Benar-benar ular

2.4K 352 32
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Sa, lo nggak mau lihat keadaan Naren sekarang habis di hajar bokap lo?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Sa, lo nggak mau lihat keadaan Naren sekarang habis di hajar bokap lo?"

Pertanyaan yang diberikan Faisull sontak membuatku memutar bola mataku dengan malas, tidak hanya itu aku pun tidak lupa memberikan cibiran kepadanya. "Kalau lo abis mergokin tunangan lo selingkuh sama saudara lo sendiri, terus tunangan lo di gampar sama Nyokap lo, lo masih bisa kasihan sama dia? Terserah kalau lo masih bisa kasihan, mungkin hati lo emang seluas laut Jawa, tapi sayangnya gue nggak sebaik itu, bahkan buat datang ngasih laporan lo disini hanya karena jiwa baik lo berkobar mau-mauan aja nganterin tuh botol kecap, gue terpaksa setengah mati. Jadi jangan maksa gue buat berbuat lebih dari yang gue bisa, anggap saja tuh Botol kecap masih cukup beruntung nyawanya masih nempel!"

Aku sangat paham tentang hierarki kepemimpinan, diluar mungkin aku dan Faisull berteman dekat, tapi sekarang ini posisiku adalah seorang anggota yang melapor kepada atasannya tapi sungguh aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak merepet pada Faisull perkara dia yang dengan entengnya memintaku untuk melihat keadaan Narendra.

Persetan dengan kondisinya. Tidak ada rasa iba yang ada aku justru kesal kenapa Papi tidak langsung mengirimkan Narendra ke akhirat saja langsung, kenapa cuma tulang retak dan masuk UGD? Kenapa tidak masuk kamar mayat sekalian?

Faisull berdeham saat akhirnya aku berhenti berbicara, dadaku bergerak naik turun dengan cepat karena emosi yang aku rasakan. Terlihat Faisull tampak salah tingkah merasa tidak nyaman dengan apa yang baru saja dia lakukan kepadaku.

"Sorry, Sa. Gue minta maaf, gue nggak bermaksud....."

"Iya, gue paham, Sull. Gue ngerti gimana pun Naren, dia sahabat lo, tapi tolong, jangan gunakan kuasa yang lo miliki buat bikin gue berinteraksi atau bahkan Maafin dia, gue terlalu sakit hati, masih syukur gue nggak langsung bunuh dia ditempat sama selingkuhannya sekalian."

Faisull menggeleng keras, "gue sahabatan sama Naren, tapi gue nggak memaklumi sikapnya ini. Mau gimana pun alasannya selingkuh itu kesalahan, gue udah ngomong kan tadi, ada yang nggak beres antara Nadira dan Naren belakangan ini tapi gue juga nggak nyangka kalau mereka bakal sejauh ini....."

"Tunggu, jadi lo tahu Naren sama Nadira deket selama ini? Dan lo diam saja nggak bilang ke gue?" Mendengar apa yang dikatakan oleh Faisull aku langsung memotongnya dengan penuh amarah, sungguh aku seperti badut sekarang, rupanya rekanku sendiri mengetahui tentang perselingkuhan menjijikkan ini, kenapa Faisull hanya bermain teka-teki tanpa memberitahu secara langsung kepadaku? "Sh*t, kenapa gue jadi ngerasa badut kek gini!" Aku sudah sangat marah kepada Faisal namun seolah paham dan tidak ingin aku semakin murka kepadanya, Faisal dengan cepat menjelaskan.

"Gue nggak ada bilang apa-apa ke lo karena gue nggak bisa ngomong sesuatu yang nggak pasti kebenarannya, Sa. Sebulan lo berangkat ke Thailand, Nadira sering datang ke kantor, bawain banyak makanan, dan satu waktu saat gue ngerasa interaksi mereka udah nggak wajar, gue negur Naren, tapi jawaban yang gue dapat cuma dia bilang kalau wajar Nadira datang bawain makan siang karena lo nggak pernah ngasih Naren perhatian, apalagi Nadira bukan orang lain, Nadira saudara lo yang nggak semestinya gue curigain. Coba bilang ke gue, kalau lo ada di posisi gue, apa yang bakal lo lakuin? Selain gue khawatir masalah pribadi lo bikin misi berantakan, gue nggak bisa asal ngomong, Sa. Jadi so Sorry, Sa. Sorry karena seharusnya apapun kebenarannya mestinya gue bilang ke lo."

Semakin aku mendengar fakta tentang perselingkuhan Narendra dan Nadira, semakin besar rasa kecewa yang aku rasakan, bahkan aku tidak punya kemampuan untuk menangis lagi meratapi betapa wanita yang aku anggap saudara justru dengan tega menggoda tunanganku, aku tidak habis pikir Nadira memiliki kemampuan sebesar itu untuk melukaiku, demi Tuhan, apa kurangnya aku kepadanya? Segalanya aku bagi tanpa pernah merasakan keberatan, haruskah dia juga menginginkan tunanganku?

Aku menghela nafas panjang, merasakan air mata mengumpul dipelupukku sampai terasa panas namun aku bahkan sampai tidak sanggup menangis saking sakitnya. Aku kira aku sudah baik-baik saja saja dengan banyaknya dukungan yang aku terima, tapi nyatanya aku masih berdarah-darah, tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan Faisal aku memilih untuk pergi begitu saja meninggalkan Faisal yang melihatku penuh dengan rasa iba.

Persetan dengan Narendra yang ada di rumah sakit, aku berharap sepenuh hati semoga dia m4ti saja. Merasakan hatiku yang semakin hancur tidak karuan, aku memutuskan untuk berjalan-jalan, berputar-putar dengan Grab mengelilingi Jakarta tanpa tujuan, sepanjang perjalanan aku hanya merenung, memikirkan bagaimana hidupku yang awalnya damai kini berubah dalam sekejap. Benar ya yang dikatakan orang, perselingkuhan adalah penghancur mental nomor satu untuk wanita. Mereka terluka, kehilangan kepercayaan diri, membuat rendah diri. Bersyukur driver Grab yang aku dapatkan tidak protes sama sekali saat aku meminta untuk off argo dan menemaniku berkeliling Jakarta sampai larut malam. Wajah suntukku sudah cukup untuk membuat orang-orang mengasihaniku.

Demi Tuhan, kenapa rasanya sakit sekali, sih? Berulangkali aku mengatakan hal itu dalam diamku, luka yang aku rasakan tidak berdarah tapi seribu kali lipat lebih menyesakkan daripada terhantam tinju atau peluru saat latihan. Ada disatu titik dimana sekedar bernafas saja terasa sulit, tidak peduli banyaknya nasihat yang aku dapatkan, nyatanya semakin aku tahu bagaimana menjijikkannya perselingkuhan ini, semakin hancur hatiku, mungkin aku akan berkeliling sampai esok pagi jika saja driver yang sedari tadi sore diam kini mengeluarkan suaranya.

"Mbak, dunia nggak akan kiamat hanya karena Mbak sakit hati. Berhenti nyalahin diri Mbak, Mbak nggak salah apa-apa! Orang-orang berkhianat bukan karena kita ada kurangnya tapi mereka saja yang kurang bersyukur punya kita."

Mudah menasehati tapi sulit untuk dijalani, dan pada akhirnya aku pulang ke rumah dalam kondisi lelah luar biasa, fisik dan hati namun aku hanya bisa sebatas memeluk Mami tanpa sanggup bercerita, bahkan saat aku belum bisa memejamkan mata, aku mendengar Mami berteriak luar biasa keras dari lantai bawah yang membuatku menemukan fakta baru yang menambah luka di hatiku.

"ACHA, NADIRA, PAPI, TURUN KALIAN SEMUA!"

Sepertinya takdir ingin memberiku hadiah yang luar biasa karena mengujiku bertubi-tubi tanpa jeda saat Mami mengacungkan testpack dengan hasil positif di depan wajahku, aku bukan orang bodoh yang tidak bisa menebak kemana arah drama ini berlanjut.

Ya Tuhan, Nadira! Rupanya kami benar-benar memelihara ular di rumah kami, dan kini ular itu tanpa malu memperlihatkan betapa kejinya dia saat mematuk untuk melukai kami. Bukan hanya aku yang dia sakiti, tapi juga Mami, sosok paling tulus yang mencintainya tanpa syarat.

My Innocent MonsterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang