Kayanya udah gada lagi yang baca cerita ini ya huhuhu
kalo kalian baca ini vote&komen yaa karena itu yang bikin aku semangat buat lanjutin ceritanya. aku hiatus lama banget karena kehabisan ide kemarin ditambah peminat cerita ini berkurang jadi sempet buat aku patah semangat dan ga lanjutin ceritanya.
suport dan dukungan kalian sangat berarti guys!🫶🏻
maaf aku hiatus kelamaan dan terimakasih buat yang masih mau baca cerita aku.✨🥰
***
Ceklek
"Naura" Adel menghampiri Naura yang masih berdiam diri dikamar nya sembari menatap keluar jendela sambil melamun
"Lo gapapa kan?" Adel menyentuh pundak Naura pelan
"Gapapa Del"
"Lo kenapa murung gini? Lo ga nyaman ya dirumah gue atau--"
"Engga Del ga sama sekali" Naura membantah ucapan Adel dengan cepat
"Aku nyaman disini aku juga seneng ketemu kamu tapi--" Naura mendadak ragu untuk melanjutkan ucapan nya
Adel ikut mendudukan dirinya disamping Naura lalu menggenggam kedua tangan nya "Kenapa Nau? Lo bisa cerita ke gue"
Naura terdiam sejenak lalu menghembuskan nafasnya yang terasa berat "Boleh ga aku minta tolong sama kalian kalo aku ga mau dideketin sama Lintang lebih tepat nya aku ga mau kalian terus mencoba supaya aku bisa deket sama Lintang atau mencoba supaya aku bisa bersama sama Lintang"
"Jujur aku merasa ga nyaman sama itu semua. Aku mungkin bisa nerima kalo jantung Altair emang ada sama Lintang tapi aku ga bisa terima kalo aku seakan dipaksa buat nerima dia di hidup aku" Jelas Naura dengan berat hati sebenarnya Naura tidak mau mengatakan hal ini tapi mau tidak mau Naura harus mengatakan nya karena ini demi kenyamanan dirinya
"Nau, maksud gue sama yang lain kita cuma mau bantu Altair buat ngejalanin wasiat nya supaya wasiat itu terwujud karena gue juga yakin Nau kalo Altair ga mungkin bikin wasiat itu tanpa dia pikirin dampak nya" Jelas Adel
"Tapi apa ga bisa dibiarkan mengalir gitu aja tanpa harus ada paksaan atau usaha kalian yang tanpa kalian sadar itu buat aku ga nyaman"
"Bahkan kalian tau gimana sayangnya aku sama Altair betapa berartinya dia dihidup aku. Aku tau Altair emang udah ga ada dan hidup aku terus berlanjut tapi bukan berarti aku harus sama Lintang kan? hidup aku ya aku yang lebih tau Del. Aku cuma minta jangan jadiin wasiat Altair itu buat aku nerima Lintang kalo pada akhirnya aku ga bisa nerima Lintang gimana? Bukan nya perasaan itu ga bisa dipaksa? Jadi apa aku harus iya iya aja dengan alasan wasiat itu tapi hati aku ga nerima?" Naura menjelaskan nya panjang lebar
"Aku yakin kalo emang Lintang yang terbaik buat aku pasti hati aku juga akan terbuka dengan sendirinya tanpa dorongan atau paksaan dari kalian yang begitu keras buat nyatuin aku sama dia"
"Aku menghargai usaha kalian aku juga tau kalian hanya menjalankan permintaan Altair tapi tolong liat dari sisi aku juga."
"A-aku minta maaf aku ga bisa" Air mata yang ditahan Naura sedari tadi akhirnya keluar juga
Sebenarnya Naura tidak enak mengatakan ini semua tapi apa boleh buat? Kalau Naura tidak mengatakan nya maka Bima dan yang lain aku terus berusaha mendekatkan dirinya dengan Lintang sedangkan Naura tidak merasa nyaman akan itu ia merasa dituntut harus bersama dengan Lintang dan itu adalah sebuah keharusan sedangkan Naura tidak ada perasaan sedikitpun pada Lintang
Adel memeluk Naura yang menangis mengusap punggung nya lembut "Gue sama yang lain minta maaf kalo kita ga melihat dari sisi lo karena kita semua cuma pengen yang terbaik buat lo tapi lo lebih tau yang terbaik buat lo sendiri"
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTUK NAURA
JugendliteraturSequel dari NaurAltair Ada baik nya baca cerita NaurAltair terlebih dulu agar paham dengan alur ceritanya. *** Altair adalah bintang dihidup Naura, hadirnya mampu menyinari hidup Naura yang gelap. Dan saat bintang itu...
