Rumah Arin menyenangkan tapi aku sadar aku tidak bisa terus berdiam diri di tempat yang damai ini. Hatiku sudah tidak begitu sesak usai mendapati nasihat yang begitu adem dari orangtua Arin yang luar biasanya begitu menenangkanku. Merasa sudah cukup tenang aku membereskan koper yang aku bawa, dan aku berpamitan kepada orangtua Arin untuk pergi.
Aku boleh patah hati hingga nyaris mati tapi dunia terus berjalan tanpa peduli dengan setiap masalah yang terjadi pada manusianya. Termasuk diriku, meskipun aku sangat enggan untuk ke kantor, tapi aku harus melapor secara formal kepada Faisal, tunangan Arin, tentang misi Mario Thailand yang sudah berhasil aku eksekusi dengan rapi, aku harus melakukannya. Aku hanya berharap hidung Narendra terluka cukup parah karena tinjuku sehingga aku tidak perlu bertemu dengannya nanti dikantor. Sayangnya benar aku tidak bertemu dengan Narendra, tapi aku justru bertemu dengan Papi yang keluar dari kantor dengan tergesa, wajah beliau memerah karena marah, tangan beliau berlumuran dengan darah, bisa aku pastikan jika apapun yang beliau lakukan di dalam sana, itu karena beliau sudah tahu pasal perselingkuhan yang dilakukan Narendra.
Sungguh aku sangat sedih melihat Papi yang begitu hancur, sebagai anak aku mati-matian berusaha membanggakan orangtuaku, aku berusaha membahagiakan mereka namun orang-orang jahanam itu dengan entengnya justru melukai orangtuaku. Bukan hanya aku yang terluka karena pengkhianatan ini tapi juga orangtuaku.
"Papi......."
Menahan rasa sesak yang menggumpal di dadaku dan menyimpannya rapat-rapat dibalik senyuman tegar yang berusaha aku tampilkan karena aku tidak ingin Papa semakin sedih melihat keadaanku, aku mendekati Papi yang terpaku saat melihatku tapi hanya sedetik karena saat melihatku berlari ke arahnya Papi langsung merentangkan tangannya memintaku untuk masuk ke dalam pelukan beliau. Bagiku Papi adalah sosok pria paling romantis yang pernah aku temui dalam hidupku, wajah beliau yang sebelumnya begitu garang kini melembut saat beliau melepaskan pelukannya dan menangkup wajahku.
"Acha Sayang, kamu sudah pulang! Bisa-bisanya kamu nggak ngabarin Papi."
Alih-alih menjawab apa yang ditanyakan oleh Papi aku justru mengeratkan pelukanku semakin erat, persetan dengan usia, aku akan tetap memeluk Papi seerat mungkin saat aku merasakan gelisah. Pelukan Papi adalah tempat ternyaman di dunia ini, lagi pula aku ingin memastikan Papi tenang, aku tahu, suasana hati Papi sama hancurnya sepertiku karena ulah pria yang beliau anggap seharusnya mampu menjaga dan menyayangiku sama besarnya seperti beliau. Merasa sudah cukup meraup energi dari Papi aku mendongak, menatap sosok tampan yang menjadi cinta pertamaku dan membuatku merasa menjadi anak paling beruntung di dunia ini.
"Papi nggak perlu ngehajar Naren, dia sama sekali nggak worth it! Papi terlalu berharga untuk ngehadepin pengkhianat macam dia!"
Ya, dua orang itu terlalu sampah bahkan untuk sekedar mendapatkan kemarahan dari kami. Aku terlalu marah hingga satu-satunya hal yang aku inginkan hanyalah tidak pernah melihat wajah mereka lagi seumur hidupku.
"Cha......" Sayangnya orangtua mana yang hatinya tidak hancur saat melihat anaknya terluka, aku melihat luka yang sangat besar saat aku menatap mata teduh Papiku, aku menggeleng pelan, berusaha tersenyum untuk meyakinkan Papi bahwa aku baik-baik saja, duniaku tidak berhenti berputar hanya karena ulah dua ulat gatal tersebut.
"Don't be Sad, Papi. Anak Papi ini wonder woman! Patah hati nggak akan bikin Acha tumbang, lihat Acha baik-baik, Acha nggak ada nangis karena memang dua pengkhianat itu sama sekali nggak worth it buat Acha tangisin."
Aku mempertahankan senyumanku, namun Papi justru menghela nafas panjang dengan sangat berat saat beliau mengusap puncak kepalaku.
"Pindah divisi ya, Cha!"
Saat aku memergoki perselingkuhan menjijikkan tersebut aku memang mempertimbangkan untuk pindah divisi, hal yang mudah saja aku lakukan mengingat betapa berpengaruhnya Papi, tapi saat hatiku semakin tenang, pemikiran tentang pindah divisi hanya untuk menghindari Narendra sangat tidak dewasa.
Aku susah payah membuktikan diriku pada dunia jika aku mampu tanpa embel-embel nama Papi, dan segala yang aku bangun akan hancur jika aku mengambil tindakan konyol tersebut, cukup Narendra menghancurkan hatiku, aku tidak akan mengizinkan dirinya menjadi alasan kehancuran karierku. Itu sebabnya aku menggelengkan kepalaku mantap menolak tawaran Papi yang sangat menggiurkan.
"Acha nggak akan pindah, Pi. Dan Acha nggak mau Papi campur tangan soal ini, Acha bisa jaga diri dan jaga hati, Pi. Seorang Tanaka dan Aryaatmaja tidak akan hancur karena dua orang pengkhianat itu. Perlu lebih dari mereka untuk menumbangkan Acha. Justru dua ulat bulu itu harus melihat betapa salahnya mereka yang berani mengkhianati Acha."
Aku beranjak mundur, menyunggingkan senyuman terbaikku kepada Papi dan itu membuat Papi tertawa karena sikap centilku yang hanya aku perlihatkan kepada Papi.
"Kamu bikin Papi bangga sama kedewasaan kamu, Cha."
Tawaku seketika mengudara, pujian Papi adalah pengakuan tertinggi untuk pencapaianku, "akhirnya Papi ngakuin kalau Acha udah gede. Nggak perlu khawatirin Acha Pi, bersyukur kebusukan mereka terungkap sebelum menikah. Mungkin memang udah takdirnya Acha nungguin Rahwananya Acha dari Alengka!"
Hancurnya hubunganku dengan Narendra membuat mimpiku tentang sosok Rahwana muncul kembali, katakan aku gila tapi disaat dunia memihak pada Rama, menjadikan dia rolemode seorang pria idaman, aku justru jatuh cinta pada sosok Rahwana, sosoknya fiksi namun aku ingin menemukan sosoknya di dunia nyataku.
"Kamu ini ngawur, dimana-mana rolemodenya itu pangeran berkuda putih, kamunya malah pengen spek Rahwana!"
Yah, Papi dan cibirannya yang tidak berubah membuatku merengut.
"Lah gimana, modelan pangeran berkuda putihnya udah jadi milik Bu Juni Rania Aryaatmaja, ya sudah Acha cari alternatif lain." Sosok pangeran kuda putih yang sempurna hanya Papi, dan sisanya adalah sosok brengsek, contohnya Narendra sendiri, spek pangeran tapi doyan selingkuh juga, "Pokoknya Papi nggak usah mikirin Acha. Nggak usah ngomong sama Mami juga masalah ini, semakin lama Mami tahu, semakin bagus. Acha nggak mau Mami kepikiran ulah anak Sundel itu."
Ya, melihat Mami terluka adalah hal terakhir yang aku inginkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Innocent Monster
RomanceMengambil karier yang berbeda dari Sang Ayah, Harsa Anindya justru memilih STIN dibandingkan Akmil ataupun Akpol. Dan kini, sosok menggemaskan Acha sudah lenyap berganti menjadi seorang wanita tangguh seperti bunglon yang bisa dengan mudah menyaru...
