Tiga Belas

366 31 30
                                        

Cheryl duduk sendirian di meja makan usai mengusir Noah dan Leo dari vila. Kesunyian vila membuat pikirannya berkelana, menelusuri setiap kejadian yang baru saja terjadi. Pandangannya kosong, terarah pada sebuah paper bag yang ditinggalkan Leo.

Itu adalah barang yang ditawarkan padanya ketika Leo baru tiba di vila tadi. Cheryl hampir melupakannya karena perhatiannya teralihkan oleh wajah penuh lebam Leo. Ah lebam itu! ketika mengingatnya lagi, emosi Cheryl kembali naik ke ubun-ubun.

Cheryl bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekati paper bag tersebut dan dengan perlahan mengeluarkan isinya. Sebuah box sepatu besar muncul dari dalam tas. Box itu tampak mewah dan familiar. Jantung Cheryl berdegup lebih cepat ketika ia membuka box tersebut.

Sepasang sepatu berkuda yang elegan menyambutnya. Sepatu itu begitu indah, dengan merek Parlanti yang selalu diidamkannya. Cheryl menatapnya dengan perasaan campur aduk, dan tanpa disadari, matanya mulai berkaca-kaca. Ternyata Leo mengingatnya.

"Dia ingat aku suka Parlanti.."

Masih baru kemarin, Cheryl mengeluhkan sepatu berkudanya yang lecet pada Leo melalui telpon. Cheryl ingat betapa kesalnya ia karena sangat sensitif jika sudah menyangkut perlengkapan berkudanya.

Hati Cheryl tercubit. Rasa bersalah memenuhi perasaannya, hanya gara-gara dirinya tunangannya harus dipukuli oleh sahabatnya sendiri.

Matanya kini tertuju pada makanan yang sudah tertata rapi di atas meja makan. Makanan yang kini pasti sudah dingin. Padahal Noah menyiapkannya dengan sepenuh hati, berharap bisa menciptakan momen hangat diantara mereka. Tapi semuanya berakhir dengan kekacauan. Air mata Cheryl meluncur bebas, membasahi pipinya.

"Hiks.." isaknya, menggenggam erat sepatu yang masih berada di tangannya.

Kenapa harus begini? Di mana letak salahnya ini semua? Apakah ia adalah sumber masalahnya? Cheryl benar-benar tidak mengerti dan merasa terjebak dalam situasi yang semakin rumit. Bagaimana ia harus memperbaiki semua ini? Pikiran-pikiran itu terus berputar di kepalanya, menciptakan kebingungan yang semakin mendalam.

••••••

Keluar dari kelas usai kuliah umum, Leo menyampirkan ranselnya di pundak sebelah kanan sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Leo memeriksa dengan cermat tiap notifikasi yang ada, namun tidak satupun yang memberinya kabar tentang Cheryl. Napasnya terhela pelan, padahal sehari sudah berlalu. Apa kali ini Cheryl benar-benar sangat marah padanya dan Noah?

Baru saja Leo hendak turun ke lantai bawah, namun pandangannya tertuju pada punggung seorang gadis yang tampak familiar. Saat mendekat, dia menyadari bahwa gadis itu adalah tunangannya, Cheryl.

Apa yang sedang dilakukan Cheryl berdiri sendirian di sana? maksud Leo, di fakultasnya? disaat Cheryl bahkan bukan mahasiswi disini.

Angin lembut berhembus, memainkan helai-helai rambut Cheryl dan menciptakan pemandangan yang menawan. Keberadaan Cheryl tidak bisa diabaikan; kecantikannya membuatnya tampak begitu mencolok. Wajahnya yang anggun, ditambah dengan sorot mata yang tajam, menarik perhatian setiap orang yang lewat.

"Cheryl?"

Cheryl sontak berbalik. "Oh hey," sapanya pada Leo agak canggung.

"Ngapain disini?"

Gadis itu terdiam, sepertinya ia pun kebingungan. Ekspresinya menunjukkan seolah entah bagaimana ia tiba ditempat ini, setidaknya seperti itulah yang Leo tangkap.

"Lo kesini bareng siapa?" Leo lanjut bertanya, kepalanya celingak-celinguk mencari Noah. Mereka pasti sudah baikan kan? pikirnya.

"Aku sendiri."

Ah, gawat. Firasat Leo tidak baik. Pasalnya antara Noah dan Cheryl, mereka tidak pernah bertengkar dalam jangka waktu panjang sampai seharian. Kepribadian Cheryl mungkin agak sensitif, tapi Leo tahu betul Cheryl tidak akan bisa tahan untuk diam-diaman terlalu lama baik itu padanya maupun pada Noah. Seperti sebelum-sebelumnya dan hari ini, Cheryl selalu mengambil langkah terlebih dulu untuk menghampirinya.

Di tengah-tengah keterkejutan Leo, Astrid yang juga baru keluar dari kelas kuliah umum langsung berkontak mata dengan Cheryl.

Ouch! terlanjur bertatapan, Astrid membatin.

Astrid tersenyum simpul menyapa, ia berusaha setulus mungkin walaupun sebenarnya juga merasa terusik.

Mata Cheryl tak lepas dari Astrid, tanpa ada niat sedikitpun berpura-pura ramah. Sorot matanya dingin, sedikit terkesan merendahkan.

Cheryl memutus kontak matanya. "Leo, We need to talk."

••••••

Atas permintaan Cheryl, kini Cheryl dan Leo duduk berdua di kafetaria fakultas kedokteran. Leo dapat merasakan dengan jelas tatapan anak-anak kampus yang mengarah padanya dan Cheryl. Suara bisikan-bisikan mulai terdengar di sekeliling mereka, membuat suasana semakin tidak nyaman.

"Mereka tunangan dari SMA kabarnya."

"Itukan yang namanya Cheryl, anaknya profesor Estiawan?"

"Kemarin Leo berantem gara-gara itu cewek?"

"Liat ceweknya Leo gak? cakep banget gila."

"Badan ceweknya kek model."

"Woah tas nya Birkin Faubourg."

"Damn, cuman tas tapi harganya sampe 4 miliar."

Leo kan bisa dengar semuanya, dasar mereka semua. Leo menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, mencoba mengabaikannya. Namun, bisikan-bisikan itu tetap mengganggu pikirannya, membuat suasana di antara mereka semakin canggung.

"Thanks for the Parlanti riding boots yesterday, I love them," Cheryl membuka suara duluan.

Leo hanya merespon dengan mengangguk, tidak yakin bagaimana harus menanggapinya.

"Maaf," kata Cheryl tiba-tiba, suaranya terdengar tulus dan penuh penyesalan.

Leo menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti. "Buat apa?"

"Aku minta maaf buat Noah yang udah mukulin kamu."

Cheryl tahu Noah tidak pernah meminta maaf pada Leo atas perbuatannya, dan pastinya tidak akan pernah mau meminta maaf. Karena itu Cheryl merasa perlu bertanggung jawab atas perilaku Noah, untuk menebus kesalahan sahabatnya.

"Kamu juga tau, Noah hampir gak pernah marah ke kita. Itu karena dia peduli sama aku, makanya dia emang agak berlebihan. Aku harap kamu gak terlalu kecewa sama Noah, tapi aku janji bakal berusaha tebus kesalahannya ke kamu. Dia bukan orang jahat kok," Cheryl menjelaskan, matanya memohon pengertian dari Leo.

Sebenarnya, Leo pun tidak pernah mengharapkan permintaan maaf dari Noah. Tapi Cheryl yang seperti ini justru tampak seperti seorang ibu yang membela anaknya. Iri? Entahlah. Leo berdecih pelan, sangat pelan hingga hampir tanpa suara.

"Gue gak apa-apa," jawab Leo, suaranya tenang dan terkendali.

"Kamu gak marah kan sama Noah?" Cheryl bertanya penuh harap, matanya menatap Leo dengan cemas.

"Gue gak marah."

Cheryl bernapas lega mendengarnya, syukurlah.

"Lo sendiri gimana?" Leo bertanya balik.

"Apanya?"

"Lo sama Noah udah baikan?" Leo memperjelas.

Raut wajah Cheryl seketika masam. Yah sesuai dugaan Leo, keduanya belum berbaikan. Aneh bukan? Cheryl sampai menemui Leo ke fakultasnya karena mengkhawatirkan Noah bahkan hingga mewakilinya meminta maaf, padahal kemarin gadis itu dengan jelas mengatakan tidak akan peduli lagi. Sesayang itu Cheryl pada Noah.

Make You Feel My LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang