11 - perilaku yang salah

79 49 69
                                        

happy reading!










Hari ini tidak hujan dan tidak mendung sama sekali, namun Khadafy justru jauh dari kata baik dan mood hari ini, sepanjang jam pelajaran dirinya hanya diam padahal terkadang dirinya akan mengajukan sebuah pertanyaan lebih mendalam.

Suasana kelasnya mulai sepi, Rava menatap Khadafy heran heran, dirinya tidak tahu apa yang terjadi pada Khadafy tadi pagi, bagaimana Khadafy yang seceria tadi pagi menjadi sediam ini. Sesekali cowok dengan headbang itu menoleh kearah Senja untuk memastikan, tidak ada yang aneh juga.

Jam kelas mereka sudah berakhir, banyak mahasiswa dan mahasiswi yang sudah selesai kemudian pulang, ada juga yang nongki di cafetaria atau lorong kampus. Termasuk Khadafy dan Rava yang masih merenung di kelas.

"Halo, Bram."

Khadafy dan Rava menoleh bersamaan, suasana kelas mereka yang sepi cukup menjadi saksi, dimana Senja menerima telepon dari seseorang lelaki yang tidak Rava ketahui, cowok itu menatap Khadafy meminta penjelasan, namun yang dilakukan cowok itu adalah berdiri, menenteng tas ransel dan sebuah kotak bekal transparan berisi nasi goreng di tangannya. Cowok itu berjalan keluar kelas, diikuti oleh Rava yang kepalang bingung.

Nasi goreng buatan Khadafy, gagal diberikan kepada Senja.

"Bram siapa? Lo keduluan apa gimana? Please kasih tahu gue!" Tanya Rava bertubi-tubi, ketika dirinya berjalan di lorong bersama Khadafy yang hanya diam seribu bahasa, mulutnya tidak mampu sekedar berkata-kata.

"Gue gak mood, nanti gue jelasin di chat, kalau lo mau ngapelin Flavio, sana!" Balas Khadafy yang membuat Rava terhenti dari langkahnya, cowok ber-headbang merah itu mencebik pelan seperti anak kecil, namun tidak dapat dipungkiri bahwa dirinya akan ngapelin gadis kecil dari fakultas hukum itu, Flavio.

Khadafy menghirup udara secara perlahan saat melangkah menuju masjid yang menjulang di sayap utara kampus, sambil berharap menemukan kedamaian di sana. Dia berencana untuk menghabiskan waktu hingga menjelang sore, sambil mencari cara untuk membuat hubungannya dengan Senja menjadi lebih hangat dibandingkan dengan Bram, tanpa membuat Senja merasa canggung.

Mungkin meminta bantuan Tuhan, adalah jalan satu-satunya.

Sementara itu Senja berjalan pelan menuju depan gerbang Satya Radja, disana sudah ada Bram yang entah kenapa cepat sekali menjemput Senja.

"Aku udah bilang kalau aku mau kerja kelompok," ucap Senja telak pada Bram yang hanya duduk diam diatas motor sambil menatap Senja yang terlihat frustasi.

Gadis berkerudung dan berkacamata itu ingat sekali bagaimana Khadafy yang keluar dari kelas dengan keadaan yang sedikit frustasi, belum pernah dirinya melihat Khadafy seperti itu. Senja merasa bersalah dan tidak enak, meski sudah mengirimkan sederet pesan bahwa dirinya pasti akan kerja kelompok nanti.

"Kan aku udah bilang, aku yang bakalan nganter, udah ayok pulang, Ibu kamu minta dibeliin salad buah," balas Bram tanpa memperdulikan ucapan Senja. Jujur saja, Senja capek, kenapa pula Bram harus kembali, Bram itu tahu betul bahwa Ibu Senja akan selalu mempercayakan Senja kepada nya, tapi Senja lebih tahu sifat Bram.

"Bram, kita udah putus."

***

Suasana masjid Satya Radja tidak terlalu sepi, disana dirinya bisa melihat Aben yang hendak menunaikan ibadah juga. Ketua BEM itu lumayan dekat juga dengan Khadafy, jadi melihat Khadafy yang melepas sepatu di depan masjid menarik atensinya untuk mendekat.

"Tumben sendirian, mana temen mu?" Tanya Aben kepada Khadafy yang telah selesai melepas sepatunya, kedua nya berjalan bersama menuju tempat wudhu.

"Temen ku banyak, Kak. Yang mana satu nih?" Tanya Khadafy pada Aben yang terkekeh pelan, benar juga kalau teman Khadafy itu banyak, mengingat bahwa Khadafy juga anggota BEM yang cukup aktif dalam menjalankan tugasnya, dan termasuk pintar dalam public speaking juga.

Hai, Senja [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang