Bab 16

110 7 0
                                        

Setelah kejadian aku merendamdiri di bath tube dan hampir mencelakakan nyawa, Key tidak pernah berangkatkerja lagi. Dia semakin protektif dan mengekangku selama 24 jam penuh. Akusudah bilang berulangkali tidak akan mencelakakan diri lagi, tapi dia tetaptidak percaya. Key sudah seperti penguntit gila yang mengikuti kemana aku pergikecuali ke kamar mandi. Lama-lama aku merasa jengkel juga diikutin terus tidakbisa dikasih privasi dan kesendirian.

Dan kalau disinggung soalpekerjaanya, kenapa dia tidak show lagi dia selalu bilang tidak ada job dantawaran, padahal tidak perlu menutup-nutupinya dariku. Aku sudah tahu dia tidakkerja karena menjagaku. Tidak mungkin Key tidak ada tawaran sedangkan kontrakdari beberapa televisi swasta baik online maupun offline masih banyak yangbelum sampai masanya habisnya. Dan lagian aku tahu Key seorang pianis yangcukup terkenal tidak mungkin tidak ada job satu pun.

Aku merutuki diri sendirikarena hanya menjadi beban buat Key, menghambat karir dan segala pekerjaanya.Seberapa lama aku seperti ini, kapan aku bisa mandiri tanpa ada Key di sisiku.

Seperti siang ini Keymengikutiku pergi ke pelabuhan, biasanya dia tidak pernah bersikap begitu pergimenamaniku ke pelabuhan. Key pasti tidak percaya aku bisa menjaga diri sendirimakanya dia bersikeras mau ikut.

Pagi itu matahari bersinarredup dibalik awan-awan hitam yang menutupi langit. Cuaca agak mendung dansedikit gelap, sepertinya bakal turun hujan. Menjelang tengah hari awanmengandung uap air itu semakin banyak menggelayuti langit. Tanda-tanda akanhujan sudah mulai tampak dengan beberapa gemuruh yang mendayu tinggi di ataslangit.

Aku berdiri di tepi dermagamemandangi kapal yang akan merapat, di sebelahku Key berdiri sambilmenyarungkan tudung jaket ke kepalanya. Seperti biasa aku menunggu mama karenajanjinya akan datang hari selasa, kuharap mama datang hari selasa ini.

Aku memandangi laut yangmembiru berharap mama akan melambai dari kejauhan di haluan kapal. Tapiharapanku cuma sia-sia, aku cuma memandangi hamparan lautan yang kosong. Akumerindukan sosok mama dan adikku Zea.

"Wine mamamu tidak datanghari ini," kata Key sambil memegangi tudung jaketnya yang disibakkanangin, aku mengalihkan wajah pada wajah Key. "Percayalah padaku, mamamuakan datang lain waktu bukan hari ini." gumamnya lagi. Ini sudah yangketiga kalinya Key mengatakan itu sejak tadi pagi, aku mengalihkan wajahpadanya agak jengkel juga, tadi aku tidak memaksanya dan menyuruhnya ikut.

Tapi aku memakluminya karena iabersikeras ikut demi menjagaku, maka kuhargai kebaikan dan cintanya. Akumerapikan rambutku yang kusut karena tiupan angin laut sambil memperhatikangelagak dan tampangnya. Mungkin Key bosan menunggu sejak pagi jam 8 tadi,wajahnya bete ia terus mondar-mandir, keluar masuk dermaga meski tatapannyatidak pernah jauh dariku. Takut-takut aku akan melompat ke dalam laut, mungkinmenurut pikirannya.

Aku terus menghitung berapa kalikey bolak-balik dan menatapku, daripada bosan tidak melakukan apa-apa.

"Wine ayolah kita pulangbukankah kita menunggu hampir 8 jam di sini, tapi mamamu tidak kunjung datangjugakan?" Key sekali lagi meyakinkanku bahwa mama tidak akan datang hariini.

Aku cuma diam memandangi lautandan dermaga, beberapa kapal dari tadi telah merapat dan pergi lagi. Aku sudahmulai putus asa tapi aku bersikeras dengan sedikit harapan.

Key berjalan sebal sambilmenyandarkan tubuhnya ke kursi, aku kembali menatapi lautan mengingatkenangan-kenangan tentang mama. Tahu-tahu air mataku mulai menetes, Kulihat Keyterkantuk-kantuk di bangku panjang di ruangan dermaga sebelah barat, aku segeramengelap air mata itu takut pria berlesung pipi itu akan cemas lagi danmenambah beban pikirannya.

Aku menghampiri dan memandangipria yang menemani hari-hariku itu. Rambutnya kusut, wajahnya terkulai lemas kebawah dan pakaiannya berantakan. Aku terus berjalan menghampirinya, kasihansekali dia menunggu seperti itu pasti jenuh dan capek. Harusnya aku menurutikatanya dari tadi bahwa mama tidak bakalan datang.

Aku mengusap alis matanyaberusaha membangunkannya, Key mengusap mata lalu menatapku bingung. "Akuketidurannya ya?" tanyanya sambil melihat matahari yang hampir menyentuhgaris laut. "Sekarang jam berapa?" tanyanya lagi.

"Sudah sore, ayo kitapulang Key. Benar katamu mama tidak bakalan datang hari ini." Katakudengan raut wajah kecewa. "Seharusnya aku mendengarkan perkataanmutadi."

"Ya sudah kita pulangsaja, mungkin mamamu minggu depan datangnya," kata Key sambil bangkit danmerapikan rambutnya yang agak berantakan, kata-kata Key memberiku sedikitharapan dan kekuatan.

"Nah ayolah kita pulang,tidak usah kecewa. Ayo tersenyumlah bidadariku," kata Key menyemangatikusembari membimbingku untuk keluar dari dermaga, melewati beberapa koridor yangdipenuhi antrian penumpang yang akan berangkat. Lalu berbelok ke kiri hinggasesampai di luar sebelah barat gerbang.

"Tunggu sebentar ya akumengambil mobil dulu," kata Key seraya berlari menuju tempat parkir.

Aku mengangguk sambil berjalanke bawah pohon teduh. Hari ini aku memakai celana Jeans pendek di atas lututdan baju biru keungguan berbahan wol dengan sedikit bunga di dada dan pinggirlengannya.

Kulihat Key sudah mulaimeluncur ke arahku, aku menatap mobil mazda merahnya yang berkilau diterpamatahari sore.

"Wine ayo masuk,"ajak Key ketika mobilnya berhenti di depanku. Aku mengangguk dan melangkahmasuk sementara di luar sudah rembang petang. Cahaya matahari terbias memantulilautan yang berbuih. Awan-awan jingga berarak di atasnya seolah sedangbercermin pada lautan yang menghampar. Sementara gerimis sudah mulai berserakdi senja itu menghinggapi dedaunan yang kering dan debu-debu jalanan,sepertinya bakal turun hujan.

UG(5)J

Instrumental dari SurgaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang