Chantilly cake, lagi

2.2K 335 9
                                        

Raut wajahku seketika berubah, jika sebelumnya aku sama sekali tidak menyentuh makanan atau minuman apapun yang dipesankan oleh Jendra, maka kali ini aku memberanikan diri untuk menghirup smoothies yang tampak menggiurkan itu. Astaga, Papi akan menjewer telingaku jika tahu aku meminum atau memakan sesuatu yang pengirimnya tidak aku tahu kejelasannya. Dan sungguh, rasa segar strawberry yang dibekukan sukses memanjakan lidahku.

Katakan saja hanya sebuah minuman tapi sukses membuat moodku berubah. Si br3ngsek ini, beraninya dia mengirimkan sesuatu yang sebenarnya rahasia dan yang hanya aku bagi kepadanya. Selama ini aku sukses membangun image independent woman, hingga saat akhirnya makanan warna-warni ini mendarat untukku semuanya tak pelak menatapku dengan geli.

"Jadi, seorang Harsa sebenarnya juga suka makanan dan minuman manis menggemaskan seperti ini?"

Mamat, pria asal timur yang kesehariannya berprofesi sebagai seorang standup comedy dan menjalankan usaha gunshop tersebut mengeluarkan celetukannya. Terpantau dia tanpa tahu sudah menghabiskan dua potong Chantilly cake-ku, dan terlihat masih akan nambah yang membuatku langsung merengut.

"Mat, jangan banyak-banyak napa!" Jacob yang sadar akan tatapan mataku langsung menyikut tangan Mamat yang terjulur, "kalo lo doyan beli sendiri, si Harsa saja belum kebagian lo-nya udah celamitan mulu."

"Aelaaah, iya-iya! Coba tanyain ke yang ngirim Sa ini kue beli dimana, enak bener, lidah kampungan gue jarang-jarang doyan kue tapi busyet ini enak banget."

"Yang ngirimin ini cowok yang ngedeketin lo apa gimana, Sa?"

Faisull yang sedari tadi khidmat meminum Vita C Detox pun angkat bicara, diantara semua kunyuk yang tengah menyesap penuh khidmat Boost mereka, Faisull sebagai atasan yang sebenanrnya paling memperhatikan kami para anggotanya, itu sebabnya Faisull tidak sungkan bertanya hal yang sebenarnya pribadi untuk ditanyakan.

Berbohong kepada mereka semua adalah hal yang mustahil itu sebabnya saat semua mata terarah kepadaku aku memilih untuk menjawabnya.

"Aku nggak tahu siapa persisnya yang ngirimin ini, Sull. Cuma perkiraan saja tapi mau konfirmasi ke dia apa benar dia yang ngirim aku juga nggak ada kontaknya buat nanya. Lo denger sendiri kan remark pengirimnya."

Pfffftttttt

Pffffffttttt

Hoeeeeekkkk

"Gila lu Sa, lu nggak tahu yang ngirim dan lo makan gitu aja. Gimana kalau ini kiriman dari anak buah salah satu korban pelet lo!"

Nyaris serentak mereka semua memuntahkan minuman dan makanan yang sudah mereka tenggak, setelah ulah rakus mereka, terutama Mamat tak pelak aku pun tertawa geli. "Lah, kenapa pada dimuntahin sih, sayang tahu, kapan lagi coba bisa minum Boost gratis? Lagian nggak ada beracunnya, buktinya gue minum juga masih hidup!"

"Pe'a lo......" Mamat yang tidak bisa menahan kesalnya langsung menonyorku meski bisa aku lihat jika dia benar-benar lega apa yang masuk ke lambungnya makanan yang aman. "Kayaknya otak lo emang bermasalah sejak putus dari Naren."

"Nggak ada ya ceritanya seorang Harsa galau cuma gara-gara cowok, wahai Mamat yang terhormat!" Tolakku dengan tegas atas tuduhan yang terlontar, mereka semua yang sebelumnya saling berbagi tawa seketika hening dalam suasana yang canggung, banyak tatapan menyalahkan dilayangkan kepada Mamat yang sudah dengan lancangnya mengusik perihal kandasnya hubunganku.

Mamat menatapku penuh permintaan maaf, tapi Faisull yang melihat kondisi tidak kondusif buru-buru menengahi semuanya. Meeting kami yang sempat tersendat kini kembali dimulai untuk menghilangkan kecanggungan, kali ini aku tidak bertugas secara langsung sehingga yang aku lakukan adalah memberikan banyak masukan kepada Bondan dan juga Jacob, dari fisik tidak akan ada yang menyangka jika pria ceking macam Bondan yang terlihat seperti cacingan ini adalah seorang Polisi, alhasil lagu lama, peran Ojol-lah yang dipilih Bondan untuk misinya mengintai para oknum penggelepan mobil rental sedangkan Jacob, laki-laki asal Sunda tersebut akan menjadi pedagang dawet yang ngider, astaga, dulu saat aku kecil aku selalu merasa geli setiap kali teman Papi bercerita kisah seru mereka saat melakukan pengintaian, satu bulan mereka bisa menjadi tukang cilok, minggu depannya mereka bisa jadi tukang sol sepatu, dunia pengintaian begitu seru, dan itulah awal mula aku memilih dunia ini bukan sebagai seorang Kowad atau Polwan atau bussineswoman seperti Mami. Siapa yang menyangka aku yang awalnya hanya menjadi pendengar kini menjadi pemeran.
Setelah misiku yang terakhir, setidaknya aku akan beristirahat untuk beberapa waktu menghindari banyak hal yang tidak diinginkan. Ada untungnya juga apartemenku dijadikan markas misi kali ini, setidaknya Narendra tidak akan menerorku ditempat tinggalku sendiri.

"Sa, Sorry buat yang gue omongin di dalam tadi, gue bukan maksud nyinggung lo."

Rapat sudah selesai, dan aku sudah keluar terlebih dahulu menuju lift namun Mamat yang masih merasa tidak enak mungkin atas apa yang dia katakan tadi membuatnya mengejarku untuk meminta maaf. Bersama-sama dia mengikutiku turun karena  hari ini adalah jadwalku latihan menembak di Club yang tidak ingin aku lewatkan, aku menoleh sekilas dan aku hanya melambaikan tanganku acuh.

"Apaan sih kek gitu minta maaf segala, santai saja Mat. Anak-anak saja yang terlalu heboh sampai negur lo, swear deh gue nggak apa-apa. Gue bukan perawan kemarin sore yang ngambek cuma gara-gara putusnya hubungan gue diungkit." Aku tersenyum, berusaha meyakinkan Mamat jika aku sama sekali tidak tersinggung, "cuma jangan sangkut pautin lagi ya gue sama Narendra. Gue sama dia udah benar-benar berakhir. Dia sudah nikah, dan yah, percaya atau nggak tapi gue enjoy sama kesendirian gue sekarang."

Mengikutiku berjalan Mamat manggut-manggut, di tangannya masih ada cup Boost yang masih dipegangnya, sama sepertiku yang tidak terikat dengan jam kerja, Mamat pun sama, mungkin dimata orang lain mereka akan melihatku hanya seorang pengangguran persis seperti yang dikira Nadira, "lo enjoy sendiri tapi para Jantan diluar sana sudah nggak sabar buat ngejar lo. Gue rasa siapun yang ngirimin lo minuman makanan ini, itu orang cukup oke sampai lo mau nerima, ya nggak?"

Aku tidak langsung membenarkan apa yang dikatakan oleh Mamat, tapi aku justru memandang chantilly cake yang hanya tersisa beberapa slice sisa, ada rasa senang mendapati satu kalimat yang dulu pernah aku ucapkan kepada seseorang diingat sampai sekarang.

"Aku suka strawberry sama susu, enak, manis, nyegerin, bikin stressku langsung ilang."

Entah sudah berapa tahun aku mengatakan hal itu kepada Jendra dan pria itu masih mengingatnya sampai sekarang, jika kalian ada di posisiku aku yakin kalian akan merasakan dilema yang sama. Disatu sisi kalian senang ada teman lama kalian yang memperhatikan, apalagi disaat kondisi hati kalian yang sangat buruk, tapi disisi lainnya pun kalian waswas mendapati sosoknya berada diantara lingkaran mafia yang menjadi target operasi besar dari penegak hukum negeri ini.

Dia tahu dimana aku berada, tapi aku tidak tahu dimana dirinya tengah berdiri, bisa jadi dia memperhatikanku yang sekarang tengah melihat memperhatikan cake yang dia berikan, tidak bisa aku bayangkan jika satu waktu nanti Olympic di usut dan ternyata Jendra sebagai salah satu CEO Casino dan Club mereka akan terlibat, bukan tidak mungkin aku akan berdiri berseberangan dengannya.

Jendra, sebenarnya permainan macam apa yang sedang kamu lakukan terhadapku sekarnag ini? Membuka kembali memori pertemanan  kita tanpa mau memperlihatkan diri, rasanya ini seperti sebuah  teka-teki.

My Innocent MonsterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang