Bab 13 || Ancaman

5 2 0
                                        

“Turuti perkataan saya, atau ibumu saya bunuh?”

***

Kepergian ayahnya yang kembali dinas membuat suasana keduanya menjadi canggung.

“Hm, Fa. Soal ucapan bokap gue nggak usah dipikiri, ya? Dia emang terlalu posesif sama gue, jangan dijadiin beban ucapan bokap gue,” ucap Agatha.

“Enggak, kok, justru itu amanat. Lo tenang aja, kalau ada yang sakiti lo tinggal bilang sama gue,” jawab Rafa dengan enteng.

“Gue nggak enak sama lo, gue udah banyak ngerepotin lo.” Agatha menunduk malu.

“Kayak sama siapa aja lo. Kita, 'kan teman jadi arus saling membantu,” ujar Rafa sambil menepuk bahunya.

“Terserah lo, deh, Fa.”

“Gue pamit pulang dulu, lupa kasih obat ini ke Bunda gue,” pamit Rafa sambil menunjukkan kantung plastik yang berisi beberapa obat.

“Bunda lo sakit apa?”

“Biasa asam uratnya kambuh.”

“Oh ya udah, titip salam ya sama Bunda lo! Semoga cepat sembuh.”

“Makasih, Tha.”

Agatha yang merasa perutnya keroncongan langsung beranjak dari duduk, ia memutuskan untuk pergi ke kafe yang berada di depan rumah sakit, hitung-hitung sedikit menghilangkan penat.

Ia duduk seorang diri, matanya menatap luar jendela yang banyak kendaraan yang sedang berlalu lalang. Sesekali ia memotretnya lalu mempostingnya di aplikasi instagram.

Seorang pria datang menghampirinya, Agatha terkejut bukan main. Pria itu datang lagi, pasti untuk mengancamnya lagi.

“Halo gadis manis, kita bertemu lagi,” sapa pria itu dengan jas berwarna hitam tak lupa kacamata hitam yang bertengger manis di dadanya, “Belakangan ini saya lihat kamu masih berhubungan dengan anak saya, sepertinya kau tidak akan menyerah begitu saja ya?” lanjutnya.

“Sampai kapanpun, saya akan tetap mempertahankan hubungan saya dengan anak, Om!” tegas Agatha.

“Oh silakan, tapi ... ibumu akan saya bunuh! Sekarang ibumu itu sedang koma bukan? Begitu mudah bagi saya untuk melenyapkan nyawa ibumu,” ancam Marcel dengan tatapan dinginnya.

“Om nggak usah macam-macam ya sama Mama saya!” bentak Agatha sambil menggebrak meja, hingga membuat pengunjung lain menoleh ke arahnya.

“Tenang gadis manis, saya tidak akan menyentuh ibumu jika kau mau menuruti permintaanku. Yaitu jauhi anakku dan putuskan hubungan kalian!” ucapnya sekali lagi.

Agatha menggeram kesal, di satu sisi ia masih mencintai Algi. Tetapi di sisi lain ia tidak mau Ayah dari kekasihnya ini berani menyentuh mamanya.

“Gimana? Sekali lagi saya tegaskan, turuti permintaan saya atau ibumu saya bunuh!” desisnya.

Agatha menghela napas berat, ini keputusan yang berat menurutnya. “Baiklah, jika itu yang Om mau, saya turuti. Tapi ingat! Jangan sekali-sekali Om menyentuh Mama saya, apalagi berani menyakitinya!”

“Oke, awas jika kau berani berbohong kepadaku. Siap-siap saja nyawa ibumu akan melayang di tanganku! Saya beri waktu 1 bulan untuk kau putuskan hubungan dengan anakku,” ujarnya sebelum melesat pergi dari kafe.

Agatha mengacak rambutnya, kepalanya semakin pening. Kenapa semuanya menjadi seperti ini.

Algi, maafin aku, batinnya.

***

Algi merasa sebal dengan tingkah Angel yang menurutnya semakin hari semakin manja dan selalu ingin berada di dekatnya. Dan sialnya lagi, papanya itu seperti berusaha mendekatkannya kepada Angel.

Kita Berbeda [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang