Tujuh Belas

345 29 4
                                        

Hii seperti biasa sebelum mulai membaca jangan lupa vote dan komen yang banyakkkk biar aku makin semangat update, kalau perlu ramein tiap paragrafnya yaa. Terakhir, klik share buat ajak temen kalian agar ikut baca cerita ini.

Selamat membaca-!!

••••••

"Turun!"

Cheryl menatap Leo dengan pandangan tidak percaya, kemarahan dan kekecewaan mulai merayap ke dalam dirinya. "Seriously?!"

"TURUN!" Suara Leo meninggi, menunjukkan bahwa dia tidak lagi memiliki kesabaran untuk berdiskusi lebih lanjut.

Cheryl merasa seakan-akan dunia di sekitarnya runtuh. Ia menatap Leo dengan tatapan terluka, tapi kemudian tanpa sepatah kata pun lagi, ia membuka pintu dan turun dari mobil, membanting pintu dengan keras.

Mobil Leo melaju pergi dengan cepat, meninggalkan Cheryl sendirian di tepi jalan. Cheryl menatap kepergian mobil itu, perasaan kecewa dan marah menyelimuti dirinya. "Cih!"

Sekarang, bagaimana Cheryl akan pulang? Ugh, yang paling menyebalkan dari semua ini adalah Cheryl diturunkan di tempat entah-berantah yang tidak jelas.

Cheryl melihat sekeliling, matanya berhenti ketika menangkap sebuah bar sederhana dengan tampilan yang klasik dan menarik, tempat yang menjadi favorit bagi mahasiswa untuk berkumpul.

Eksterior bangunan ini didominasi oleh dinding kayu yang sudah mulai pudar, memberikan kesan vintage namun tetap terawat. Di atas pintu masuk, terdapat papan nama dengan lampu neon berwarna biru terang yang berkelap-kelip, menambah daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Jendela-jendela besar memungkinkan orang yang lewat untuk melihat suasana di dalam bar.

Di bagian luar, terdapat beberapa kursi besi dan meja kayu kecil yang sering digunakan oleh pengunjung untuk duduk sambil menikmati minuman atau bercengkerama. Lampu jalan yang menyala di sekitar bar menambah kesan hangat dan ramah.

Cheryl melangkah masuk ke dalam, bar itu penuh sesak dengan orang-orang yang mengobrol dan menikmati malam mereka. Tanpa banyak berpikir, Cheryl langsung menuju ke toilet umum yang terletak di sudut yang sedikit tersembunyi, memberikan sedikit privasi dari hiruk-pikuk bar. Cheryl membuka pintu toilet dan masuk.

Cheryl menatap wajahnya dalam pantulan cermin wastafel, ia menarik napas dalam-dalam kemudian dihembuskan. Ia mencoba merapikan rambutnya, berharap bisa menenangkan diri dari amukan emosi yang masih menggelegak dalam dadanya.

Cheryl membuka tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Jemarinya bergerak cepat di atas layar, mencoba menghubungi satu-satunya orang yang bisa ia pikirkan saat ini.

Cheryl : Hey, wru?

Noah : Masih di bar yang gue bilang tadi.
Noah : Kenapa?

"Ah sialan, baunya masih nempel biarpun gue udah ganti baju."

Cheryl sontak melirik melalui pantulan cermin kala mendengar suara makian barusan yang berasal dari balik punggungnya.

"Noah bangsat. Gue kalau ingat dia pelit, kesel lagi gue anjing. Dia pikir gue pengemis apa?!"

Suara itu jelas milik Sandy, kakak tingkat Noah, yang beberapa saat lalu dibantu Noah dengan meminjamkan baju karena baju Sandy kotor ketumpahan minuman. Cheryl menajamkan pendengarannya, berusaha menangkap setiap kata yang diucapkan Sandy, yang kini tampak dalam panggilan telepon dengan seseorang.

"Loh? bukannya dia yang ngasih lo baju? harusnya baju mahal tuh."

"Cih, lo jangan ketipu sama tampang baiknya. Perkara Ralph Laurent doang dia pelit, padahal gue pikir dia anak orang kaya. Kalau bukan karena anak-anak cewek yang gak mau ikut nongkrong kalau gak ada si Noah, gak sudi gue ngajak dia."

Make You Feel My LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang