Kedua alis Seolhwa menyatu sekarang. Sebenarnya ia sangat terkejut dengan aksi Jungkook padanya. Tidak sopan.
"Apa kau pikir sopan menekanku seperti ini?" Seolhwa menyentuh hingga mendorong dada Jungkook, namun pria itu tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya keras dan sangat kuat. "Menjauh dariku, Jungkook!"
Raut wajah Jungkook begitu datar dan dingin, ia menatap Seolhwa yang terlihat kesal padanya. Entah sejak kapan ia berani menyebut nama lengkap si gadis, bahkan tidak seperti biasanya.
"Telingamu masih berfungsi, kan? Lepas atau akan ku adukan kau pada Mingyu?" Sekarang Seolhwa mengancam. Namun itu tak membuat Jungkook takut sama sekali, ia masih mengunci pergerakan si gadis. "Jungkook!"
Sampai akhirnya si Jeon melepaskan cengkramannya, kemudian membuka kunci pintu. Tanpa basa-basi dan perasaan marah Seolhwa keluar dari mobil tersebut. Berjalan dengan isi kepala yang berkecamuk.
Seolhwa melangkah cepat tanpa melirik sedikit pun ke belakang. Ia harap Jungkook tak mengikutinya. Tak sadar jika langkahnya membawa ke arah terminal, tanpa berpikir panjang Seolhwa masuk dan membayar. Ia duduk di kursi kosong seraya berpikir banyak.
Apa yang Jungkook lakukan padanya tadi? Apa Jungkook melakukannya karena marah? Atau karena dirinya tidak membalas satu pun? Lekas Seolhwa menggelengkan kepalanya singkat. Ia membuka ponsel dan melihat isi pesan masuk, Mingyu baru menghubunginya.
Isi pesan Mingyu hampir membuat rahang Seolhwa jatuh. Mingyu mengabarkan bahwa ia sudah berada di depan gedung tempat si gadis bekerja. Mingyu dan Jungkook sudah bentrok. Tidak, bukan bentrok, tetapi itu artinya Jungkook sudah berbohong pada gadis itu.
•••
Semenjak kejadian hari itu, Seolhwa sampai berani meminta pada Mingyu untuk tidak lagi menyuruh Jungkook untuk menjadi pengawal pribadinya. Seolhwa meyakinkan Mingyu bahwa dirinya bisa menjaga diri.
Mingyu tentu tak setuju, ia sampai meminta kejelasan tentang apa hal yang membuat si gadis meminta demikian. Tak mungkin Seolhwa mengatakan yang sebenarnya, karena Seolhwa hanya mulai merasa risi dengan si Jeon itu. Apalagi setelah mendapat pesan tak pantas dari Ibunya untuk dirinya.
Seolhwa hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri dari orang yang berani menyakitinya, baik mental maupun fisik. Jadi, wajar saja, kan?
Jungkook juga sudah tak mengiriminya pesan. Seolhwa berharap pria itu jera. Kemarin-kemarin ia memang terlalu dekat, kesannya ia seperti memberi harapan besar pada Jungkook. Lagipula semakin lama tingkah Jungkook semakin aneh dirasa.
Seolhwa melangkah masuk ke dalam gedung. Ia baru saja menyelesaikan jam istirahatnya bersama Hyejin. Namun baru saja sampai ruangan dan ingin duduk, seketika telepon kantor berdering. Taehyung memanggilnya.
"Ya, Sir?" gagang telepon sudah menyentuh sebelah telinga Seolhwa. Nadanya terdengar ramah menyambut Taehyung.
"Ke ruanganku sekarang." Begitu suara baritonnya.
"Laporan kemarin masih aku revisi, kemungkinan--"
"Ke ruanganku sekarang. Aku tidak berbicara tentang laporan, Nona Min." Nada suara Taehyung terdengar menekan. Membuat Seolhwa menelan ludahnya singkat. "Baik, Sir."
Dengan cepat gadis itu menutup telepon dan berjalan sesuai dengan perintah atasannya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Seolhwa harap akan baik-baik saja.
Diketuknya pintu ruangan si Kim tampan itu. Seolhwa masuk dengan perasaan gugup, walau pemandangan pria di depannya sangat mempesona. Si Kim itu melirik Seolhwa yang sudah berdiri di depan mejanya. Cuaca memang sangat panas, namun raut wajah Taehyung terlihat sangat dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Yore [M]
Misteri / Thriller[Mature] Seolhwa cukup sembrono dalam menggunakan masa remajanya. Jika ia tak mengikuti saran temannya untuk mengunduh aplikasi dating itu, mungkin saat ini hidupnya akan jauh lebih tenang. ❝Kalau berciuman saja aku tidak mau, rasanya tanggung. Tapi...
![Yore [M]](https://img.wattpad.com/cover/363250205-64-k931987.jpg)