Selama tiga tahun terakhir, Cheryl dan Leo menjalani hubungan jarak jauh antar negara. Namun, ketika akhirnya Cheryl pulang ke negaranya, hal pertama yang menyambutnya justru sebuah paper bag dengan kartu selipan yang bertuliskan, 'For Kak Leo matah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Imut dan manis, dua kata yang terasa paling tepat untuk menggambarkan Astrid di mata Cheryl. Well Cheryl tak bisa memungkiri bahwa ia merasa cukup terganggu oleh gadis yang beberapa waktu lalu tampak begitu akrab dengan tunangannya. Ejek saja Cheryl sesuka kalian, karena belakangan ini ia memang sering melakukan stalking dan mengikuti perkembangan aktivitas Astrid di Instagram... itupun menggunakan akun palsu.
Cheryl memperhatikan refleksi dirinya di cermin full-body, membandingkan bentuk tubuh dan garis wajahnya dengan Astrid yang sangat berbeda. Astrid memiliki tubuh kecil dan pendek, sementara Cheryl memiliki postur tinggi dan ramping. Mata dan pipi bulat Astrid memberinya penampilan yang imut dan awet muda, sementara Cheryl memiliki rahang yang tegas dan mata yang tajam, menciptakan penampilan yang khas, mungkin terkesan sebagai sosok antagonis yang judes.
Cheryl menghela napas lesu merasa insecure, tentu saja tipikal gadis berpenampilan menggemaskan seperti Astrid adalah idaman para pria.
"Mau berburu gak?"
Tidak ada angin ataupun hujan, Noah tiba-tiba muncul sambil merangkul pundak Cheryl dari belakang.
Buru-buru Cheryl menutup layar ponselnya yang masih menampilkan foto Astrid. "Eh? berburu? bo--boleh, bareng siapa aja emangnya?" Cheryl menjawab gugup.
Noah mengernyit heran, matanya sekilas menangkap tampilan layar ponsel Cheryl. Cowok itu meraih tangan Cheryl yang memegang ponsel untuk melihat lebih jelas.
"Lagi ngapain liatin foto orang?" tanya Noah tidak mengerti, hingga seperkian detik kemudian teringat. "Eh loh? gue kayak pernah lihat ini orang? dimana yah?"
Cheryl melepaskan diri dari rangkulan Noah, kemudian memasang wajah masam. "Astrid!"
"Oiya itulah," ujar Noah tidak perduli.
"Menurut kamu dia manis gak?" Cheryl berbasa-basi sembari memainkan jemarinya.
"Huh?" Noah menggaruk tengkuknya kian kebingungan, sejujurnya Noah bahkan sudah hampir lupa wajah Astrid. "Iya.. kayaknya?"
Lagi, Cheryl menghela napas. "Orang yang suka melukis itu keren yah? kok aku dulu gak kepikiran buat belajar melukis aja yah kayak Astrid?"
"Dengan tololnya malah hobi berkuda dan main olahraga gak berguna kayak menembak, cowo kan gak terlalu tertarik sama cewe yang begituan.." Cheryl merutuk lirih.
Noah tertegun, peka terhadap beban pikiran Cheryl. Rupanya Astrid begitu mengusiknya, yah Noah tidak akan heran bagaimana segala sesuatu di sekitar Leo selalu mempengaruhi Cheryl.
"Lo tau? Buat gue pribadi gue gak terlalu suka sama lukisan, orang yang bisa diam berjam-jam natap lukisan itu aneh, padahal ditatap sepuluh jam pun lukisannya ga bakal berubah. Berkuda justru bisa bikin gue melihat pemandangan indah yang lebih banyak," Noah berucap lalu terdiam sesaat untuk mengamati perkembangan ekspresi Cheryl.