamu kirim apa?"

"Loh, kan udah kamu liat pesannya? Pura-pura gak tahu nih si Bapak. Angga, jauhin handphone kamu dari telinga. Panggilannya udah aku ubah ke video call."

Angga menarik ponselnya dari telinga lalu ia arahkan ponselnya di depan wajah. Mata Angga membelalak lebar. Chloe emang jalang sialan! Bisa-bisanya wanita itu menghubunginya tanpa mengenakan baju. "Chloe?" Sepasang payudara Chloe tampak bergelantungan. "Sinting!" Tapi dengan cepat Angga akhiri panggilan tersebut.

Setelah itu, ia blokir nomor Chloe.

Dan sebelum nomor Chloe yang barusan ia blokir, memang ada nomor lagi.

Jadi Angga bisa menyimpulkan sekarang.

Lelaki itu kembali mengirim pesan ke nomor Angel.

Sayang, aku pulang cepet. Kita harus bicara, oke? Muah.

Angela; I'm Yours [21+]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang