Katakan aku gila namun aku sangat menikmati saat akhirnya aku melihat wajah Narendra yang terluka, egonya terkoyak mendengar bagaimana selama ini aku mengasihani cintanya secara sepihak yang tidak pernah bisa aku balas.
Luka dibalas kata maaf itu sangat tidak adil. Aku sudah berbaik hati dengan menghindarinya, menghargai pertemanan kita yang sudah sangat lama namun Narendra justru mengusikku dengan permainan gas lighting dan juga playing victim.
Untuk sejenak aku mengira Narendra seperti kehilangan kendali, aku sudah mempersiapkan diri jika dia mungkin akan memukulku tapi saat tangan itu hampir melayang ke wajahku, dia mengurungkannya.
"Katakan kamu berbohong, Cha. KATAKAN KALAU APA YANG BARUSAN KAMU BILANG ITU BOHONG! KAMU NGOMONG KAYAK GITU BUAT NYAKITIN AKU, KAN? BUAT BALAS APA YANG SUDAH AKU LAKUKAN KEPADAMU."
Seumur hidup aku mengenal Narendra, baru kali ini sosok tampan dan sempurnanya seperti orang gila, dia berteriak keras tepat di depan wajahku, ludahnya berhamburan penuh kemurkaan, dia benar-benar sakit hati dan terluka atas apa yang baru saja dia dengarkan. Sebagai putra sulung keluarga Cakraningrat, terlebih dengan perginya Jendra dari keluarganya, menjadikan Narendra sebagai sosok yang mengira dunia ada di bawah kakinya. Kini, setelah akhirnya dia mendnegar kenyataan bahwa dirinya tidak pernah berhasil meraih cintaku, harga dirinya hancur berhamburan.
Aku tidak goyah ditempatku, orang lain mungkin akan menciut mundur saat mendapatkan kemarahan luar biasa Cakraningrat satu ini namun aku justru mencemoohnya sembari mengusap wajahku yang terkena hamburan ludahnya.
Dasar si4lan, sebelumnya si Gatal Nadira yang meludahiku dan kini giliran pasangan selingkuhannya yang melakukannya.
"Ya, aku tidak pernah mencintaimu! Sedikit pun! Semua sikap baikku kepadamu selama ini hanyalah bentuk belas kasihan dan kewajiban sialan yang harus aku lakukan karena orangtuaku terlanjur menerimamu sebagai calon suami." Memanfaatkan dirinya yang syok tidak percaya, aku mendorongnya untuk mundur, telunjukku terangkat, tepat ke depan wajahnya, "Narendra Cakraningrat, kamu tidak seistimewa itu dimataku! Sejak dulu, sampai sekarang. Jadi berhentilah menjadi anak Mama yang pengadu, perbaiki kesalahanmu, jadilah Ayah yang baik untuk anakmu yang malang karena memiliki Ayah dan Ibu seornag pecundang, serta menjauhlah sejauh mungkin dari hidupku, aku tidak mau memperbaiki hubungan yang sudah kamu rusak dengan pengkhianatan." Seenaknya dia berselingkuh dan selanjutnya dia ingin aku memaafkannya lalu mengasuh anaknya, meeeeehhhh, dia pikir aku ini apa? Manusia batang pisang yang nggak punya perasaan? Dia pikir cuma dia satu-satunya laki-laki di dunia ini sampai aku seputusasa itu? "Jadi menyingkir, Ren. Menjauhlah. Bahkan sebagai atasan pun kamu sudah tidak memiliki rasa hormatku lagi."
Aku merapikan pakaianku, membersihkan sentuhan-sentuhan yang sudah dia berikan di bahuku yang pasti sekarang lebam karena ulahnya. Tidak ada rasa kasihan yang aku rasakan saat aku melihatnya yang frustrasi.
Enggan untuk berada satu udara yang sama dengannya, aku memilih mundur dan berjalan menjauh darinya. Tendangan keras disertai raungan menyakitkan terdengar di belakangku sarat akan keputusasaan, namun sekedar menoleh untuk tahu barang apa yang sudah ditendang Naren sebagai pelampiasan atas kemarahannya pun aku tidak sudi. Ya, sebenci itu aku kepadanya, bahkan untuk sekedar melihat saja aku sudah enggan.
"BERANINYA KAMU NGELAKUIN SEMUA HAL INI KEPADAKU, CHA! BERANINYA KAMU MEMPERMAINKANKU!"
Dia yang selingkuh, dia pula yang merasa tersakiti. Dimana-mana orang brengsek itu pola pikirnya sama saja ternyata. Ngerasa paling berjuang dalam hubungan begitu dikasih tahu kalau selama ini kita pun usaha mati-matian belajar cinta ke dia biar dia nggak tersakiti, hancur harga dirinya.
Semua orang melihatku, Cafe depan Kantor kami ini sering aku kunjungi dan beberapa orang yang melintas pun tahu jika aku dan Narendra adalah kekasih. Setahu mereka aku adalah kekasih yang sering merecoki Narendra di jam kerja itu sebabnya banyak tatapan menghakimi yang aku dapatkan. Yah, gosip datang dan pergi, tidak semua orang tahu jika pasangan selingkuh Nadira adalah Naren, itu sebabnya mereka menyalahkanku.
"Jangan dengerin, itu drama King lagi akting jadi korban tersakiti padahal dianya yang selingkuh dari saya!"
.......
Hubunganku dengan Narendra benar-benar berakhir, satu-satunya yang tersisa dariku untuknya adalah rasa profesionalitas antara anggota dan atasan. Bahkan jika bisa memilih, aku akan menghindarinya, sayangnya pria brengsek ini benar-benar tidak tahu malu.
Tidak hanya menyodorkan Tante Amarta lengkap dengan ide gila untuk menunggu dudanya bonus bayi, kegilaan Narendra yang seringkali mengirimiku makanan, minuman dan bunga masih terus berlanjut, dan sumpah ini benar-benar menggangguku, membuatku hampir gila. Entah apa yang ada di pikiran Narendra sebenarnya, apa Naren pikir aku akan luluh dengan semua makanan dan perintilannya ini? Jika dia berpikir seperti itu aku benar-benar kasihan kepada kemampuan otaknya yang benar-benar menurun.
Karena perselingkuhan yang Narendra lakukan, kini caraku melihatnya sudah berubah. Tidak ada lagi Narendra yang berwibawa dan mengagumkan, pesonanya hilang tertelan pengkhianatannya.
Sama seperti siang ini, disaat kami semua tengah meeting untuk kasus yang akan di handle Bondan dan juga Jacob tentang sindikat penggelapan mobil rental yang marak di Jakarta untuk dieksekusi di Jawa dengan apartemenku sebagai markas sementara kami, Mutia datang dengan tergesa membawa seabrek makanan yang langsung membuatku membanting bolpoin dengan keras.
"Apalagi sekarang! Jangan bilang kalau semua makanan itu buat gue!" Aku berkata seperti ini bukan karena kepedean tapi karena aku muak dengan makanan-makanan yang dikirimkan oleh Narendra. Semua orang yang mengikuti meeting yang dipimpin oleh Faisull ini menatap Mutia seolah menyalahkannya karena sudah membawa makanan itu masuk.
Sikapku sangat keterlaluan, ya aku menyadarinya, tidak seharusnya aku marah karena masalah pribadiku, syukurlah, semua rekanku memakluminya, mereka paham bagaimana enegnya aku yang masih saja di kejar oleh Narendra, tapi Mutia yang membawa paper bag makanan tersebut justru mendekatiku, dikeluarkannya minuman warna merah muda menyegarkan itu kepadaku.
Special for Acha.
"Cha, gue yakin ini bukan dari Naren makanya gue bawain ini ke lo. Lagian gue tadi ketemu kurirnya dibawah waktu gue naik, waktu gue nanya yang ngirim Narendra bukan? Dia malah nunjukin notes, 'penerimanya tahu kok siapa saya.' Ya udah, aku bawa saja."
Tulisan di cup Strawberry smoothies tersebutlah yang membuat Mutia memberikan minuman itu kepadaku, sementara dia juga mengeluarkan chantily cake satu loyang besar ke atas meja yang langsung membuat semua orang menelan ludah karena tergiur.
"Fix, ini bukan Naren yang ngirim. Selama ini makanan yang lo hibahin ke kita dari dia itu kalau nggak kopi ya yang rasa-rasa dark cocholate atau mocha, lah ini busyeeeet ngejreng bener ini makanan sama minuman dimana!" Celetukan Jacob membuat semua orang yang ada di ruangan ini terkikik, tangannya meraih pisau yang tersedia untuk memotong chantily cake yang penuh dengan buah segar itu.
"Sa, kasih tahu ke kita, ini selera lo yang berubah habis diselingkuhi atau memang sebenarnya yang modelan kayak gini yang lo suka dari dulu?
Pertanyaan dari Faisull membuatku menelan ludah, alih-alih menjawabnya aku justru menatap smoothies strawberry dari salah satu gerai juice sehat langgananku.
Demi Tuhan, satu-satunya orang yang terpikir olehku akan makanan favoritku yang lagi-lagi dikirimkan kepadaku masih orang yang sama seperti sebelumnya.
Jendra Cakraningrat, apa maksudnya ini semua? Tidak tahukah dia sikapnya ini mengusik hidup nyamanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Innocent Monster
RomanceMengambil karier yang berbeda dari Sang Ayah, Harsa Anindya justru memilih STIN dibandingkan Akmil ataupun Akpol. Dan kini, sosok menggemaskan Acha sudah lenyap berganti menjadi seorang wanita tangguh seperti bunglon yang bisa dengan mudah menyaru...
