Mengambil karier yang berbeda dari Sang Ayah, Harsa Anindya justru memilih STIN dibandingkan Akmil ataupun Akpol. Dan kini, sosok menggemaskan Acha sudah lenyap berganti menjadi seorang wanita tangguh seperti bunglon yang bisa dengan mudah menyaru...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ramaikan juga yuk di KBM
Dwijendra Cakraningrat, mengeja namanya pelan aku berusaha menenangkan jantungku yang serasa ingin meledak. Pria ini, si brengsek yang bahkan hanya menampakkan dirinya beberapa kali saja setelah kami beranjak dewasa dan pada akhirnya menghilang begitu saja empat tahun lalu, kini muncul seolah dia pahlawan kesiangan yang menghibur patah hatiku.
Tidak heran dia tahu makanan dan minuman favoritku, selain Narendra, Jendra mungkin adalah orang yang aku izinkan untuk mengenal diriku yang sebenarnya. Dibandingkan tersanjung dengan sikapnya, yang menghiburku dan membuat Nadira kehilangan kariernya, yang ada aku justru merasa sebal. Setelah beberapa saat lalu kakaknya yang membuatku marah dan kecewa karena tingkah binatangnya, kini aku mendapati adiknya yang bertindak masuk ke dalam hidupku seenaknya.
Dia pergi sesuka hati, dan kembali dengan penuh dramatis. Aku ingin tahu sejauh mana pria brengsek yang secara fisik sudah berubah tersebut menguntitku selama ini. Bisa-bisanya dia menyaksikanku mengamuk pada kakak dan selingkuhan kakaknya tanpa memunculkan wajahnya ke hadapanku.
"Si Br3ngsek!"
Tanpa sadar aku bergumam membuat Arin melihat ke arahku kembali, "lo tahu siapa dia, Cha?"
Mengangguk penuh terimakasih pada staf keamanan kafe yang sudah mengizinkanku mengutak-atik rekaman CCTV aku menarik Arin untuk keluar, polwan satu ini pasti akan menjuluki hidupku drama komedi saat tahu siapa pria tersebut. "Tahu, si stalker usil sok pahlawan yang ngirimin gue notes ini adiknya si Botol kecap!" Aku meraih notes yang digenggam oleh Arin, dan langsung meremasnya kuat menjadi bulatan kertas lusuh sebelum akhirnya melemparkannya ke tempat sampah.
"Botol kecap? Si Naren maksud lo? Bujubusyeeet, sadis amat lo, begitu end langsung nggak sudi nyebut namanya!"
"Buat orang yang otaknya udah pindah ke mata kaki kayak dia nggak pantes dipanggil namanya, Rin. Orangtuanya ngasih nama yang berwibawa tapi kelakuannya kek binatang." Geramku tidak suka, ya, aku alergi dengan nama Narendra mulai sekarang.
Arin yang mendengar rutukanku seketika tergelak, polwan yang kesehariannya begitu serius bahkan cenderung brutal saat melakukan operasi ketertiban di jalan raya tersebut merangkulku dan menepuk-nepuk bahuku, "good, emang no permission Cha buat peselingkuh, apalagi selingkuhnya sama saudara lo sendiri. Pokoknya dua-duanya salah, nggak punya otak, gue bangga sama lo nggak nangis-nangis kayak dunia mau kiamat! Tapi serius Cha Stalker lo ini beneran adiknya Naren?"
Diraihnya tas dan koperku, sembari membimbingku untuk keluar dari kafe karena Arin penasaran dengan jawabanku, dan sejujurnya dibandingkan memikirkan Narendra dan Nadira, aku justru penasaran dengan kembalinya Jendra lengkap dengan kemunculannya yang tiba-tiba.
"Iya, dia adiknya si Botol kecap. Secara fisik dia berubah, tapi Rin gue kenal dia nyaris seumur hidup, mau dibentuk gimana pun gue bakal tetap nengalin dia."
"Tapi kenapa dia nggak duduk aja di depan lo, Cha! Sok misterius banget dia pake ngirim notes segala, tapi sumpil, gue kalau jadi lo bakal baper sih, secara dia muncul di saat lo bener-bener down masalah tunangan lo yang brengsek, dan satsetwatwut, dia bikin saudara lo yang nggak tahu diri jadi pengangguran seketika! Bisa bayangin nggak lo berapa duit yang harus dia keluarin buat bayarin pinalti, secara namanya mutus kontrak nggak gampang mutus tali pertunangan kayak yang lo lakuin!"
"Bahas aja terus kandasnya hubungan gue, bahas sampai lo sama Faisull beranak pinak gue juga nggak keberatan, Rin!" Kalimat sarkas yang aku berikan membuat tawa Arin semakin meledak, wajah cantik dan maskulin karena rambut pendeknya tentu saja sukses membuat beberapa orang melongok penasaran sedangkan aku tenggelam dalam rasa kesal berkepanjangan karena sikap sok cool Jendra. Tidak bisakah dia duduk di hadapanku secara langsung? Aku rasa itu akan lebih sopan untuk dilakukan oleh teman lama yang sekian waktu tidak bersua. Entah bagaimana sebenarnya cara berpikir kakak beradik Cakraningrat tersebut aku benar-benar tidak paham, apalagi mendengar tentang nominal ganti rugi atas apa yang dilakukan Jendra untuk memutus kontrak Nadira, semakin besarlah rasa penasaranku.
"Halah gitu aja ngambek, lo nggak cocok ngambek, Cha. Lagian udah bagus Allah kasih lihat buruknya si Naren sekarang sebelum semuany terlambat, coba kalau lo mergokin gilanya si Naren waktu kalian udah nikah, apa nggak lo bakar-bakar mereka hidup-hidup."
"Gue nggak bakal mikir dua kali sih buat bakar mereka, mati, mati deh mereka! Kalaupun masuk penjara gue juga bakal puas!"
Arin mengangguk, mengikutinya masuk ke dalam mobil, wanita yang dua tahun lebih tua dariku ini memberikan senyum kecilnya. "Nah itu, Narendra terlalu lemah buat lo yang strong, dibandingkan Naren, adiknya lebih on action. Nggak banyak cingcong, langsung bertindak. Gue jadi lo mah, bakal deketin adiknya Naren, Cha. Selain jadi balas dendam terepic, dicintai cowok badboy tapi ugal-ugalan dalam mencintai kayak gini itu oke banget!"
Aku menatap Arin, pacar Faisull tersebut senyum-senyum sendiri dan aku yakin wanita itu pasti menganggap idenya sangat jenius.
"Dibandingkan jadi Polisi, lo lebih cocok jadi penulis, Rin. Imajinasi lo soal jalan hidup seseorang ajib bener. Sayangnya nggak ada cinta-cintaan antara gue sama Jendra, just a friend, dan masalah terbesarnya, katakan gue gila mau nurutin saran lo....."
"............"
"Gimana gue gaet dia kalau gue loss contact dari dia selama bertahun-tahun."
Sebuah toyoran keras mendarat di kepalaku yang menunjukkan jika kekesalan Arin sudah sampai dibatasnya. "Lo ini Mbak In-In bukan, sih? Nyari nomor gitu saja nggak bisa. Bisa-bisanya patah hati bikin orang jadi bego."