happy reading!
Selama tiga hari berturut-turut, Flavio, Rava, Karel, Nara, Harsa, Ivy, Senja, dan Khadafy terus mencari tanpa henti. Mereka menyusuri setiap sudut kota, menjelajahi gang-gang sempit dan tempat-tempat yang pernah dikunjungi Raluna. Masing-masing dari mereka memiliki tugas spesifik, memeriksa rekaman CCTV di berbagai titik jalanan dan bertanya pada penduduk setempat.
Siang telah berganti malam, dan mereka mulai merasa putus asa. Hasil pencarian mereka masih nihil, dan tidak ada petunjuk yang mengarah pada keberadaan Raluna. Setiap rekaman yang mereka tonton, setiap orang yang mereka temui, tidak membawa mereka lebih dekat pada jawaban.
Pada malam ketiga, kelelahan yang semakin mendera dan semangat yang mulai pudar membuat Rava dan Flavio menyadari bahwa mereka perlu mengambil langkah berbeda. Dengan hati yang berat, mereka memutuskan untuk mengakhiri pencarian mandiri dan mengumpulkan yang lainnya untuk menyampaikan keputusan itu.
"Kita semua udah berusaha sebaik mungkin," kata Rava dengan nada penuh beban. "Besok pagi kita bakal melapor ke polisi. Ini mungkin satu-satunya cara supaya kita bisa nemuin Raluna sebelum terlambat." Suaranya serak, mencerminkan keputusasaan yang dirasakan oleh semua orang di ruangan itu.
Meskipun enggan, yang lainnya hanya bisa setuju. Mata Flavio berkaca-kaca, dan suasana keheningan itu terasa semakin berat.
Mereka memilih pulang ke kediaman masing-masing, Khadafy akan mengantar Senja pulang, seperti biasanya. Dalam perjalanan pulang, suasana sangat hening. Tidak ada percakapan, hanya keheningan yang dipenuhi oleh rasa cemas dan penyesalan, mengiringi mereka di sepanjang jalan yang gelap dan sepi.
Setibanya di depan rumah Senja, Khadafy menghentikan motornya dengan lembut. Senja turun dengan langkah lesu, tatapannya redup.
"Khadafy, makasih ya selama pencarian udah jagain aku," ucap Senja dengan suara lemah, hampir tak terdengar.
"Udah kewajiban aku," balas Khadafy sambil tersenyum di balik helm fullface-nya, meskipun Senja tidak bisa melihat senyum itu, dia bisa merasakannya.
Senja membalas dengan senyum tipis, berjalan memasuki pekarangan rumahnya kemudian melangkah menuju pintu rumah. Namun, saat dia hendak membuka pintu, tiba-tiba Khadafy berteriak, "Senja!"
Senja terhenti, tangannya menggantung di gagang pintu, hendak berbalik untuk menatap Khadafy, namun teriakannya membuatnya membeku.
"Aku cinta sama kamu, Senja," teriak Khadafy lagi, suaranya menggema di malam yang sepi. Tangan Senja tetap di gagang pintu, hendak berbalik badan untuk memastikannya, namun dunia seolah berhenti berputar. Keheningan malam itu dipenuhi oleh kata-kata yang menggetarkan hati mereka berdua.
Senja perlahan berbalik, memastikan apa yang didengarnya. Hatinya berdebar, berharap ada sesuatu yang bisa Khadafy coba jelaskan dari kata-kata yang baru saja keluar dari bibirnya. Namun, saat mata mereka bertemu, Khadafy hanya melambaikan tangannya, kemudian melajukan motornya menjauh dengan cepat.
Senja terdiam, menatap punggung Khadafy yang semakin jauh. Jantungnya berdetak begitu cepat, ini benar-benar mendebarkan, Senja bisa sesak hanya dengan mengingat teriakan itu.
Gadis itu berlari masuk kedalam rumah yang sudah sepi, penghuninya sudah pasti tidur. Berbeda dengan Senja yang melempar tubuhnya diatas kasur, merenungi sebuah suara yang ia dengar tadi.
"Senja! Aku cinta sama kamu, Senja!"
Senja memegang kedua telinganya, dia yakin tidak salah dengar tadi, kenapa rasanya menyesakkan saat Khadafy tidak berusaha menjelaskan, kenapa Khadafy hanya melambaikan tangannya, dan kenapa Senja merasa digantung, tidak diberi kepastian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hai, Senja [ END ]
Teen Fiction"Hidup itu seperti perjalanan naik motor," "Kadang jalannya mulus, kadang juga berlubang, atau dipenuhi polisi tidur," "Tapi selama kita bersama, menghadapi segalanya bersama, semuanya akan baik-baik saja." Khadafy selalu terpesona oleh Senja. Hingg...
![Hai, Senja [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/361129373-64-k249045.jpg)