8 - dia dan jaketnya

84 51 37
                                        

hai, senja double update. spesial untuk seseorang, eaaaa. baca nya pelan pelan, cemilan nya jangan habis duluan.

happy reading all~











"Senja?"

Gadis berkerudung putih dan berkacamata itu menoleh ke sumber suara, menemukan sesosok pria yang tidak asing di mata nya. Bukan sekedar kenal, mereka kini bisa terbilang dekat.

"Khadafy, aku mau balikkin jaket kamu, kamu kemana aja?" Tanya Senja pada cowok itu yang tak lain dan tak bukan adalah Khadafy.

Cowok itu sibuk tersenyum memandang Senja dari kejauhan, seolah menunggu gadis itu untuk berjalan mendekat kearahnya. Setelan putih ringan yang terlihat pas di tubuh cowok itu, jangan lupakan senyumnya yang selalu teduh, kini sibuk memandangi Senja.

Senja tidak tahu, tapi langkahnya terbawa untuk mendekat pada cowok itu.

"Kamu kemana aja, Dafy?" Tanya Senja sekali lagi, dirinya bahkan baru sadar bahwa ia sedang berada di taman utama Satya Radja, kampusnya.

Kampus terlihat begitu sunyi dan kosong, hanya ada Senja dan Khadafy disana, berdua.

"Senja, aku baik baik aja kok, kamu jangan khawatir ya?" Balas Khadafy dengan senyum yang tidak pernah luntur, Senja jadi heran, apakah sudut bibir cowok itu tidak akan sakit jika tersenyum terus menerus?

"Jaket itu adalah penghubung antara kita, kalau kamu kehujanan, kedinginan, dan disaat itu aku ngga ada disana, kamu pakai jaket itu ya," pinta Khadafy, kini tatapannya teduh, senyumannya mulai menipis, cowok itu menghela nafas tanpa memperdulikan respon Senja.

"Ada banyak orang yang sayang sama kamu, jadi jangan khawatir kalau aku pergi nanti," lanjutnya dengan tatapan seolah meyakinkan. Senja menautkan kedua alis nya, bibirnya sedikit terbuka hendak berkata, namun lidahnya kelu.

"Senja?"

Tubuh Senja mulai menegang. Panggilan itu tidak langsung membuat tubuhnya reflek menoleh, melainkan ketika Khadafy melirik seseorang dibelakang Senja, barulah Senja menoleh secara perlahan-lahan.

Benar, dugaan dan indra pendengarannya tidak salah. Itu adalah pria yang benar benar Senja kenal lebih awal dari Khadafy.

"Aku nungguin kamu, Senja." Ucapnya tanpa keberatan, justru Senja yang keberatan.

Senja kembali menoleh kearah Khadafy, tidak ada lagi senyum meneduhkan di wajahnya, melainkan wajah sendu dan khawatir. Dengan amatir pula cowok itu membuka mulutnya.

"Kalau nanti aku nggak ada, dia yang bakalan jagain kamu, Senja," ucapnya yakin, kemudian tubuhnya mulai transparan.

Senja melotot kaget, "Khadafy!" Pekik nya berusaha meraih Khadafy, berlari seolah percuma, tubuhnya begitu berat dan melambat seiring berjalannya waktu. Suara dibelakangnya memanggil, namun Senja abaikan, dirinya hanya ingin meraih Khadafy.

Benar, Senja ingin meraih Khadafy.

"Senja! Kamu nggak ke kampus?"

Deg.

Senja membuka mata nya yang memburam, tidak ada kacamata yang bertengger disana. Kepala nya terasa berat ketiga suara Ibu berdenging di telinga nya. Senja pun baru tersadar bahwa ia baru saja terbangun dari mimpi nya sendiri.

"Sudah dibilang, kalau habis sholat subuh itu jangan tidur lagi, mimpi buruk kan, lihat tuh kamu sampe keringetan," ujar Ibu Senja yang kini memijat lengan dan pergelangan tangan Senja untuk menyadarkan anak gadis semata wayangnya.

Hai, Senja [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang