Hari ini Rafa akan melakukan kemoterapi di Singapura. Dirinya sudah meminta izin kepada sekolah dengan alasan keluarganya sedang berduka, dan izin pun diberikan selama dua minggu.
Penyakit yang selama ini menemani dirinya selama setahun mulai menggerogoti tubuhnya. Stadium yang tadinya ia alami kini semakin naik menjadi stadium 3. Yang artinya ia sudah berada di stadium akhir.
Rafa terduduk di tepi ranjang sambil memandangi sebuah figura di mana dirinya dan Agatha sedang tertawa lepas. “Gue nggak tahu, Tha. Bakal ada buat lo lagi atau nggak. Yang gue harap gue bisa terus sama lo,” gumam Rafa yang tanpa sadar menitikkan air matanya.
Ini pertama kalinya Rafa menangisi seorang wanita, dan wanita itu adalah Agatha. Ia masukkan figura itu ke dalam koper miliknya agar ia dapat terus semangat untuk sembuh dan agar selalu dapat memandangi wajah cantik gadis itu setiap hari di saat dirinya berada di Singapura.
“Rafa, ayo kita ke bandara. Udah mau take off 2 jam lagi,” ucap Vera sambil menghampiri sang putra.
“Iya, Ma.” Rafa tersenyum lalu menyeret koper miliknya ke luar kamar.
Di dalam mobil ia menatap kosong ke arah jalan. Hal itu tak luput dari penglihatan Vera, ia mengerti bahwa putranya sedang berjuang untuk hidup. Dan ditambah masalah percintaan yang sedang menghantui pikiran putranya.
Vera mengelus tangan putranya lalu berkata, “Rafa sayang, kamu harus semangat ya.”
Rafa tersentak kaget, lamunannya buyar begitu saja. “Hah? Iya, Ma.”
“Kamu pikirin apa, sih? Mama lihat dari tadi melamun terus,” tanya Vera.
“Rafa mikirin Agatha, Ma,” ungkap Rafa.
“Kenapa dipikiri?”
“Rafa nggak yakin bakal selalu ada buat dia dengan kondisi Rafa seperti ini, Ma.” Cowok itu menunduk lesu. “Rafa takut. Takut nggak ada yang bisa jagain Agatha kalau Rafa nggak ada, Ma,” lanjut Rafa.
Vera meneteskan air matanya, tak kuasa ia menahan tangisannya saat mendengar ucapan dari putranya. Begitu tulus cintanya pada Agatha, ia tak sanggup untuk berkata lagi. “Sayang, kamu nggak boleh bicara seperti itu. Pamali!” ucap Vera.
“Benar apa kata mamamu!” sahut Ibnu—Papa Rafa—yang kini sedang mengendarai mobil mereka menuju bandara.
“Kamu harus kuat! Demi Mama, Papa, Rafi, dan Agatha!” ucap Vera dengan tegas agar anaknya tak kehilangan semangat hidup.
Rafa mengangguk sambil tersenyum manis.
Mobil mereka kini sudah terparkir rapi di bandara Soekarno–Hatta. Rafa menurunkan koper miliknya lalu menyeretnya menuju pesawat yang akan mereka tumpangi.
Perlahan ia mengembuskan napas berat menatap bandara dan berharap ia bisa kembali ke tanah air.
“Ayo Rafa! Pesawatnya udah mau take off.”
“Selamat pagi para penumpang yang terhormat. Boarding untuk Maskapai Lion Air dengan nomor penerbangan 56K76 tujuan Singapura akan segera dimulai. Para penumpang dimohon untuk menuju gerbang C2 dan persiapkan paspor naik dan identifikasi Anda. Terima kasih.”
***
Setibanya di Singapura ia segera menuju rumah sakit tempat ia akan kemoterapi. Dokter dan suster mulai mengecek kondisi tubuhnya dan dokter mengatakan bahwa besok ia akan melakukan kemoterapi.
“Rafa, ingat! Kamu nggak boleh berpikiran macam-macam dulu. Ingat Allah, Nak!” ucap Ibnu.
“Allah always with you!” ucap Vera.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kita Berbeda [END]
Teen FictionApa yang terjadi jika mencintai terhalang oleh sebuah perbedaan? Kisah cinta yang begitu rumit dialami oleh gadis SMA bernama Agatha Almasyifa Morgan. Hubungannya terus diuji dan dihantam banyaknya perbedaan, membuat dirinya sedikit putus asa. Ras...
![Kita Berbeda [END]](https://img.wattpad.com/cover/367762899-64-k108957.jpg)