Nadira dan Narendra, dua orang tersebut adalah orang yang paling aku percayai di dunia ini selain orangtuaku dan aku justru menemukan mereka tengah bahu-menbahu berkhianat di belakangku. Astaga, pemandangan menjijikkan bagaimana tunanganku tengah berpacu dengan nafsu bersama dengan perempuan yang sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri membuatku ingin menangis dan tertawa di saat bersamaan.
Dan benar saja, dengan koper yang masih aku bawa, wajah yang menyedihkan dengan kantung mata yang tebal, aku menjadi perhatian saat tengah menyesap kopiku begitu tawa dan tangis keluar di saat bersamaan. Komedi sekali jalan hidupku ini, bahkan dalam mimpi terburukku pun aku tidak akan pernah menyangka jika Bang Naren dan Nadira akan mengkhianatiku, keduanya terlalu dekat untuk bisa membuatku terluka, apalagi Nadira, bagiku dia adalah saudaraku meski tanpa ada ikatan darah diantara kami, aku membagi segala yang aku miliki dengannya tanpa pernah aku merasa keberatan dan inilah balasan yang Nadira berikan?
Dipikir dengan cara bagaimanapun dan model apapun, aku tidak bisa menemukan alasan kenapa mereka begitu tega kepadaku. Astaga, entah siapa yang memulainya terlebih dahulu tapi mereka benar-benar sukses menghancurkan kepercayaan diriku hingga tidak bersisa.
Apalagi saat mengingat bagaimana Nadira dengan tidak pedulinya mengatakan pengalamannya berbagi ranjang dengan tunanganku, astaga, mengingatnya saja aku hampir muntah dibuatnya. Percayalah, sekuatnya diriku karena tuntutan tugas yang aku emban, aku tetaplah wanita pada umumnya yang akan kehilangan kepercayaan diri saat pasanganku berselingkuh. Kata-kata Narendra yang menyalahkanku hingga dia bisa berkhianat, Nadira yang mencemoohku hingga tunanganku memilih mencari kesenangan di dirinya membuatku rendah diri.
Tanpa sadar aku menjambak rambutku pelan, mengusir rasa frustrasi dikepala dan rasa sesak yang membuatku sulit untuk bernafas. Airmataku terus mengalir tanpa bisa aku cegah, tidak peduli seberapa keras aku berusaha menahannya. Disini, disudut coffeshop yang buka 24 jam aku menangis tergugu disela tawaku, tawa menyakitkan yang mewakili lebih dari kata betapa hancurnya hatiku. Pantas saja beberapa waktu ini Bang Naren selalu menyalahkanku, dia selalu berucap buruk kepadaku, dan mengeluh tentang pekerjaanku sementara selama ini dia adalah support system yang bahkan turut meyakinkan Papi mengenai jalan karier yang aku pilih. Bang Naren yang mendorongku, dia yang mendukung dan membantuku, tapi pada akhirnya dia juga yang mengeluhkan hal ini untuk membenarkan perselingkuhannya.
Lucu bukan jalan ceritanya? Pada akhirnya tidak ada yang bisa dipercaya selain orangtua kita sendiri. Diselingkuhi sudah sakit, dan rasa sakit yang aku rasakan berkali-kali lipat lebih menyakitkan, perselingkuhan ini bukan hanya membuatku kehilangan tunanganku, tapi juga saudaraku sendiri.
"Demi Tuhan, apa aku seburuk itu sampai-sampai mereka berdua begitu tega mengkhianatiku."
Aku terpekur, terpuruk dengan rasa rendah diri yang menguasai, pada akhirnya aku tidak sekuat itu saat mentalku dihajar, aku mungkin bisa menegakkan kepalaku saat berhadapan dengan duo pengkhianat tersebut, tapi sekarang saat aku sendirian, hanya beberapa waktu aku menunggu Arin, pacar Faisull untuk menjemputku, mau tak mau aku merasakan kesedihan yang luar biasa.
Aku tidak tahu seberapa lama aku meratapi komedi yang sama sekali tidak lucu ini, yang jelas mungkin di pandangan orang mungkin aku terlihat begitu menyedihkan sampai disaat aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan aku merasakan ketukan lembut di bahuku yang membuatku harus mendongak dan susah payah menyusut air mataku.
"Tisu, Kak!" Dengan lembut waitress tersebut mengulurkan tisu kepadaku yang aku sambut penuh dengan syukur. Kuseka air mataku yang masih keluar saat isakku masih tidak terkendali sembari aku menarik nafas agar tangisku terkendali. Waitress tersebut menungguku, dia berdiri dengan tenang sampai akhirnya aku selesai menangis baru wanita yang aku tebak awal 20 tahun tersebut meletakkan smoothies strawberry dengan ice cream vanilla di depanku lengkap dengan chantily cake ke hadapanku yang langsung membuatku terheran-heran sampai aku lupa dengan kegalauanku beberapa saat lalu.
"Saya nggak pesan." Ujarku sembari mendorong gelas smoothies tersebut menjauh. Dia makanan yang ada di hadapanku ini adalah kesukaanku tapi rules pertama yang selalu aku lakukan adalah 'aku tidak menerima makanan dan minuman dari orang asing'.
Waitress yang mendapati penolakanku tersenyum, "memang bukan Kakak yang pesan, tapi tadi ada yang order ke kami untuk Kakak, dan beliau memberikan pesan ini ke Kakak, tenang saja Kak, saya yang jamin makanan ini sama amannya seperti latte yang kakak pesan."
Diulurkannya sebuah notes kepadaku, dan aku melihat tulisan tangan berbaris rapi menyampaikan pesan.
"Berhenti menangis, Cha! Aku akan menghukum mereka yang sudah membuatmu menangis sepuluh kali lipat lebih menyakitkan dari yang sekarang kamu rasakan."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Innocent Monster
RomanceMengambil karier yang berbeda dari Sang Ayah, Harsa Anindya justru memilih STIN dibandingkan Akmil ataupun Akpol. Dan kini, sosok menggemaskan Acha sudah lenyap berganti menjadi seorang wanita tangguh seperti bunglon yang bisa dengan mudah menyaru...
