Jika ada hal yang paling aku benci di dunia ini mungkin adalah saat aku melihat orang yang aku sayangi terluka, baik Narendra maupun Nadira, dulu mereka merupakan salah satunya namun sekarang aku justru menatap Nadira dengan penuh kebencian atas apa yang sudah dia lakukan pada Mami.
Apa maksudnya dia dengan berani-beraninya datang ke rumahku bahkan setelah semua pengkhianatannya, aku dan Papi setengah mati berusaha menjaga perasaan Mami agar tidak bersedih tapi si anak pungut ini, bisa-bisanya dia bermain drama dengan sangat menjijikkan. Entah dimana urat malunya hingga dia bisa bersikap sebegitu nekadnya, si Sundal pikir dengan Mami tahu bahwa dia hamil, Mami akan menghubungi orangtua Narendra begitu dan syukur-syukur meminta Narendra bertanggungjawab atas kehamilannya? Jika dia berpikiran demikian, maka dia telah melakukan kesalahan besar, kemarahan Mami hingga dengan tega mengusirnya sudah pasti menghancurkan semua rencana yang dia buat, kini Nadira terdampar di depan rumah berteriak-teriak kepada Mami agar tidak diusir, sementara aku bersedekap menatapnya yang bertingkah seperti orang gila.
Bahkan sampai di detik inipun aku tidak menyangka jika perempuan yang aku anggap adik ini bisa begitu keji kepadaku dan kepada keluargaku.
"Doa seorang Ibu itu tembus langit, Ulat Bulu!" Jengah dengan teriakannya aku membuka suara, untuk terakhir kalinya aku ingin mengingatkan perempuan tidak tahu diri ini betapa besar kerusakan yang sudah dia buat terhadap Mami, astaga, bahkan selama ini aku harus menahan rasa iriku jika Mami memperlihatkan kasih sayang yang lebih besar kepadanya dibandingkan kepadaku, saat itu terjadi apa aku pernah marah? Tidak, setiap kali aku ingin marah aku selalu mengingatkan pada diriku sendiri jika tidak seharusnya iri saat Mami menyayangi saudaraku yang lain, "Mami menyayangimu, dan kamu, anak yang dipungutnya justru dengan tidak tahu dirinya melukai beliau! Kamu pikir aku tidak tahu kamu sengaja meletakkan testpack itu di toilet, hah?! Aku tahu cara berpikir ulat bulu gatal sepertimu! Bisa-bisanya ya ada orang yang begitu culas sepertimu! Kamu itu benar-benar ulat bulu, ular berkepala dua! Sekarang, minggat kau dari rumahku, pergi sono ke tempat Naren, kita lihat seperti apa keluarga Cakraningrat memperlakukanmu, akan kupotong telingaku jika mereka menerimamu!"
Dengan marah aku mengusirnya, aku sudah tidak tahan lagi melihat wajahnya yang tidak tahu malu ini di hadapanku. Aku sudah tidak peduli lagi mau dia merebut Naren atau apapun, yang terpenting dia segera minggat atau mungkin aku akan bertindak nekad dengan mencekiknya. Sayangnya manusia tidak tahu diri ini justru mendongakkan kepalanya, menantangku dengan wajahnya yang menyebalkan.
"Kenapa? Masih nggak terima hah kenyataan kalau Narendra lebih memilihku dibandingkan kamu! Sudah terbukti kan kalau aku lebih baik darimu! Bersiaplah memotong telingamu karena Narendra pasti akan menikahiku, disini, aku membawa pewarisnya! Sudah pasti dia akan menikahiku, dan saat itulah aku akan berbalik menertawakanmu!"
Astaga, mendengar kalimat yang dilontarkan olehnya rasanya aku masih tidak percaya jika perempuan yang sudah aku anggap ini bisa sejahat dan seburuk ini, aku dan dirinya di didik dengan baik oleh Mami tapi kenapa kelakuan Nadira ini seperti setan? Alih-alih sadar akan kesalahannya dia justru semakin menggila bahkan tanpa sungkan dia menunjukkan ambisinya. Jika tolak ukur lebih baik menurutnya adalah mau merendahkan diri untuk mendapatkan apa yang diinginkan, lebih baik aku tidak baik sekalian dimata Narendra.
Tanpa sadar aku bergidik jijik, perutku terasa semakin mual semakin lama berhadapan dengan Nadira. Jika Nadira pikir aku akan membalas cemoohnya dengan mencak-mencak maka dia keliru, kusipitkan mataku dan aku menatapnya penuh dengan penghinaan yang aku berikan atas kepercayaan dirinya dan rasa naifnya yang menggelikan, mungkin keluarga Cakraningrat akan menerimanya, tapi percayalah, aku mengenal keluarga Cakraningrat jauh lebih baik daripada Nadira, dan mereka tidak sebaik yang terlihat apalagi terhadap orang yang berani mengusik nama besar keluarga mereka.
"Good luck, kalau begitu!" Ujarku pada akhirnya. Enggan berdebat lebih lama dengan manusia yang sudah penuh dengan iri dan dengki tersebut, "Sedikit info, buruan temuin dia di RS Bhayangkara sekarang sebelum dia mati tanpa tahu hasil perselingkuhannya ngehasilin bayi! Kurang baik apa lagi gue ke manusia sampah kayak lo! Pak Parto, tutup gerbangnya, dan jangan biarin sampah berjalan ini datang lagi! Kalo perlu keluarin Jason kalau dia berani datang!"
Dengan sombong aku berbalik dengan penuh gaya, aku bukan orang yang sombong, bahkan aku tidak pernah memamerkan betapa menjadi anak tunggal Aryaatmaja dan Tanaka membuat hidupku nyaman dan mudah, tapi untuk manusia modelan Nadira yang sudah mencicipi kenyamanan tapi malah melemparkan kotoran ke wajah kami, wajib hukumnya untuk sombong kepadanya. Aku ingin Nadira sadar dimana posisinya berada.
Disaat dia mengkhianatiku, aku tidak rugi apapun, duniaku tidak goyah, aku tetap berada ditempatku berada, sedangkan dia, kini dia tidak bisa lagi mencicipi kenyamanan yang dulu dia rasakan, sama seperti dulu dimana dia ditemukan Mami dan Papi di trotoar, kini dia pun kembali ke asalnya, ke tempat yang seharusnya dia berada seandainya orangtuaku tidak berbaik hati memungutnya.
Definisi manusia nggak tahu diri, nggak tahu terimakasih dan tidak tahu malu itu ya Nadira. Demi setiap luka yang aku rasakan, dan yang dia torehkan kepada orangtuaku, aku berharap orang macam Nadira ini semoga tidak bahagia.
Rasanya tidak adil jika dia tidak mendapatkan karma yang setimpal
KAMU SEDANG MEMBACA
My Innocent Monster
RomansaMengambil karier yang berbeda dari Sang Ayah, Harsa Anindya justru memilih STIN dibandingkan Akmil ataupun Akpol. Dan kini, sosok menggemaskan Acha sudah lenyap berganti menjadi seorang wanita tangguh seperti bunglon yang bisa dengan mudah menyaru...
