Hii seperti biasa sebelum mulai membaca jangan lupa vote dan komen yang banyakkkk biar aku makin semangat update, kalau perlu ramein tiap paragrafnya yaa. Terakhir, klik share buat ajak temen kalian agar ikut baca cerita ini.
Selamat membaca-!!
••••••
Noah setengah membungkuk ke dalam mobil, berusaha mencapai salah satu paper bag yang tergeletak di jok belakang. Setelah meraihnya, dia keluar dan menyerahkannya kepada senior cowok di depannya, Sandy. "Pake ini aja, Kak."
Sandy membuka paper bag tersebut dan menarik sebagian isinya keluar. Matanya membesar terkejut saat melihat satu set pakaian lengkap dari Ralph Lauren, pakaian itu jelas terlihat masih baru dan mewah.
"Eh, sorry bukan yang ini," Noah buru-buru merampas kembali paper bag itu dengan gerakan cepat. Dia sendiri terlihat kaget dengan apa yang baru saja terjadi.
"Loh? kenapa? gue suka yang itu kok," kata Sandy dengan nada berharap.
Noah tersenyum sopan. "Sorry Kak, yang itu gak bisa."
Noah memasukkan kembali paper bag itu ke dalam mobilnya, dan mengambil paper bag yang lain. Dengan suara yang hampir tidak terdengar, dia menggerutu, "Gak apa-apa mata kau!"
Isi paper bag itu adalah pakaian yang pernah diberikan Cheryl ketika Noah basah kehujanan. Noah sendiri sangat menjaga pakaian itu dan bahkan jarang memakainya, mana bisa diberikan ke sembarang orang.
"Lo ngomong apa?"
"Oh bukan apa-apa," kata Noah berpura-pura. Dia kemudian menyerahkan paper bag lain yang baru saja diambilnya. "Ini, harusnya yang ini."
Sandy membuka paper bag yang baru diberikan dan memeriksa isinya. Meski pakaian di dalamnya terlihat bagus, tampaknya dia tidak begitu puas. "Kayaknya gue lebih cocok sama yang sebelumnya."
Noah menghela napas berat, terlihat kehilangan kesabaran. Sorot matanya yang tadinya hangat berubah dingin dan tajam. "Kan saya udah bilang yang itu gak bisa," tekan Noah dengan suara rendah yang terasa mencekam, suasana tiba-tiba menjadi tegang.
"Oh jadi lo pelit nih ceritanya?"
Noah bergeming, wajahnya semakin gelap dan suram, membuat Sandy akhirnya tersadar akan perubahan atmosfer di sekitar.
Sandy menelan salivanya dengan gugup, merasa terintimidasi oleh sikap Noah yang tiba-tiba berubah. "Ya--yaudah, ini aja.."
Namun, hanya dalam sekejap, ekspresi Noah berubah cerah kembali. Senyumnya kembali ramah, seakan-akan kejadian tadi hanya bayangan belaka. "Kalau gitu, silakan ganti baju, Kak. Malam ini udaranya dingin, nanti bisa masuk angin kalau pakai baju basah begitu," ujarnya dengan nada perhatian.
Apa-apaan ekspresi itu?!
Ekspresi yang terkesan merendahkan tadi, mungkinkah Sandy hanya salah lihat? Selama bertahun-tahun mengenal Noah sebagai juniornya, Sandy selalu melihat Noah sebagai orang yang kelewat sopan dan ramah.
Apakah Sandy tadi baru saja merasa terintimidasi oleh adik tingkatnya yang selama ini dianggapnya remeh? Di pikir-pikir ternyata bikin kesal juga.
Sandy tertawa kikuk, ia meninju keras dada Noah dengan gaya sok akrab. "Hahah! Thanks ya, buat baju gantinya,"
"Santai aja kak."
Ya benar, Sandy pasti salah lihat. Jika ada manusia yang sangat penurut dan tidak pernah marah, semua orang tahu itu Noah.
"Oiya, tagihan tadi udah lo bayar belum?" tanya Sandy.
"Tagihan?"
"Tagihan makan di dalam tadi, katanya cuma 10 jutaan doang deh," ujar Sandy enteng, seolah jumlah itu bukan masalah besar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Make You Feel My Love
RomantikSelama tiga tahun terakhir, Cheryl dan Leo menjalani hubungan jarak jauh antar negara. Namun, ketika akhirnya Cheryl pulang ke negaranya, hal pertama yang menyambutnya justru sebuah paper bag dengan kartu selipan yang bertuliskan, 'For Kak Leo matah...
