Sembilan

517 39 6
                                        

Hii sebelum mulai membaca jangan lupa vote dan komen yang banyakkkk biar aku makin semangat update, kalau perlu ramein tiap paragrafnya yaa. Terakhir, klik share buat ajak temen kalian agar ikut baca cerita ini.

Selamat membaca-!!

******

PLAK!!

Tamparan itu terdengar begitu nyaring hingga siapapun yang mendengarnya akan ikut merasakan ngilu di pipi. Leo, yang menjadi objek tamparan tersebut, hanya terdiam tanpa melawan ayahnya. Luka di sudut bibirnya yang sore hari tadi sobek, sepertinya terbuka kembali. Darah segar mengalir perlahan, tetapi Leo tidak mengeluh sedikit pun.

"Ayah kira kamu udah berubah sejak lulus SMA, tapi apa-apaan ini?" Ayahnya menatap Leo dengan kekecewaan mendalam. "Kamu malah berantem lagi dan bahkan gak tau tunanganmu sendiri dirawat rumah sakit."

"Kamu masih aja berandalan ternyata, lihat muka kamu yang bonyok itu. Mau jadi dokter macam apa kamu nantinya?"

Leo mengepalkan tangannya kuat-kuat, mencoba menahan diri dari segala emosi yang berkecamuk. "Leo minta maaf."

Ayah Leo menghela napas panjang, memijit pelipisnya yang terasa pening dengan kelakuan anak tunggalnya. Pulang dari perjalanan dinas, bukannya bisa beristirahat, ia malah disambut dengan kabar yang mengecewakan ini. "Sekarang ini masa-masa penting bagi kita. Sebentar lagi Professor Estiawan akan pensiun mengajar dan berencana fokus menjadi dokter. Rumah sakit kita butuh dia. Posisi kita saat ini sebagai calon besannya mungkin lebih menguntungkan dari yang lain. Tapi sedikit aja dia tersinggung, selesai sudah. Kamu taukan tawaran kerjanya gak main-main?"

Tentu saja Leo tahu. Hampir setiap hari ia melihat para petinggi terkenal di dunia kesehatan bergiliran datang ke kampus untuk mengunjungi Professor Estiawan. Posisi sebagai calon menantu sang profesor merupakan keuntungan besar bagi karier dan masa depan rumah sakit keluarganya.

"Kamu juga gak lupa kan Ayah kandung Cheryl siapa? Dia mungkin gak punya impact buat kita di dunia kesehatan, tapi sebaiknya hati-hati. Obat baru yang bakal kita keluarin harus sukses di pasaran, Ayah gak mau denger nantinya ada masalah pemboikotan atau apalah. Jangan buat masalah lagi, kamu paham kan maksud Ayah?"

"Paham, Yah."

Ayah Leo maju kemudian menepuk pundak putranya. Emosinya sepertinya kini telah lumayan mereda. "Jaga Cheryl baik-baik, Ayah percaya dia yang terbaik buat kamu. Semua hasil kerja keras ini juga nantinya buat kamu semua, jangan buat semuanya sia-sia, Nak."

••••••

Leo menatap gadis yang tertidur di ranjang pasien itu. Cheryl tampak begitu lemah dan tak berdaya, jauh dari sosok dominan yang selalu ia kenal. Wajahnya terlihat damai, sangat berbeda dari saat dia membuka mata. Ketika terjaga, tatapannya selalu begitu tajam dan dingin, seolah siap menerkam siapa saja yang berani mengganggunya.

Padahal malam sebelumnya, Cheryl masih dengan seenaknya merayu dan mengendalikan tubuhnya. Tindakan Cheryl yang nakal dan penuh godaan itu masih segar dalam ingatannya. Tapi apa-apaan ini? Sosoknya yang seperti ini tidak cocok untuk Cheryl. Lebih baik jika Cheryl merengek meminta barang-barang mahal dan meminta ditemani berfoya-foya seperti biasanya.

Dasar merepotkan, pikir Leo.

'Saya cuman berharap Kak Leo hidup sesuai jalan yang Kakak pilih sendiri.'

Kata-kata Astrid kembali terngiang di benaknya, betapa naifnya harapan itu. Leo mana bisa begitu? Bahkan ketika Cheryl tampak begitu lemah dan tak berdaya seperti ini, hanya Cheryl lah yang memiliki kendali penuh atas Leo. Seperti semua yang diucapkan Ayah Leo sebelumnya, sebesar itulah pengaruh Cheryl dalam hidupnya.

Make You Feel My LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang