Aku Tidak Pernah Mencintaimu

2.3K 385 30
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

HolaaaaaaaaYang punya aplikasi KBM bantu Mamak ramaikan lapak disana dong

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Holaaaaaaaa
Yang punya aplikasi KBM bantu Mamak ramaikan lapak disana dong

Dengan tenang aku menatap dua orang yang ada di hadapanku menyembunyikan amarahku yang begitu menggelegak. Jika saja aku tidak mengingat bagaimana baiknya Tante Amarta kepadaku selama ini mungkin aku tidak akan segan bertanya kepada Tante Amarta apa dia waras atau tidak sebelum bertanya pertanyaan konyol tersebut kepadaku.

Entah apa yang dipikirkan oleh Tante Amarta sehingga beliau berpikir aku akan mau menunggu anaknya yang peselingkuh itu bercerai dari Nadira kemudian mengurus cucunya tersebut. Narendra konyol, tapi Tante Amarta jauh lebih konyol lagi hingga rasanya di sela kemarahanku aku justru ingih tertawa.

"Saya nggak bisa bayangin gimana murkanya Papi kalau denger tawaran Tante barusan loh, Tan. Papi saja sudah merasa sangat terhina dengan perselingkuhan Bang Naren dan Nadira, astaga, bisa-bisanya loh diantara jutaan perempuan yang ada di dunia ini Bang Naren justru berselingkuh dengan saudara saya sendiri, dan sekarang Tante justru menawari saya jadi Baby sitter gratis buat cucu Tante, Tante mau rumah Tante dibakar Papi saya?"

Bukan maksudku meninggikan diriku di hadapan Mantan camerku ini, tapi sumpahlah, aku sampai kehilangan kata-kata untuk menghadapi beliau dan idenya yang nyentrik ini.

"Cha, kamu nggak sayang sama Naren? Kalian tunangan udah tiga tahun loh, kalian udah saling mengenal seumur hidup...." Tidak menyerah Tante Amarta masih getol membujukku, bahkan kini wajah beliau sudah mulai memelas, senjata andalan beliau jika ada yang beliau inginkan dariku, "tante sudah sayang banget sama kamu, Cha. Tante nggak bisa nerima orang lain jadi mantu Tante selain kamu."

Tante Amarta menggenggam tanganku dengan erat, namun perlahan aku melepaskannya, sungguh aku menyayangi beliau, aku tidak ingin menyakiti beliau namun jika untuk menghibur beliau adalah dengan memaafkan putranya aku tidak mau.

"Saya memaafkan apapun kesalahan Bang Naren, tapi tidak dengan perselingkuhan, Tante. Coba tempatkan diri Tante di posisi saya, satu waktu Tante kembali dari luar kota, Tante buru-buru ingin menemui Om tapi yang Tante dapatkan justru Om Budiman sedang having sex tepat di depan mata Tante dengan saudara Tante sendiri, katakan, disaat Tante sudah siap untuk memikirkan pernikahan, Tante sudah bersiap untuk minta maaf bahkan tanpa tahu kesalahan yang sudah Tante perbuat terakhir kali Tante bertengkar, yang Tante dapatkan justru pemandangan menjijikkan itu......" kalimatku terhenti, aku meraih tisu yang ada di tasku dan aku menutup mulutku karena rasa mual yang menggelegak di lambungku membuatku hampir muntah.

Dari seberang meja aku melihat Bang Naren yang mengusap wajahnya dengan frustrasi, di satu titik ini ingin rasanya aku berteriak kepadanya bagaimana hancurnya perasaanku pada hari dimana aku memergoki perselingkuhannya. Berminggu-minggu melalui chat dan sambungan telepon Narendra memperlakukanku dengan sangat buruk, membuatku merasa aku adalah wanita yang sangat keterlaluan, memang benar saat seseorang berselingkuh maka orang itu akan mati-matian membuat pasangannya terlihat bersalah. Bahkan untuk sekedar marah kepada Narendra pun aku sudah tidak sudi lagi.

"Tapi Cha Nadira yang menggoda Naren terlebih dahulu. Saudaramu itu yang menggoda Naren, bahkan dia mengatakan kepada Naren jika dia menggunakan kontrasepsi untuk menjebak Naren agar bisa hamil dan memaksa Naren menikahinya. Jangan terus menyalahkan Naren, Naren cuma korban, Nadira si ular itu yang membuat masalah....."

Demi Tuhan, aku tahu Tante Amarta menyebalkan, tapi aku tidak menyangka jika Tante Amarta adalah modelan emak-emak yang saat anaknya salah bukannya di ajarin tapi malah disembunyiin. Dibandingkan marah-marah karena hal itu akan sangat sia-sia, aku justru tertawa geli yang membuat Tante Amarta keheranan. Mungkin Tante Amarta ini mengira aku sudah gila.

"Kenapa kamu tertawa?"

"Ya karena Tante lucu sekali! Terlepas dari jebak dan terjebak, khilaf atau tergoda, singkat saja Tante tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Tante, saya tidak mau bersama dengan anak Tante yang celup-celup dan pipis enak ke wanita lain, bahkan sampai bunting segala. Bahkan untuk memaafkan saja saya belum bisa, apalagi untuk nungguin anak Tante jadi Duda terus nanti ngurusin anaknya. Acha nggak mau Tante. Titik. Nggak ada jawaban lain."

Panjang lebar aku menegaskan penolakanku kepada Tante Amarta, kembali aku sorongkan cincin berlian yang sudah bersamaku selama tiga tahun, sebelum akhirnya aku bangkit dan melihat ke pergelangan tanganku, untuk menegaskan kepada Tante Amarta jika waktu yang aku miliki untuk berbicara dengan beliau pasal omong kosong ini sudah selesai.

Ya, aku tidak tega dengan wajah sedih beliau, namun aku tidak ingin mengorbankan bahagiaku demi rasa tidak enak. Aku mendekati beliau, dan aku langsung memeluk beliau yang langsung menangis.
Percayalah, meski Tante Amarta sangat menyebalkan, aku sangat menyayangi beliau.

"Acha, Tante sayang Acha......"

"Acha juga sayang Tante kok. Maaf ya Tan kali ini Acha nggak bisa menuhin permintaan Tante."

Perlahan aku melepaskan pelukan beliau. Aku mencoba tersenyum sebelum akhirnya aku beranjak mundur dan berlalu untuk pergi. Aku tidak ingin memutuskan hubungan dengan Tante Amarta tapi sekarang aku perlu waktu untuk bernafas jauh dari Narendra.

Tapi apes untuk diriku yang berusaha sangat keras menghindari pria yang sudah membuatku trauma, si botol kecap ini justru berlari mengejarku.

"Cha, Acha, dengerin aku dulu......"

Aku mendengarnya memanggil namaku tapi aku tidak mau berhenti. Perutku sudah sangat mual setiap kali mengingat adegan menjijikkannya tempo hari, dan saat dengan lancangnya dia mencekal tanganku, aku akan benar-benar hampir muntah.

"Hoeeeekkkkkk....... Lepaskan!" Aku bahkan sampai tidak menyadari jika suaraku begitu keras sehingga menarik perhatian , satu hal yang aku inginkan adalah menjauh dari Narendra yang bahkan aku tidak bisa menahan rasa jijikku kepadanya.

Dan melihatku yang benar-benar kepayahan menahan mual pada akhirnya Narendra menyerah dia melepaskan tanganku dan mundur menjauh dengan wajahnya yang terluka.

"Aku dijebak Nadira, Cha. Meski gimana aku jelasin ke kamu. Aku nggak pernah cinta sama dia! Please, maafin aku, aku benar-benar khilaf. Beri aku kesempatan buat memperbaiki semuanya, Cha. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu."

Jika Narendra berpikir wajah memelasnya akan membuatku kasihan maka dia salah besar, semakin dia membuat alasan mencari pembenaran, semakin aku jijik kepadanya, "aku nggak peduli kamu dijebak atau tidak, kenyataannya kamu selingkuh, dan aku nggak mau bersama dengan seornag yang sudah mengkhianatiku, jadi tolong, berhenti menggangguku, aku tidak mau berurusan denganmu lagi, lebih baik fokuslah pada istri dan anakmu sendiri."

Seharusnya Narendra pergi saat aku masih bisa berbicara dengan baik, tapi pria itu justru mencengkeram lenganku dengan sangat erat dan menatapku penuh dengan kemarahan, "Cha, kenapa kamu nggak pernah bisa ngertiin aku kayak aku yang selalu ngertiin kamu. Hanya satu kesalahan diantara banyak kebahagiaan yang sudah aku berikan dan kamu membuangku begitu saja! Sekarnag jujur saja, selama ini kamu terpaksa kan bersamaku, itu sebabnya saat akhirnya kamu mendapatkan alasan untuk menendangku, tanpa pikir panjang kamu mencampakkanku begitu saja! Katakan, laki-laki mana yang sebenarnya kamu inginkan selama ini, Cha! Bahkan tiga tahun kita bersama pun kamu nggak bisa membalas perasaanku! KATAKAN!"

Aku yang sebelumnya sempat membeku karena syok atas sikap nekadnya, yang pasti akan membuat bahuku lebam, pada akhirnya tersadar kegilaan Narendra sudah sampai batas toleransiku. Aku tidak lagi meninju wajahnya atau menendangnya, tapi aku membalas setiap gas lighting yang dia ledakkan dengan senyuman mengejek terbaikku. Narendra pikir jurus playing victim akan berhasil kepadaku? Dia benar-benar salah besar.

"Pada akhirnya kamu sadar juga ya Ren kalau aku nggak pernah cinta sama kamu! Ya, sayang sekali perlu waktu yang sangat lama untuk kamu menyadarinya, say thanks untuk pengkhianatanmu karena akhirnya aku tidak harus mengasihanimu lagi."

My Innocent MonsterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang