A/N: sorry for late update, ini udah mau di update dari tanggal 11 sebenernya tapi gatau hotspotnya eror terus. harap maklum ya:) thankyou for reading this one. Enjoy
P.S: you'll find something new :p
*
''BAJINGAN!'' tinjuan cepat medarat tepat di wajah pria putih ini, Niall tersungkur sambil memegangi pipi nya sedangkan Phoenix yang merasa terganggu dengan jatuhnya tongkat infus di sebelah nya pun terbangun dari tidur nya
''ASTAGA! HARRY!''
''KELUAR KAU! KURANG AJAR!''
''HARRY!''
''IYA BERUSAHA MEMPERKOSA MU PHOENIX!'' Phoenix diam, ia tercengang dengan tuduhan ku. Emosi ku sudah meluap-luap bahkan sudah mengubun-ubun, Niall masih tersungkur memegangi wajah nya tanpa basa basi aku langsung menarik baju nya dan kembali meninju nya tepat di bagian hidung nya itu
BUK
Lagi, Niall tersungkur untuk kedua kali nya, darah yang mengalir di hidung nya mengisyaratkan bahwa ia tidak lah berdaya untuk menahan rasa sakit. Phoenix diam, menonton aksi tinju ku pada Niall tanpa banyak menyela seperti biasa nya, mulut nya terbuka menandakan ketidak percayaan. Niall bertumpu pada lutut nya, membiarkan darah di hidung nya mengalir dan jatuh ke ubin
''DENGARKAN AKU KEPARAT! AKU TAHU KAU KAYA, KAU BISA MEMBELI SEMUA NYA DENGAN UANG NAMUN KAU TIDAK BISA MEMBELI PHOENIX DENGAN UANG SIALAN MU!''
BUK
Tanpa asa, aku menendang punggung nya sampai-sampai ia tersungkur lebih keras dan kini ia berhadapan langsung dengan ubin, aku tahu bagaimana sakit nya namun lebih sakit lagi jika mana aku melihat Phoenix seperti Chloe..
Seperti Chloe
hamil, kesakitan menahan robek nya vagina
kesakitan jika mana Niall tidak bertanggung jawab
''KAU!''
''HARRY!'' baru saja aku akan melayangkan pukulan ketiga, kini Phoenix menyela. Aku menahan tangan ku yang masih mengudara saat ini, menatap ke arah Phoenix seperti 'Aku harus memberi nya pelajaran'
''Niall..'' panggil nya, Niall pun bangkit dengan batuk yang menghiasi kebangkitannya dari ketersungkurannya, darah menjadi pelengkap kedua setelah batuk nya
''Apa yang kau lakukan?''
''Demi tuhan Phoenix, aku tidak ber..maksud''
''PEMBOHONG!''
''Harry! Hentikan!''
''Hentikan kau bilang? Jelas-jelas aku melihat ia hendak membuka kancing kedua mu Phoe!''
''Tidak Harry tidak!''
''PEMBOHONG!''
BUK
Pukulan ketiga pun berhasil mendarat di wajah nya, wajah nya begitu bengkak karena tangan ku ini, bahkan aku sendiri tidak peduli jika setelah ini banyak media membicarakan ku atau aku di tuntut sekali pun, aku bisa meminjam uang pada Chloe dan melempar nya tepat di wajah pria ini, aku sama sekali tidak peduli akan itu, bahkan yang aku pedulikan hanya lah Phoenix, keperawanannya. Ia berhak menjaga keperawanannya sampai seseorang yang ia cintai nya mempersunting diri nya nanti.
''Harry kumohon!'' Phoenix menangis sambil menarik tangan kanan ku, isakan tangis Phoenix membuat ku luluh, ku rasa Phoenix akan memberi pelajaran sendiri untuk Niall—mengingat bahwa ia mencintai Niall
''Make sure your dick clean enough to do some sex, Dude!''
-Phoenix's POV-
Semburan vulgar Harry membuat keheningan setelah nya, terlebih setelah ia pergi tidak ada satu suara pun dari ku ataupun Niall yang memecah keheningan. Niall masih memegangi hidung nya, dengan sigap aku pun mengambil tissue yang ku simpan di saku baju ku
''Ini..'' Niall menatap sumber suara, tatapan miris nya juga darah di wajah nya membuat ku ngilu membayangkan betapa kerasnya pukulan yang Harry berikan
''Te—terimakasih, Pho.. aku..''
''Aku tahu, kau—''
''Tidak! dengarkan aku dulu—'' Niall meraih tangan ku dan membalut kedua nya dengan lembut, nyaman. Dari balutan ini aku bisa merasakan bahwa Niall tidaklah mungkin melakukan hal bajingan itu seperti yang dituduhkan Harry, ia bukanlah Zayn
''Aku hendak membenarkan kancing baju mu yang terbuka, karena takut kau terbangun jadi aku melakukannya secara diam-diam dan terlihat seperti hendak memperkosa. Alasan mengapa aku tidak mau membangun kan mu? Kau begitu lelah, hampir seharian ini kau menghabiskan waktu mu bersama ku walau hanya berdiam di kasur namun untuk kondisi mu pasti kau akan lelah untuk itu, maka dari itu aku—''
Aku memeluk nya
Aku memaksa kekhawatirannya untuk bersembunyi di balik bahu ku, aku tahu seberapa khawatir nya jikamana aku menuduh nya, atau mungkin yang ada di fikirannya saat ini aku akan menyebarkan ini pada media dan popularitas nya akan jatuh. Deru nafas pria irlandia ini begitu merusuk ke pori-pori ku, menggelitik namun aku cukup nyaman untuk tetap bertahan pada posisi ini
''Aku..aku bukanlah pria bejad yang seenak nya mempermainkan wanita, Pho'' katanya
''Aku begitu menghargai wanita, Pho. Aku bukanlah brengsek'' katanya lagi, brengsek kata itu mengingatkan aku pada diriku sendiri, Zayn juga Harry
Sialan dengan diriku, karena aku begitu menyesali perbuatan ku perbuatan bodoh yang seharusnya tidak aku ambil, jelas-jelas aku tahu bahwa Harry bisa membantu ku namun persetan juga dengan Liam karena ia begitu menghasut ku, menghasut untuk menemui Zayn. Sialan! jika saja waktu bisa kuulang, Jesus
''Aku harus bagaimana Lee?'' tanyaku pada pria berambut hitam setengah coklat di hadapan ku ini, bibir merah nya ia kulum penuh sehingga menghasilkan aura sexy yang begitu menggoda, untung saja aku tidak pernah tergoda dengan satan di depan ku ini, Liam.
''Aku tidak yakin Harry mau membantu mu untuk itu, untuk hal itu.. kurasa'' katanya sebelum akhirnya ia menghisap ganja yang sudah ia susun rapi dalam kemasan rokok, aku memutar bola mata ku melihat gaya nya melihat ganja, ia sedang memperlihatkan ku bagaimana nikmat nya memakai narkoba
''Tentu saja! Kau gila?! Dengar, aku melakukan ini hanya ingin membantu mu karena kau adalah teman ku, mungkin cukup bisa di bilang teman'' ia terkekeh
''Hey, kau akan dapat untung dari ini kau tahu! Kau ingin popularitas kan?'' po pu la ri tas. Kata itu begitu mengobsesikan diriku untuk terjerumus dalam urusan kotor ini, entah lah aku pun tidak tahu gadis seperti ku begitu mengimpi-impikan popularitas, padahal apalah arti dari sebuah popularitas?
''Omong-omong..'' Lee-panggilan ku-membuang rokok ganja nya itu kedalam genangan air di tepian ''Apa popularitas yang kau dapat dari Harry tidak lah cukup?''
''Tidak''
''Mengapa? Kau tahu Jane? Mantan kekasih Harry? Ia begitu terkenal hingga ke tetangga sebelah karena berpacaran dengan Harry! Lebih terkenal lagi, ketika Jane di kabar kan kissing dengan Harry!''
''And I never kissing with him'' kata ku, aku menghela nafas panjang mengingat Jane. Kurasa ia cukup beruntung. Selain karena paras nya yang cantik, ia begitu terkenal sampai-sampai semua tau akan diri nya. beda dengan keberuntungan ku, aku hanya beruntung karena bisa memikat Harry, tidak lebih. Apa yang kudapat setelah nya? cacian juga makian tak kunjung berakhir di hidup ku sejak Harry menjadi milikku, entahlah apa yang salah aku tidak tahu. Mereka terus meneror ku dan menyuruh ku untuk menyudahi hubungan ku dengan Harry kalau tidak hubungan ku tidak akan tenang
''Dan kau akan melakukan itu suatu saat nanti''
''Ku harap aku bisa merasakan bibir ranum itu, aku belum pernah memiliki jarak yang sangat dekat dengan nya''
''Mungkin belum?''
''Jadi aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin mengatakan pada Harry bahwa aku ikut serta menjual obat-obatan terlarang ini demi membantu mu, teman ku. Dan kurasa tidak mungkin juga jika aku harus meminjam uang pada nya, kurasa itu sangat... ugh, lee!''
''Ya aku tahu! Aku juga memikirkan harga diri mu Diana. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya jika rencana ini terbongkar'' Gugur sudah harapan ku, aku harus meminjam uang itu darimana? Sedangkan cara ini adalah satu-satu nya cara agar aku bisa meraih popularitas di kelompok kelas atas seperti Jane
''Aku tahu Di''
''Apa?''
''Minta lah bantuan pada Zayn''
''Za-zayn?''
''Aku tidak akan melakukan sex sebelum ada ikatan pernikahan, Pho'' bisikkan Niall kembali menyadarkan ku dari bayangan terkutuk yang ingin sekali aku lupakan namun sial karena aku tidak bisa melupakannya. Bayangan itu selalu ada, selalu. Aku sudah putus asa, apa lagi yang harus ku lakukan agar aku bisa melupakan kejadian terkutuk itu? apalagi?
Kufikir, dengan merubah diri ku menjadi Bad bisa membuat ku lupa dengan kepolosan juga kebodohan ku dulu, namun aku justru salah, apa yang aku lakoni sekarang justru semakin membuat ku mengingat masa-masa kelam itu, bayangan itu begitu melekat, dan rasa nya setiap langkah yang ambil selalu berhubungan atau selalu mengingatkan ku pada masa-masa kelam itu, itu pasti. Sangat pasti.
Terkadang aku ingin sekali mengambil pisau dan memotong tali nadi ku, tingkat depresi ku sudah sampai level max, terlalu banyak bayangan buruk yang selalu membuat ku drop seketika, aku ingin mengulang namun tuhan tidak mengizinkan nya, namun bayangan-bayangan itu membuat dewi batin ku mendesak ku agar aku memohon pada tuhan agar ia mengizinkan ku memperbaiki semua nya. semua sudah menjadi bubur, tidak ada bisa lagi yang dirubah, aku pasrah.. aku pasrah dengan apa yang akan terjadi dengan ku kedepan nya.
Niall melepas pelukan ku, dan menatap ku nanar
''Kau percaya pada ku?''
''Tentu saja''
***
Aku terbangun dengan kepala yang pusing, mata ku menerjap beberapa kali berusaha menjernihkan pengelihatan. Sinar mentari begitu bebas memasuki ruangan ku sehingga aku terbangun karena nya oh, pasti Harry yang membuka tirai nya.
''Pagi'' pandangan ku beralih pada sumber suara, Niall?
''He—hey dimana Harry?'' pertanyaan itu tiba-tiba saja terlontar ketika aku menyadari bahwa Harry tidak ada di sekitaran, kemana dia? Sial, dia pasti marah. Aku berusaha duduk namun sulit karena rasanya nyeri sekali untuk mengangkat atau menahan tubuh ini, akhirnya aku bertumpu pada sikut
''Harry.. dia.. aku tidak tahu''
''Kau dari kemarin disini?''
''Tidak, aku pergi setelah nya saat kau tertidur'' oh..
''Ja—jadi tidak ada yang menemani ku?''
''Tidak, kau sendiri''
Lalu Niall duduk di sebelah ku dengan sekantung bubur di tangan nya, wajah nya begitu tenang beda dengan malam tadi, tidak ada lagi kekhawatiran yang menggerogoti wajah tampan nya itu
''Apa yang kau lihat?''
''Kau''
''Aku?''
''Dimana kau simpan wajah merah mu?'' Niall terkekeh kecil di lanjut dengan tawa ku yang pecah
''Sudah kuduga...'' lanjut ku saat wajah Niall mendadak berubah warna menjadi sedikit kemerah-merahan ''Jadi, kau menyembunyikannya di balik wajah mu yang satu nya lagi, huh?'' ejek ku, Niall masih tertawa sambil memegangi pelastik bubur yang masih ia pegangi dari tadi
''Tentu saja tidak, aku hanya memiliki satu wajah, aku tidak tufes''
Tawa kami kembali pecah setelah nya, akhirnya untuk beberapa saat Niall berhenti tertawa dan mewadahi bubur yang ia bawa tadi, aku masih terus memandangi wajah yang lambat laun berubah menjadi putih. Mungkin pagi ini aku tidak melihat Harry di sekitaran dan itu cukup membuat ku risau akan nya, namun melihat pengganti Harry disini cukup menghilangkan rasa risau ku beberapa saat. Niall dengan sabar mewadahi bubur yang panas dan cukup cair ke dalam mangkuk, di tambah dengan desisan nya menahan rasa panas membuat ku tersenyum seketika melihat nya, ya tuhan ini adalah apa yang aku mau sejak dulu, berada di samping Niall, melupakan sejenak tentang kebrobrokan ku dan terus menikmati momen ini bersama Niall
I wish I could freeze this moment in the frame and stay like this
''Sele—'' Ucapan Niall terpotong ketika ponsel nya berdering, senyuman ku pudar dan perhatian ku langsung tertuju pada tangan Niall yang sedang merogoh saku nya, siapa yang menelfon nya pagi-pagi seperti ini?
''Melissa?''
Sial rasanya ingin sekali aku merebut ponsel nya itu dan membanting nya ke lantai, baru saja aku melupakan tentang semua kejahatan ku di tambah melupakan Melissa—plus rencana pembunuhannya—ia justru mengundang kematian nya sendiri, persetan! Ku fikir mereka sudah kandas, ternyata belum
''Ya, aku akan menjemput mu. Ya sekarang, sayang'' Cih, berani-berani nya jalang itu menanggu Quality Time ku dengan Niall, emosi ku semaking mengubun dan kurasakan darah ku di pompa lebih cepat ketika mendengar panggilan sayang itu keluar dari mulut Niall, seketika itu pula hati ku mencelos, ku fikir...
''Phoenix, aku harus pe—''
''Lalu kau meninggalkan aku sendiri?''
''Ya—maaf, tapi Melissa harus ku jemput, aku khawatir terjadi sesuatu dengan nya''
''Ha—haruskah? Lalu aku bagaimana?'' aku tak mau kalah, aku terus mengulur waktu agar ia terlambat menjemput Melissa, namun Niall justru tersenyum manis dan mengatakan
''Tentu, ia kekasih ku''
Brengsek
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Diana [H.S]
FanfictionHe said 'Let's get out of this town' i said 'I know places we can hide.' - Copyright 2015 © by hoodjan All Right Reserved
![Bad Diana [H.S]](https://img.wattpad.com/cover/42240436-64-k358920.jpg)