Selama tiga tahun terakhir, Cheryl dan Leo menjalani hubungan jarak jauh antar negara. Namun, ketika akhirnya Cheryl pulang ke negaranya, hal pertama yang menyambutnya justru sebuah paper bag dengan kartu selipan yang bertuliskan, 'For Kak Leo matah...
Noah masuk ke dalam mobilnya dengan langkah yang berat. Setelah duduk di kursi kemudi, ia hanya terdiam, membiarkan keheningan mobil menyelimuti dirinya. Tatapannya kosong lurus ke arah ponselnya yang tadi ketinggalan di kamar Leo.
Pikiran Noah berkecamuk aneh, antara terkejut dan gelisah. Bayangan Leo dan Cheryl yang bercumbu panas tadi masih terus berputar-putar di kepalanya. Noah tidak bisa menghindari perasaan aneh yang muncul, meskipun ia mencoba keras untuk menolaknya.
Noah menggelengkan kepalanya dengan frustasi, mencoba mengusir bayangan-bayangan itu dari pikirannya. Apa yang salah dengan dirinya sebenarnya? Mengapa ia begitu terkejut menyaksikan keintiman antara Leo dan Cheryl? Mereka berdua sudah bertunangan, dan rencana pernikahannya sudah di depan mata. Itu seharusnya menjadi hal yang wajar, bukan? Namun, mengapa Noah masih saja begitu terganggu oleh adegan tadi?
Dengan napas yang dalam, Noah mencoba menenangkan dirinya sendiri. Memaksakan pikirannya untuk kembali ke jalur yang rasional, meremukkan kegelisahannya dengan fakta-fakta yang sudah dia ketahui. Leo dan Cheryl adalah pasangan yang serasi, dan Noah adalah sahabat terbaik mereka. Apa pun yang terjadi di antara mereka, Noah tahu bahwa dia harus mendukung mereka sepenuhnya.
Lagipula dari awal Noah tau Cheryl ingin berduaan dengan Leo malam ini. Yang perlu Noah lakukan hanya turut senang dan menonton kebahagiaan Cheryl dari sudut seperti ini. Seperti biasanya.
****
Cheryl terbangun dari tidurnya dengan senyum yang terukir di wajah. Ketika membuka mata, yang pertama menyambutnya adalah wajah damai Leo yang masih tertidur di sampingnya. Betapa indahnya, pikir Cheryl.
Pipi Cheryl bersemu merah ketika mengingat malam penuh gairah yang mereka habiskan bersama. Setiap sentuhan, setiap ciuman, dan bisikan Leo masih terasa begitu nyata. Hatinya berdebar-debar mengingat betapa intimnya mereka.
Perlahan-lahan, Cheryl bergeser sedikit agar tidak membangunkan Leo. Dia menatap wajah pria itu, memperhatikan setiap detail mulai garis rahangnya yang tegas, rambut hitam tebalnya yang sedikit berantakan, dan napasnya yang tenang.
Cheryl mengambil ponselnya yang terletak di nakas samping kasur. Pukul 08.00, masih terlalu pagi rupanya. Padahal Cheryl pikir akan bangun kesiangan hari ini, mengingat mereka baru tertidur sekitar jam 3 pagi.
Melihat adanya notifikasi dari Instagram yang belum ia baca sejak kemarin malam, alis Cheryl mengernyit heran. Ada permintaan mengikuti dari akun Astrid. Tentu saja dia kaget. Baru saja seminggu yang lalu gadis ini menunjukkan ketertarikan pada tunangannya secara terang-terangan, dan sekarang malah tiba-tiba mengirimkan permintaan mengikuti? Ada apa ini, pikir Cheryl dengan rasa curiga.
Setelah beberapa detik merenung, Cheryl memutuskan untuk menerima dan mengikuti balik akun Instagram Astrid. Senyum licik terukir di wajah Cheryl. Dia mengarahkan kamera ponselnya ke wajah Leo yang masih tertidur, lalu memotret dengan tangannya yang lembut memegang pipi cowok itu. Foto itu terasa begitu manis dan intim, sebuah pemandangan yang pasti akan membuat Astrid merasa tidak nyaman.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.