"Karena lo punya trauma." Angga bisa merasakan perubahan hawa di sekitar. Oleh karena itu ia memilih untuk menyudahi percakapan. Ia dorong bahu Angel agar melangkah mendahuluinya sementara ia memutuskan membelokkan langkah ke arah kamar mandi. Shit!
Apa dia jatuh cinta dengan adik angkatnya?
Angga memutar keran wastafel, membasuh mukanya dengan gusar lalu ia tatap cermin di depannya dengan hati bimbang. Setelah Mami menceritakan asal-usul Angel yang datang dari keluarga berantakan, hati Angga sedikit tersentuh. Tapi karena rasa kesalnya pada Angel yang mendadak dianak-emaskan oleh kedua orangtuanya, Angga jelas enggan menunjukkan simpati. Ia justru makin benci pada adik angkatnya itu.
Tapi semua berubah.
Saat Angga pulang dan melihat perubahan Angel yang signifikan. Dari wajah imut yang terlihat lebih cantik dan anggun, bagian dada Angel tentu menarik perhatian Angga. Sebab selama hijrah ke luar negeri, ia sudah sering bersilahturahmi dengan banyak perempuan, mencicip berbagai bentuk payudara yang menjadi candunya.
Shit!
Otak gue!
Angga bersungut dalam hati, kemudian laki-laki berperawakan jangkung dengan tatto naga di lengan kanannya itu beranjak keluar. Ia harus bisa menghadapi ini. Ia harus bisa lebih kuat dari siapapun yang mengkhawatirkan Mami. Angga berusaha menyugesti diri hingga tiba di depan IGD, ia hanya mendapati Bik Minah. "Angel mana, Bik?" tanyanya.
"Di dalam, Mas. Mas di sini dulu," ujar Bik Minah.
"Bibik kalau mau balik, balik aja. Biar aku yang urus Mami," kata Angga.
"Bentar, Mas. Saya mau liat keadaan Ibu juga."
Angga tidak terlalu sering berkomunikasi dengan ARTnya ini, jadi tidak heran kalau cara mereka berinteraksi terkesan kaku, cenderung dingin. Ditambah tadi Bik Minah sempat memergoki Angga yang tengah menyusu pada Chloe, lalu ketika di kamar pun Angga juga kepergok sedang melakukan hubungan badan karena ia tidak menutup pintu kamarnya rapat-rapat, dan kebetulan Bik Minah hendak mengambil baju kotor di kamarnya. Tapi Angga sama sekali tidak peduli, ia enggan ambil pusing.
Tak lama Angel keluar dengan mata sembab habis menangis.
"Cengeng," ejek Angga.
"Abang dipanggil Mami," ujar Angel tidak menanggapi ejekannya.
Angga mengangguk lalu melangkah masuk. Ditemuinya Mami. Ia duduk di kursi dekat brankar. Tatapan matanya terlihat hangat dan bersahabat, tak seperti ketika menatap Bik Minah, Angel, atau Chloe. Angga benar-benar menunjukkan keteduhan seorang anak pada ibunya. "Mami panggil aku?"
"Mami sudah agak enakan," kata Anne. "Tapi Mami mau tinggal di rumah Grandma untuk beberapa hari," pintanya. "Mami titip Angel ya? Jangan marahi dia."
"Tapi kan lusa aku mesti balik ke Amerika, Mi," protes Angga.
"Jadi kamu lebih pilih perempuan itu?" ketus Anne.
"Gak gitu, Mi," bantah Angga lembut. "Aku sayang Mami, aku care sama Angel, tapi usahaku ada di sana. Aku gak mungkin ninggalin apa yang udah aku perjuangin di sana. Lagipula semakin lama aku ada di sini, yang ada aku justru gak bisa move on dari Pricilla."
"Kamu bisa memulai bisnis di sini dan mencari pengganti Pricilla," saran Anne. "Ya walaupun Mami tahu ini gak mudah, tapi, apa salahnya mencoba?" Senyum Anne terukir tipis. "Lagian waktu Mami gak lama lagi. Mami pengen di sisa hidup Mami, Mami dikelilingi anak-anak Mami. Mami pengen kalian lah yang Mami liat sebelum Mami menutup mata untuk selama-lamanya. Karena siapa lagi yang akan mendoakan Mami nantinya? Siapa yang akan mengantarkan Mami ke tempat peristirahatan terakhir?"
"Mi," tegur Angga, digenggamnya tangan Mami, ia kecup dengan penuh kasih.
"Kalau nanti Mami pergi, tolong jaga Angel ya? Tolong sayangi dia. Tolong peluk dia saat dia ketakutan. Tolong tepuk punggungnya dan beri kecupan di kepalanya. Tolong luangkan sedikit waktumu untuk mendengar cerita-ceritanya. Tolong perlakukan dia dengan baik. Sebaik Tuhan menghadirkan dia ditengah keluarga kita. Karena besar harapan Mami untuk bisa mengantarkannya ke masa depan yang lebih indah dan cerah. Tapi dengan kondisi Mami yang seperti ini, Mami gak yakin dengan harapan Mami. Karena itu Mami titipkan Angel ke Abang."
Angga diam, membiarkan ibunya berbicara.
"Pelukanmu adalah pengganti pelukan Mami. Telingamu adalah pengganti telinga Mami. Dan peranmu adalah pengganti sosok Mami. Jadi, tolong kabulkan permintaan terakhir Mami," lanjut Anne yang dibalas Angga dengan anggukkan pelan.
Angel benar-benar malaikat yang kehadirannya disambut penuh sukacita oleh kedua orangtuanya. Terlepas dari rencana Mami dan Daddy yang ingin menjodohkan Angel dengan Raja-anak dari teman bisnis Daddy yang berprofesi sebagai arsitek, semua itu mereka lakukan demi masa depan Angel.
Angga menempelkan genggaman tangannya ke pipi. "Akan kuusahakan, Mi."
"Terima kasih, Abang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Angela; I'm Yours [21+]
RomanceMenceritakan tentang Angga yang jatuh hati pada adik angkatnya.
![Angela; I'm Yours [21+]](https://img.wattpad.com/cover/367317552-64-k685867.jpg)