Mengambil karier yang berbeda dari Sang Ayah, Harsa Anindya justru memilih STIN dibandingkan Akmil ataupun Akpol. Dan kini, sosok menggemaskan Acha sudah lenyap berganti menjadi seorang wanita tangguh seperti bunglon yang bisa dengan mudah menyaru...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hollllaaaaaaa Ikuti juga kisah Harsa di aplikasi Kbm dan KaryaKarsa. Happy reading semuanya
"Yang sabar, Sa."
"Sabarin saja, Sa."
"Yang namanya bukan jodoh Sa mau gimana pun pasti ada saja cara putusnya."
"Tetap profesional ya, Sa."
"Semoga secepatnya dapat ganti ya, Sa."
"Jangan lama-lama patah hatinya gegara ditinggal kawin ya, Sa."
"Ya gimana nggak kalah ya, Sa. Lawannya main ngangkang kita yang sibuk kerja dan berjuang ya nggak mampu....."
Diantara banyaknya kalimat penghiburan dan simpati yang membuatku jengah mungkin kalimat dari Mutia, salah satu staf IT Divisi Krimsus, yang membuatku pada akhirnya tertawa. Yah, aku jengah sekali dikasihani selama beberapa minggu belakangan ini, apalagi saat akhirnya Narendra dan surat sakti Om Budiman keluar untuk mengurus pernikahan yang harus segera dilaksanakan karena kehamilan Nadira semakin besar, semakin menjadilah kalimat simpati dan tatapan kasihan itu aku dapatkan. Padahal yang sebenarnya terjadi aku tidak semengenaskan itu, ya, aku hancur, aku terluka namun seperti yang semua orang ingatkan kepadaku, duniaku tidak kiamat hanya karena aku kehilangan dua orang pengkhianat tersebut dari hidupku.
Bahkan saat semua orang mengatakan sanksi yang didapatkan Narendra hanyalah penundaan kenaikan pangkat tanpa mutasi jabatan dan divisi yang terkesan tidak adil, aku sama sekali tidak peduli. Bagiku Narendra sudah mati, begitu pula Nadira, ada kesepakatan tidak terkatakan antara aku dan orangtuaku untuk tidak membahas dua orang tersebut lagi dalam obrolan kami. Aku dan orangtuaku menjalani hari-hari kami setelahnya dengan biasa-biasa saja, sayangnya semua orang justru mengatakan aku sangat menyedihkan karena aku masih harus berurusan dengan Narendra setelah kandasnya hubungan kami.
Orang-orang mungkin mengira aku akan depresi karena hubungan kami sangat lama dan endingnya aku justru diselingkuhi dengan saudaraku sendiri, sayangnya aku tidak semenyedihkan itu, bahkan saat keadaan mengharuskanku berulangkali bertemu dengan Narendra, aku berhasil menganggapnya seperti debu yang tidak penting dan tidak terlihat dimataku. Yah rupanya pria itu berhasil lolos dari amukan maut Papiku, padahal aku dan Papi berharap Narendra akan langsung ke Neraka. Sepertinya Malaikat maut pun enggan berurusan dengan putra sulung Cakraningrat tersebut.