07.PULANG KE RUMAH

131 4 0
                                        

"Rame banget, ya, ni kantin,"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Rame banget, ya, ni kantin,"

Seperti biasa setiap bel istirahat berbunyi, pasti banyak manusia melarikan diri ke kantin. Pastinya untuk mengisi perut yang sudah berkeroncongan sedari tadi.

Bisingnya suara murid memesan makanan tak pernah terlewatkan. Juga penjual makanan yang sibuk melayani para murid yang terus sibuk mendorong satu sama lain untuk mendapatkan antrian paling depan.

"Mpok! Nasi gorengnya satu, ya, sama es jeruk juga!" teriak Zihel di tempatnya. Ia tidak ingin mengantri seperti yang lainnya.

"Afkar juga, Mpok! Di samain aja sama Zihel!" teriak Afkar juga.

Dari kejauhan Mpok Jer, penjual yang paling banyak dikerubungi standnya memberikan jempol. "Siap atuh, ganteng!"

"Yey! Besok hari minggu. Kita ke mall yuk, Mayziya," ujar Adelyna kegirangan. Sudah lama ia menunggu kedatangan hari minggu, yang akan hadir besok.

Mayziya berpikir sebentar, lalu berucap, "boleh, sih, tapi gue izin dulu ke cowok gue. Boleh gak El?"

Elga mengangguk menyiakan." Jangan terlalu lama mainnya, ya." Tangan Elga menepuk-nepuk pelan kepala Mayziya dengan sayang. Mayziya yang di perlakukan semanis itu oleh cowoknya tersenyum lebar. Beruntungnya dia menemukan cowok sebaik dan seperhatian Elga.

"Besok iya libur, tapi lo gak lupa, kan, senin pasti ada." peringat Dikta. Bagaimana pun senin tetap ada. Setelah satu hari menyenangkan tanpa adanya sekolah, kita tetap akan kembali ke sekolah di hari selanjutnya untuk menatap kembali buku-buku pelajaran. Walau pun itu sedikit menyebalkan. Namun, mau bagaimana lagi, itulah aturannya.

"Iya. Satu fakta yang tidak boleh di hindari," tutur Adelyna mengiyakan.

Pesanan Afkar dan Zihel sudah sampai. Keduanya langsung membayar pesananan mereka. Baru Mpok Jer pergi dan kembali melayani murid lain yang masih setia mengantri.

" Kalian gak mesen?" tanya Afkar pada temannya. Pasalnya cuma mereka berdua saja dari tujuh orang itu yang memesan makanan.

"Nggak, kita mah udah kenyang," jawab Dikta mewakili semuanya.

Afkar menggangguk. Lalu ia mulai memakan pesanannya dengan lahap. Tanpa memikirkan apapun lagi. Begitu juga dengan Zihel.

"Edvan," panggil sang ketua pada wakilnya.

Edvan yang semula sibuk menatap layar handphone menolehkan kepalanya ke depan. Guna menatap sang ketua yang barusan memanggilnya.

Satu alis tebal Edvan tertarik. Tatapannya seolah berkata 'kenapa?'

"Lo gak mau balik lagi ke rumah itu? lagi pula papa lo, kan, udah pulang," tanya Dikta yang membuat Edvan berperang dengan pikirannya.

"Hmm, iya, tuh. Coba silaturrahmi lagi, lo kan udah lama gak berinteraksi dengan papa lo," ujar Afkar.

SERAPHICTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang