Edvances Leygander dan Krayna Auderelia adalah dua orang yang tidak pernah merasakan yang namanya kebahagiaan, bertemu untuk menciptakan suatu jalan menuju kebahagiaan.
Tentu itu tak mudah. Mereka harus menerima sebuah kenyataan dan rintangan sehin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cari di spotify dan nikmati sensasi musiknya sambil membaca cerita ini ya. Yang mau rekomendasi penuhin kolom komentar ini ya
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah tiga puluh menit Edvan menunggu kedatangan kedua orang tuanya untuk menjemput dirinya. Kawasan sekolah sudah sepi karna murid-murid lainnya sudah pulang duluan. Begitu juga dengan satpam sekolah yang sudah menghilang sejak tadi.
Sebelum pulang, satpam sekolah sempat menawarkan Edvan untuk diantar pulang olehnya karena kasihan melihat anak itu sendiri menunggu di halte. Tapi dengan cepat Edvan menolak tawaran itu dengan halus.
"Enggak usah, Pak. Mama pasti sebentar lagi datang, kok."
Namun sampai sekarang masih belum ada tanda-tanda orang tuanya akan datang. Langit yang dihiasi awan yang semulanya berwarna biru, perlahan-lahan mulai berubah menjadi abu-abu. Angin juga mulai bertiupan dengan kecepatan sedikit kencang. Menandakan sebentar lagi akan hujan.
Edvan mengeratkan jaketnya saat merasakan hawa dingin mulai menusuk kulit putihnya. Perasaan cowok itu mulai tak karuan, ada rasa takut dan khawatir menggoroti dada.
"Mama sama Papa mana sih, kok belum datang?! Mana bentar lagi mau hujan," gumam Edvan. Rasa kantuk mulai menyerang matanya. Ia ingin segera pulang dan langsung tidur di kasur empuk bagaikan awan miliknya.
Biasanya lima menit sebelum waktunya pulang sekolah, orang tua Edvan sudah menampakkan dirinya di depan gerbang. Tetapi kenapa kali ini orang tuanya masih belum muncul juga. Apakah orang tuanya ada masalah? Atau orang tuanya sudah lupa dengan dirinya?
Tidak! Itu tidak mungkin. Edvan membuang jauh pikiran negatif itu. Ia tidak mau berpikir hal aneh pada orang tuanya. Orang tuanya pasti akan menjemputnya—sebentar lagi. Tugas Edvan hanya menunggu, menunggu, dan menunggu.
"Hai."
Sapaan lembut itu membuat Edvan menoleh ke arah sumber suara. Entah darimana datangnya, tapi sekarang di samping kirinya sudah berdiri satu cewek dengan senyumannya yang merekah lebar. Tangannya melambai ke arah Edvan, namun cowok itu tidak membalas lambaian cewek itu.