Bab 19.

8.7K 873 61
                                        




Sevanya memandang khawatir ibunya. Dia harap-harap cemas menanti dokter yang memeriksa didalam ruangan. Dia membawa ibu sekaligus ayahnya ke rumah sakit dengan bantuan pak Satria. 

Meski dia harus sedikit memohon lantaran pak Satria menolak karena tidak ada perintah dari Cleo maupun Logan. 

"Tuhan, ku mohon ... Sembuhkan kedua orang tuaku," ujarnya berdoa meminta kesembuhan orang tuanya. Bersamaan selesai doanya, Dokter keluar ruangan. 

"Dokter bagaimana kondisi ibu?" 

"Kondisi pasien sudah stabil. Saya sudah mengobati luka luar milik pasien. Nanti tebus obat penahan rasa sakit di apotik farmasi. Untuk ayah anda, tidak ada yang perlu di khawatirkan, pasien hanya sedikit shock," jelas sang dokter. 

"Ah baik dok. Terima kasih." Sevanya bernafas lega. Orang tuanya baik-baik saja. 

"Kalau begitu, saya permisi." 

"Iya dok, silahkan." 

Dokter melangkah pergi sedangkan Sevanya masuk kedalam. Dia mendekati bangsal Omar dan Dini yang hanya terhalang tirai khas rumah sakit. 

Dia membuka tirai itu hingga mereka bertiga bisa bertatap muka. Namun bedanya, Dini sedang tertidur setelah diberi obat bius agar Dini bisa total istirahat. 

"Ayah baik?" tanya Sevanya khawatir. 

"Ayah baik-baik saja." Suara Omar begitu rendah. Tangannya mengepal erat. Dia sungguh marah melihat kondisi istrinya. 

"Vanya, Putramu benar-benar keterlaluan. Dia menyakiti ibumu hingga dia berbaring di rumah sakit," ucap Omar. Dia meremat selimut yang dia pakai. 

"Anak kurang ajar itu tidak pandang bulu. Kepada orang tuanya saja dia berani melukai. Bagaimana dengan orang lain." 

"Anak serampangan sepertinya harus dinasehati yang benar. Juga pantas di beri hukuman. Katakan pada suamimu, Cleo harus di beri pelajaran." Omar berdesis marah. 

Sevanya hanya bisa diam mendengar ucapan sang ayah. Ia juga marah, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa. Mungkin ia akan berusahan menghubungi suaminya dan mengatakan apa yang dilakukan Cleo pada ibunya. 

"Iya ayah, Vanya akan memberitahu mas Logan." 

Omar menatap putri satu-satunya itu. "Vanya, kamu harus lebih tegas. Dia adalah putramu satu-satunya. Kamu merupakan nyonya dalam rumah itu. Kamu bisa memerintah siapapun disana. Kamu juga bisa menghukum putramu jika kamu mau." memegang tangan Vanya, memberikan petuah pada putrinya. 

"Apakah aku bisa?" 

"Tentu kamu bisa. Kamu yang berkuasa disana. Kamu istri Logan, tentu kamu punya hak." Vanya tampak diam mencerna ucapan Logan. 

"Lebih baik kamu pulang, Ayah bisa menjaga ibumu disini." 

Sevanya merasa keberatan. Tetapi sebelum dia bersuara, Omar lebih dulu mendahului. "Kamu tidak punya uang untuk biaya rumah sakit kan? Maka dari itu pulang. Minta semua uang yang dipegang pembantu itu. Mereka terlalu kurang ajar untuk padahal hanya pembantu." 

Sevanya pun tidak bisa untuk tidak menurut. Jadinya, setelah pamit ... Sevanya pun pulang diantar pak Satria. 

Sevanya merasa gugup, apakah dia bisa melakukan apa yang diperintahkan ayahnya. Melihat tatapan tajam pak Satria yang dilayangkan padanya saja Sevanya takut. 

"Nyonya, kita sudah sampai." 

"Oh- ah iya!" Sevanya tersentak, karena melamun dia jadi tidak memerhatikan sekitar. Dia keluar tergesa-gesa, memandang pak Satria tak enak. "Maaf pak, aku tidak fokus." 

"Tidak masalah nyonya." Pak Satria pun pergi membawa mobil kegarasi setelah menurunkan Sevanya di depan pintu. 

Sevanya masuk kedalam, tujuannya adalah Luna. Dia akan mencoba meminta uang pada pembantu yang telah melayani keluarga Maxon belasan tahun. 

"Luna." Sevanya memanggil Luna ketika melihat pembantu itu sedang mencuci sayuran wortel dan kentang. 

"Ya, ada yang perlu saya bantu nyonya?" Luna menjawab, dia mencuci tangannya dan berbalik menatap Sevanya. 

"Luna ... A-apakah kamu memegang uang yang diberikan mas Logan?" tanya Sevanya gugup. 

"Ya, saya memegangnya." 

"B-bolehkah aku memintanya? aku butuh untuk membayar rumah sakit orang tuaku." 

Alis Luna mengernyit heran. "Tetapi uang itu khusus belanja bulanan Nyonya." 

Sevanya menatap Luna melas. "Aku mohon Luna. Kalau bukan ke kamu, aku mau minta ke siapa. Mas Logan tidak memberiku uang." 

"Anda menfitnah tuan Logan?" Luna tentu tidak senang, Tuan yang dia layani seolah direndahkan karena tidak memberikan istrinya kebutuhan finansial. 

Sevanya menggeleng ribut. "Aku bersumpah, mas Logan tidak memberiku uang." 

"Jangan bermain dengan sumpah, Nyonya. Saya tau sendiri jika tuan Logan memberikan anda satu black card dan dua kartu debit." 

"Mas Logan memang memberikanku tiga kartu itu. Tetapi aku tidak tau cara menggunakannya. Apakah didalamnya ada uang?" 

Luna sedikit miris, dia memandang Sevanya rendah. Apakah orang didepannya ini terlalu miskin hingga tidak tau benda yang diberikan tuannya bahkan bisa menghidupi orang didepannya setidaknya selama 10 tahun. 

"Nyonya, sepertinya anda harus belajar banyak. Anda menyalahkan tuan saya, berkata jika tidak diberikan uang. Padahal dengan tiga kartu yang anda miliki, anda bisa membeli apapun. Jikalau anda memilih hidup sederhana. 3 kartu itu bisa menghidupi anda setidaknya selama 15 tahun." 

Sevanya terlihat kaget, mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang dia dengar. "Benarkah? kenapa aku tidak tau?Hampir aku membuangnya karena merasa tidak ada gunanya. Rupanya, didalam itu ada banyak uang?!" 

Luna memutar bola mata malas. Dulu semiskin-miskinnya dia, dia masih tau kegunaan kartu yang dimaksud. Tetapi orang didepannya ini, meski sudah belasan tahun menjadi nyonya Maxon, tetap saja bodoh dan seakan tidak berpendidikan. 

Luna sangat menyayangkan sikap Sevanya. Tidak memerlihatkan sebagai orang berada dan sering bersikap katrok dan tidak elegan. 

Jika keluarga Maxon tau, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Menantu keluarga Maxon tetap udik dan tidak berpengalaman meski sudah belasan tahun bersanding dengan salah satu keturunannya. 











To be continued...

Sweet but psycho - EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang