Aku menyeruput kopi yang dibuat oleh Dad pagi ini, sambil menunggu Harry untuk menjemput, Dad menyuruh ku untuk mencicipi menu baru nya, Pancake Oreo with Nutella. Well, kata terakhir membuat ku menunggu di meja makan ini sambil menonton berita cuaca yang membosankan. Beruntung aku mempunya Dad,selain pintar memasak, pintar juga membuat sesuatu yang baru
''Ini dia'' Dad meletakan piring berisikan 2 buat pancake di hadapan ku, aroma coklat yang sangat khas terulur menembus hidung ku, selai nutella yang melelehdi kulit pancake ini membuat ku hampir meneteskan air liur ku sendiri ''God damn, looks like Harry'' gumam ku, sialan kenapa aku menggumam kan namanya? Gadis dalam batin ku langsung menggelengkan kepala nya dan memberikantatapan hmm..?
''Harri?'' papar Dad tiba-tiba, mungkin ia mendengar gumaman ku? Ah entahlah..
''Well, it's Harry, Dad''
''Ya, si gumbal itu'' Gumbal? Menautkan kedua alis ku dan memberikan tatapan aneh ke arah Dad, Gumbal? Itukan nama tokoh kartun?Astaga..
''Maksud mu, gimbal?'' Tanya ku membenarkan, Dad hanya menggidikkan kedua bahunya tanpa menatap ku, ia tidak pedulirupanya..
Akhirnya kami melanjutkan makan, suasana hening ini lah yang ku benci. Ini adalah salah satu alasan mengapa aku sering berada di luar bersama Harry daripada Dad, rasanya percuma saja aku adadi depan nya, ia hanya menanggapi ku sekilas selebih nya mengabaikan ku. Memang, semenjak kepergian Mom aku melarang Dad untuk menikah, saat itu Dadbersikeras untuk memperbolehkan nya menikah, namun aku selalu menolak. Ms. Johanna, dia baik ku akui, juga cantik. Namun entah mengapa aku tidak menginginkan nya untuk mengisi rumah ini bersama Dad, saat itu aku hanya menginginkan Mom untuk kembali, aku ingat saat Ms. Johanna menangis karena aku terus menerus menolak nya, dan ia mengatakan bahwa ia akan memberiku apa saja yang aku ingin kan demi menikahi Dad, katanya sih ia sudah terlanjur cinta pada Dad maka dari itu ia terus berjuang mendapatkan hati ku kala itu, dan betapa kagetnya ia saat itu ketika aku mengatakan
''...Jika kau ingin menikahi Dad, kauberjanji akan memberikan aku apa saja yang aku ingin kan?''
''Ya! Ya Diana sayang! Katakan saja apa yang kau ingin kan! Aku. Pasti. Mengabulkannya.''
''Hidupkan kembali Mom, dan aku akan mengizinkan mu menikahi Dad''
Dan sejak kejadian itu, Ms. Johanna tidak mengunjungi ku dan juga Dad,sejak itu juga Dad tak banyak bicara pada ku
''Diana'' ujar Dad tiba tiba membuyarkan fikiran ku
''Sudah lama ya.. tidak.. seperti ini?''
''Hm,''
Dad mengehela nafas panjang, dan kembali memainkan garpu nya di atas pancake tanpa memakan nya, pancake nya masih utuh.
''Mengapa kau tidak memakan pancake mu?'' Tanya ku, lalu Dad tertawa kecil masih menatapi pancake nya itu
''Untuk mu saja, lihat? Seperti nya kau menyukai nya, pancake mu cepat sekali habis'' Oh, aku pun melirik ke arah pancake ku, ternyata benar saja, sudah habis.
''Yah.. aku kan anak baik, aku selalu menghabiskan makanan buatan Dad-nya'' Ujar ku datar lalu menyeret piring Dad
''Tapi kau tidak cukup baik dalam hal kesopanan'' deg. Rasanya seperti di tinju dengan raksasa dan membuat kuterpental ke jurang tak berdasar. Aku terdiam dan berhenti mengunyah pancake yang hampir menjadi milik ku ini, malu.
''Ma-maaf. A-aku''
''Ya Diana, makanlah. Lain kali, tanya dulu kalau kau akan mengambil piringorang, walaupun orang itu memberikan mu makanan ini, ada baiknya kau izin untukmengambil nya. Mengerti?'' Aku mengangguk pelan tanpa menatap nya, malu sekali rasanya, entahlah padahal aku tipikal orang yang acuh, namun kali ini.. entahlah efek nya sedikitberbeda?
''Omong-omong, kau tidak pernah menceritakan tentang Harry, apa ia kekasihmu?'' berakhirnya kalimat kekasih langsung membuatku tersedak pancake ini, sialan. Dad langsung memberi ku minum dan aku pun meminum nya cepat
''Bukan, dia bukan kekasih ku'' well, aku tidak yakin. Tapi lupakan saja. Ujar ku ketus, dan melanjutkan memakan sisa pancake ini lezat ini, Dad kembali menghela nafas panjang nya, aku pun berusaha mengacuhkan nya, namun nyatanya Dad melontarkan pertanyaan kedua
''Dia selalu mengajak mu pergi'' aku pun berhenti makan dan menatap nya seperti lalu?
''Dan mengantar mu pulang malam hari''
''Tidak selalu malam hari, Dad'' balas ku cepat, kurasa ini akan menjadi perdebatan yang panjang
''Dan satu hal yang membuat ku heran—mungkin curiga..'' jantung ku mulai berdegup tidak normal, astaga.. satu hal yang tidak bisa aku bayangkan adalah, ketika Dad mengetahui bahwa gadis kecil nya adalah seorang pembunuh. Aku juga tidak bisa membayangkan ekspresinya ketika ia tahu bahwa akulah yang membunuh si penyanyi Ariana Grande yang ia tonton berita nya di TV saat itu, dan.. aku pun tidak bisa membayangkan bahwa Dad tahu bahwa aku sudah tidak perawan
Berusaha membuat wajah setenang mungkin ketika membalas tatapan intimidasi Dad,aku tersenyum simpul ke arah nya ''curiga apa, Dad?'' nada suara ku berubah begitu saja, dari ketus menjadi manja
Dad menautkan kedua alis nya, baiklah kuakui aku tidak nyaman dengan ekspresinya saat ini ''Aku menemukan pisau di kamar mu dengan darah yang sudah mengering di ujung nya'' sudah kuduga..
aku pun membuat ekspresi terkejut mendengar nya, Dad pun menaikkan alis kanannya dan aku membekap mulut ku sendiri ''Astaga! Pisau itu punya Miranda Dad! Pisau itu ia gunakan untuk membedah kelinci beberapa hari yang lalu, dimanapisau itu sekarang? Aku harus membawa nya...'' dan menyembunyikan nya jauh-jauh dari mu ''...Ke Miranda dan mengembalikan nya.. yah, mengembalikan nya'' aku pun tertawa hambar, Dad terdiam, tatapan nya masih mengintimidasi ku. Tatapan tajam nya tak kunjung melunak, astaga ku harap ia tidak curiga.
gadis dalam batin ku menempatkan tangan nya di depan dada nya dan berdoa kepadatuhan agar Dad tidak curiga dan percaya akan ceritanya
''Miranda?''
''Ya! Miranda Delavigne''
''Kau tidak berbohong kan?''
''Tentu saja..'' ya Dad ''Tidak Dad..'' aku pun tersenyum hambar kearah nya, well seperti nya ia mulai percaya. Lalu Dad mengangguk singkat dan berdiri lalu mengambil dua piring kosong di hadapan ku dan membawa nya ke wastafel untuk dicuci, gadis dalam batin ku menghela nafas lega dan berbaring di lantai sambil mengusap keringat nya, syukurlah tuhan masih mengabulkan doa hamba kotor seperti ku
''Aku ingin bertemu Harry''
''Ada perlu apa?''
''Jelas aku perlu tahu teman priagadis kecil ku'' aku diam. Haruskah aku mempertemukan nya?
''Well, boleh saja, tapi hari initidak. karena Harry harus mengantar ku''
''Kemana?''
''Hey lelaki tua, kau tak perlu tahu urusan gadis muda ini. Baiklah aku pergi,Harry sudah menunggu. Da-ah!'' aku pun mencium pipi nya singkat dan pergi,untung saja bayangan mobil Harry yang mendadak muncul itu tertangkap oleh ekor mata ku. Dad tidak memberikan respon selain tersenyum singkat lalu melanjutkan mencuci piring nya
kufikir hari ini agak sedikit berbeda..
***
A/N: DOUBLE MOUBLE UPDATE AF
gatau kenapa pas nulis chap ini aga aneh aja, maafkan kalo absurd ya:'
VOMMENTS PLZPLZPLZPLZPLZ walau ini absurd sekalipun, hargai q ya:'
All the fooking love. x
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Diana [H.S]
FanfictionHe said 'Let's get out of this town' i said 'I know places we can hide.' - Copyright 2015 © by hoodjan All Right Reserved
![Bad Diana [H.S]](https://img.wattpad.com/cover/42240436-64-k358920.jpg)