Delapan

497 36 7
                                        

Setelah mengumpulkan tugas kelompok, Leo dan Astrid memutuskan untuk bersantai sejenak di kantin fakultas yang berkonsep outdoor. Dengan secangkir kopi hangat di tangan, keduanya duduk di bawah payung besar yang melindungi mereka dari sisa-sisa hujan. Langit yang sebelumnya gelap kini mulai cerah, menandakan hujan telah reda. Sambil menyeruput kopi, mereka menikmati momen tenang ini. Udara segar dan aroma tanah basah memberikan suasana yang menenangkan. Di sekitar mereka, tetesan air masih menempel di dedaunan dan kursi, memantulkan cahaya matahari yang mulai muncul.

"Thanks buat sebulan ini," Leo tiba-tiba membuka suara di tengah keheningan.

"Iya, Kak," cicit Astrid. Entah mengapa, mendengarnya langsung dari Leo terasa canggung dan membuatnya sedikit gugup. Tatapan matanya terfokus pada cangkir kopi di hadapannya, berusaha menyembunyikan perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya. "Saya juga mau terimakasih udah di selamatin dari om om di lampu merah tadi."

Leo hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Habis semester ini, gue bakal fokus skripsi. Lo juga bakal KKN, kan?"

"Iya," jawab Astrid dengan nada sedih. Bagi Astrid, ini seperti ucapan perpisahan. Sebulan terakhir ini mereka sering bertemu akibat tugas kelompok itu, dan sekarang semuanya akan berubah.

"Good luck," ucap Leo tulus sambil menatap mata Astrid.

Astrid menggenggam erat cangkir kopinya. "Kak Leo juga."

Mereka duduk dalam keheningan sejenak, jauh di dalam lubuk hatinya, Astrid sejujurnya berharap ini masih bukan akhir dari semuanya.

Dari kejauhan, Astrid melihat seseorang dengan perawakan tinggi besar layaknya gapura kabupaten yang tidak asing sedang berjalan mantap ke arah posisinya dan Leo saat ini. Bukankah itu Noah? Tapi mengapa dia ada di kantin fakultas kedokteran?

Tak hanya Astrid yang memperhatikan, kedatangan Noah mengundang lirikan dari seluruh orang di sekitarnya karena memang saking mencoloknya pria ini. Namun ada yang berbeda dari Noah hari ini dibandingkan dengan Noah yang dikenal orang-orang kampus. Ekspresi Noah sekarang terlihat aneh, matanya yang biasanya tajam namun hangat kini terlihat menakutkan, alisnya tertekuk, rahangnya mengeras, dan urat-urat di dahinya tercetak jelas. Apakah itu ekspresi marah?

Astrid masih sibuk berkutat dengan isi kepalanya sendiri hingga ketika tersadar Noah sudah melayangkan pukulan keras ke wajah Leo.

"Bangsat lo!" Noah mengumpat.

Leo terjatuh dari kursinya saking kerasnya pukulan itu. Astrid berteriak kaget begitu juga seluruh orang-orang yang memperhatikan. Keadaan sekitar mulai riuh dan heboh, orang-orang mendekat ke pusat kejadian.

Noah maju, tidak membiarkan Leo bangun dari posisinya. Noah menarik kerah kemeja Leo, kemudian sekali lagi melayangkan tinjunya.

"Sialan lo, anjing!" Noah melancarkan pukulannya berkali-kali dengan perasaan murka yang memuncak.

"Pisahin mereka!!" Astrid berteriak cepat kepada orang-orang di sekeliling. "Tunggu apalagi?! Ada orang yang bisa mati!"

Barulah kemudian para pria di sekitar maju bertindak, menarik Noah menjauh. Sangat sulit bahkan ketika empat pria sudah memegangi Noah. Tidak heran, melihat besarnya postur tubuh Noah dan kekuatan yang ia keluarkan.

"Lepasin gue! Lepasin! Minggir lo semua, anjing!" Noah berontak. "Gue gak bakal biarin ini aja, Leo! Gak bakal sampai lo sujud minta maaf ke Cheryl! Lo bakal mati di tangan gue, sialan!"

Astrid menghampiri Leo yang masih terbaring di tanah, membantu pria itu bangun. Para pria yang menyeret Noah menjauh, membawa Noah ke tempat yang tak terlihat dari mata Leo dan Astrid. Astrid sudah tidak peduli, kini keadaan Leo yang memprihatinkan lebih menjadi prioritasnya.

Make You Feel My LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang