30. Daun Muda

10.4K 22 0
                                        

"Sayang, are you okay?" Sejak pulang entah dari mana, Angel terlihat sangat murung. Angga jadi khawatir. Tapi dia tidak mungkin mencecar Angel dengan banyak pertanyaan, nanti yang ada istrinya itu malah badmood. Angga menggiring Angel duduk di sofa. "Apa ada yang bikin kamu sedih? Coba cerita ke Abang."

Angel menatap Angga sejenak, membuat Angga menaikkan satu alis. Apa ada yang salah?

"Sayang?" panggil Angga lagi. "Kamu—"

"Aku mau istirahat dulu, Bang," ujar Angel lalu bangkit. Kakinya digerakkan ke kamar. Angga menyusulnya lalu menutup pintu kamar mereka dan menguncinya dari dalam. Mata Angga melihat Angel duduk di pinggir ranjang besar yang selalu jadi saksi malam-malam panas mereka.

Angga kemudian menghampiri Angel dan duduk di sampingnya.

Angel menghambur ke pelukan Angga.

"Kenapa?" tanya Angga, pelan.

Dalam dekapan Angga, Angel menggeleng. "Cuma pengen dipeluk Abang." Angga lalu mengeratkan pelukannya. Ia tahu, pasti ada yang sedang disembunyikan istrinya—entah apa, karena yang jelas saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Angga tidak mau merusak mood Angel.

"Kalo kamu capek, kamu istirahat gih," ujar Angga, mencium puncak kepala Angel.

Angel mendongak menatap Angga. "Maaf ya, Bang, aku gak bisa banyak ngobrol dulu. Aku capek." Angga mengangguk lalu mengecup kening Angel lagi. Angel tersenyum karena Angga selalu memahaminya dalam situasi apapun. "Makasih, Abang," ucap Angel lalu balas mengecup bibir Angga sebentar.

"Iya, sayang."

Kemudian Angga meninggalkan Angel di kamar sendirian. Lelaki itu melenggang menuju dapur untuk membuatkan nasi goreng telur untuk Angel dan segelas es sirup. Mungkin istrinya butuh yang segar-segar supaya pikirannya lebih fresh. Dan disela kegiatan Angga di dapur, ia terus bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya ada apa dengan istrinya? Sejak tadi pagi perilakunya sedikit aneh.

Angga menghela nafas berkali-kali, mencoba meyakinkan diri bahwa Angel baik-baik saja. Mungkin cuma dia yang terlalu berlebihan. Tapi wajar kan seorang suami mengkhawatirkan istrinya? Angga ingin istrinya itu hamil dalam waktu dekat. Kalau kondisi Angel sedang stress begini, yang ada keinginannya untuk memiliki momongan ditunda lagi.

Bukannya Angga tidak peduli pada mental dan perasaan Angel, hanya saja...

"Abang," panggil Angel membuat Angga menoleh.

Angga tersenyum ketika Angel memeluknya dari belakang. "Kan tadi Abang suruh kamu istirahat, kenapa nyamperin Abang, hm?" Angel tidak menjawab, pelukannya semakin kuat. Angga melirik Angel sejenak. Gadis itu bersandar pada punggung lebarnya. "Sayang," panggil Angga membuat Angel mendongak menatapnya. Angga lalu mematikan kompor dan membalik tubuh sehingga pelukan Angel terurai. "Maaf ya, bukannya Abang maksa, tapi Abang perlu tahu, kamu kenapa?"

"Aku gak tahu mesti mulai dari mana," gumam Angel menundukkan wajah.

"Maksudnya?" tanya Angga bingung lalu meraih dagu Angel dan diangkatnya wajah murung itu. "Kenapa, sayang? Cerita sama Abang. Abang ini kan suami kamu."

Angel sedikit memajukan bibir, ekspresinya lucu sekali. "Kalo aku cerita ke Abang, Abang bakal marah gak? Soalnya ini masalah keluarga." Kening Angga langsung berkerut. Angel mengulurkan tangan mengusap lembut pipi Angga. Angga lalu menggapai tangan Angel yang berada di pipinya, ia genggam dan perlahan disingkirkan. Sebagai gantinya dia kecup tangan itu berkali-kali dengan penuh cinta.

"Keluarga kita, sayang?" tanya Angga.

"Iya," jawab Angel

"Maksudnya... keluarga kecil kita kan? Antara kamu dan Abang?" Angga memastikan. Tapi Angel menggeleng. Angga mengerutkan kening lagi. "Terus?"

Angel tampak terdiam sambil menggigit bibir, menunjukkan kegelisahan.

Angga menghela nafas. "Sayang..."

"Soal Daddy, Bang," kata Angel kemudian, dengan satu tarikan nafas.

"Daddy... kenapa?" tanya Angga penasaran.

"Bang..." Angel meraih kedua telapak tangan Angga, digenggamnya dengan penuh kecemasan. Angga semakin bingung. Ayahnya berulah apa lagi? Apa tidak cukup lelaki tua itu menyakiti ibunya? Apa jangan-jangan...

Angga langsung panik. "Kamu diapain Daddy?"

"Bukan aku, Abang." Angel menggeleng.

"Terus?" desak Angga makin penasaran.

"Daddy selingkuh sama Gita," ungkap Angel membuat Angga kontan melebarkan mata. Walau sudah tidak kaget lagi karena sebelum ini ayahnya memang suka bermain-main dengan daun muda, tapi tetap saja Angga keliatan shock. Bukannya apa-apa, daun muda kali ini adalah teman baik istrinya. "Aku gak bisa ngasih bukti-buktinya ke Abang, tapi yang jelas mereka beneran selingkuh, bahkan Gita sendiri yang mengakui."

Angga menarik Angel ke dalam pelukan, ia usap punggung Angel yang kemudian bergetar akibat tangisan yang tumpah.

"Itu alasan Mami ceraikan Daddy," kata Angga.

"Abang tahu Daddy selingkuh sama Gita?" Angel mendongak.

Angga menggeleng. "Soal Gita, Abang gak tahu. Tapi sebelum kamu bilang Daddy dan Gita main belakang, sebelumnya Daddy udah sering main api sama perempuan lain. Dan itu gak cuma sekali dua kali." Angel ternganga shock. Pelukannya lepas. Angga mengulas senyum pahit lalu ia ulurkan tangan menyingkirkan helai rambut yang menghalangi pandangan Angel. "Alasan Abang gak mau cepet-cepet nikah, karena Abang mau puas-puasin lirik sana-sini dulu sampai bosan. Biar pas nikah, fokus Abang cuma ke istri. Dan Abang sudah menemukan segalanya di kamu."

Kata-kata Angga sepertinya berhasil menyentuh hati Angel. Gadis itu mewek.

Tapi Angga tidak berbohong, ia serius. "Abang selalu menjadikan Daddy sebagai role model atas kesuksesan yang diraihnya, tapi gak untuk kelakuannya. Dan sekarang kamu ngerti kan, kenapa Abang gak bisa deket sama Daddy?" Angel mengangguk lemah. "Bukan karena ada kamu—adik angkat Abang, tapi..."

"Abang," Angel menghambur memeluk Angga lagi.

Angga usap punggung Angel yang kembali bergetar seraya berkata, "Kadang sesuatu yang keliatannya manis, menyimpan banyak kebohongan di dalamya. Karena itu kita perlu menciptakan batas kepercayaan, supaya gak terlalu mengeluh-eluhkan apa yang kita liat tanpa tahu rahasia di baliknya. Tapi Abang gak nyalahin kamu kok. Selama ini Abang dan Mami diam karena kami gak mau kamu terluka."

"Tapi pada akhirnya aku terluka, Abang," lirih Angel.

"Kebenaran kamu kita liat dengan apa yang disampaikan orang lain, memang gak ada bedanya... sama-sama menyakitkan. Tapi kebenaran yang kita liat dengan mata kepala kita sendiri, jauh lebih bikin plong, walaupun nyakitin," lanjut Angga. "Maka dari itu, Abang dan Mami membiarkan takdir yang memberitahu kamu, daripada mulut kita."

Angel mendongak lagi menatap Angga. "Abang pasti lebih terluka."

"Awalnya iya," timpal Angga, senyum pahitnya mengembang. "Tapi sekarang udah enggak. Buat Abang, selingkuh itu pilihan yang nantinya bakal jadi kebiasaan. Mau ditegur kayak apapun, kalo pelakunya udah ketagihan, dia bakal ngulangin terus menerus. Gak beda jauh kayak pengguna narkoba." Angel mengangguk setuju. "Sekarang kita makan ya? Abis itu mandi bareng."

"Ck!" Angel berdecak. "Yang tadi pagi kurang?"

"Kurang dong." Angga dengan iseng meremas sekilas payudara Angel.

"Kebiasaan!"

Angga cengengesan, ia usap jejak air mata Angel lalu keduanya menikmati makan malam di meja makan sambil diiringi obrolan ringan.

Angela; I'm Yours [21+]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang