Bab 8

128 8 0
                                        

Aku masuk ke kamar Key ketika dia selesai berpakaian dan sedang memasang tali sepatu, awalnya aku ragu-ragu sejenak mau menerobos masuk begitu saja. Aku memutar pelan hendel pintu dan menjulurkan kepala. "aku masuk ya?" kataku minta izin.

"Masuk saja tidak perlu minta izin," balasnya. "Kamarku juga kamarmu," tambah Key lagi sambil duduk di bangku rendah berbentuk bundar.

Aku berjalan masuk dan duduk di ujung ranjang melihatnya memasang tali sepatu. Dia melirikku sekilas sambil bergumam, "ada apa?"

Aku menggeleng, "tidak ada apa-apa," balasku pelan masih memperhatikannya.

Setelah selesai mengikat tali sepatu key bangkit dan duduk di sebelahku. "Aku tidak lama paling 2 jam saja jadi duduk manislah selama itu jangan kemana-mana." katanya memastikan lagi sambil memegangi kedua pundakku.

Aku cuma mengangguk, aku benar-benar sudah seperti anak kecil. Apa yang ada dalam pikirannya? Apa aku tidak bisa menjaga diri sendiri, tanpa dia aku tidak bisa apa-apa. Key terlalu protektif dan malah cendrung seperti psikopat. Aku sudah dewasa dan bisa menjaga diri sendiri.

Key melirik jam sekilas, jam menunjukkan pukul 10 pagi. Matahari sedang merangkak naik mengundaki tingkat-tingkat waktu. Cahayanya mulai terasa pedih menebarkan kegerahan pada jendela yang terbuka.

"Shownya jam berapa?" tanyaku sambil mengambil blazer Key yang tersampir di kursi lalu membantu memakaikannya. Key tersenyum sambil memasukkan sebelah tangannya lalu kemudian tangan selanjutnya. Aku membalas senyumannya sambil membayangkan tiap hari memakaikan blazer Key sebelum berangkat kerja, betapa indahnya hari itu. Aku ingin cepat-cepat datang hari itu, hari dimana Key telah menjadi milikku seutuhnya.

"Jam sepuluh tapi aku dapat shoe di tengah acara, jadi sekitar jam 11." katanya sambil menggandeng tanganku keluar dari kamar.

Aku mengantarkannya sampai di depan pintu. Key menggengam tanganku, seakan takut terlepas. "Sekarang aku berangkat kerja dulu, ingat jangan kemana-mana." Pesannya lagi memastikan kemudian mencium puncak kepalaku. Dia pun masuk ke dalam mobil dan meluncur membelah jalanan komplek yang sepi.

Aku masih memandangi kepergian Key sampai menghilang di belokan gerbang. Setelah itu aku masuk ke dalam, mengunci pintu. Rencana mau beres-beres rumah yang sebenarnya sudah rapi karena ada pembantu paruh waktu yang bekerja, biasanya datang pukul 7 pagi dan pukul 11 sudah pulang.

Aku menuju dapur, membereskan peralatan sarapan dan mulai mencuci. Sambil mencuci aku terus membayangkan kehidupanku yang bahagia nanti bersama Key dan anak-anak yang lucu. Beberapa menit kemudian aku telah selesai mencuci semua dari piring, gelas, penggorengan dan lain-lain.

Setelah aku rasa dapur sudah cukup beres selanjut aku naik ke lantai dua membersihkan ruangan atas. Aku masuk ke kamar Key. Kamar Key sebesar kamarku, sebuah ranjang besar terletak di tengah ruangan. Di bagian sudut ruangan terdapat lemari berwarna coklat dengan bahan kayu jati. Di sudut seberangnya terdapat televisi kecil, koleksi kaset dan buku yang berjejer di rak di bagian timut. Sementara di dinding terpajang foto besar Key di tengah hamparan rumput yang menguning sambil duduk memainkan piano. Secara keseluruhan kamar Key dicat warna hijau muda.

Pertama aku merapikan pakaiannya di lemari, walau pun Key terbilang rapi tapi di dalam lemarinya terlihat acak-acakan. Baju dan celana ditumpuk dan dimasukin dengan paksa. Aku mengeluarkan semuanya, melipatnya dengan rapi lalu memasukannya lagi. Sedangkan Key tidak suka kamarnya dimasuki pembantu, maka segala dalam kamarnya terlihat apa adanya. Tanpa pembersihan yang tetap.

Setelah merapikan semua pakaian Key dan memasukan ke lemari lagi aku mulai menyusun koleksi buku dan kasetnya yang berantakan, menyusun kembali urutan kaset dan koleksi bukunya dan bertanya sendiri mengapa aku mengingatnya, rasanya aku pernah juga menyusunnya.

Setelah koleksi buku dan kasetnya rapi aku membereskan tempat tidur yang agak sedikit berantakan, sambil merapikan tempat tidur itulah mataku tertumbuk pada dompet key yang tergeletak di sudut kasur.

"Key pasti lupa membawa dompetnya," gumamku. Aku meletakkan dompet itu di atas meja kecil di samping lampu tidur. Tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh di dalamnya. Aku memperhatikan sebentar lalu segera berjongkok dan memungut benda yang jatuh dari dalam dompetnya itu. Ternyata sebuah Kartu Tanda Penduduk. Buru-buru aku memasukkan lagi ke dalam dompet tapi gerakan tanganku terhenti seketika.

Dengan cepat aku membaca apa yang tertera di Kartu Tanda Pengenal itu yang membuat jantungku berdegup kencang, nafasku memburu sambil menggeleng tidak percaya. Status Key di sana tertulis sudah kawin.

"Key sudah menikah?" tanyaku pada diri sendiri seolah tidak percaya. "Bagaimana mungkin dia menikah, bahwa selama ini dia selalu bersamaku." Desisku masih tidak percaya sambil duduk di tepi ranjang.

Tiba-tiba sebuah bayangan aneh melintasi pikiranku, bayangan itu menyakitkan tapi juga terasa sangat aku kenal. Aku memegangi kepala, dompet dan Kartu Tanda Penduduk yang kupegang terjatuh di lantai.

Langit waktu itu terlihat biru jernih tanpa awan yang menutupi, angin berderap-derap kecil di pucuk-pucuk pohon. Sebuah jembatan putih yang dihiasi bunga melingkari sebuah pesta, di bawahnya angsa-angsa putih berenang kian kemari. Pesta itu penuh jambangan bunga berwarna merah muda dan sangat meriah. Alunan musik yang lembut dan damai menambah semaraknya suasana itu.

Kulihat Key berdiri tinggi di depan para undangan dia memakai tuksedo hitam dan dasi kupu-kupu serta kemeja putih yang mengintip dibalik tuksedonya,seperti biasa Key terlihat mempesona. Dia menghadap ke arahku tapi dia seolah tidak melihat aku yang berdiri di antara diantara para tamu, aku menatapnya dengan raut wajah tidak karuan antara sakit hati dan cinta yang teramat sangat.

Key mengalihkan wajahnya dan memandangi wanita yang menggunakan gaun putih panjang terjulur ke lantai altar. Key menatap wanita itu terlihat sangat bahagia sekali, belum pernah aku melihat Key sebahagia itu. Dia memegang tangan wanita yang membelakangiku itu, Key menatapnya dengan penuh cinta seperti dia menatapku tapi aku rasa perasaanya pada wanita itu lebih dalam daripada yang ia berikan padaku.

Wanita itu terlihat mengangguk dan kulitnya sebening embun dan terlihat selembut satin, aku ingin melihat wajahnya siapa wanita yang merebut Key dariku. Aku hendak menghentikannya ketika Key menciumnya penuh perasaan.

Darahku rasanya seperti berhenti mengalir, jantungku seperti mau melompat dari rongganya. "Apa? Key mencium wanita itu!" desisku masih dengan perasaan tidak percaya. Aku menjerit histeris, ini tidak mungkin terjadi dan tidak akan pernah terjadi, tidak mungkin Key melakukan itu padaku. Aku mau mati saja jika dia melakukan itu, aku tidak mau hidup lagi.

Instrumental dari SurgaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang