Usikan yang tidak kunjung berakhir

532 67 15
                                        

Terbengkalai dari Tahun 2024 ternyata 😆
Ayo kita mulai Harsa dan Jendra lagi

"Jadi Olympic Group memiliki banyak lembaga penyalur kerja dengan berbagai nama untuk menjaring banyak perempuan dan laki-laki muda yang produktif dan sehat yang berminat bekerja diluar negeri untuk menjadi escort di Club mereka?"

Riza Hamdan, Komandanku ini mengangguk saat aku mulai membahas setiap hal yang berkaitan dengan bagaimana Olympic bekerja dalam bisnis terbesar mereka sebagai pemasok wanita malam untuk banyak Club malam, bukan hanya untuk Club mereka sendiri, tapi para wanita muda yang berharap nasibnya akan berubah saat bisa bekerja diluar negeri ini justru dijual ke berbagai Club lain untuk dijadikan escort.

Dan celah inilah yang akan aku ambil untuk masuk ke dalam kehidupan Jendra dengan halus.

"Kamu tahu sendiri kan kalau diluar sana, wanita Indonesia itu terkenal dengan kecantikannya, Olympic Group memanfaatkan hal itu untuk menjadikan mereka dagangan. Di Indonesia para perempuan dan laki-laki dibawah 25 tahun ini menjalani prosedur yang seharusnya, tes kesehatan, dan pelatihan, tapi saat sampai mereka tidak bekerja di PT atau kantor seperti yang dijanjikan. Yang perempuan dilelang, sayangnya kebanyakan dari laki-lakinya justru diambil organ dalamnya, bisa kamu bayangkan berapa banyak korban mereka? Itu saja sudah tidak sangat manusiawi, bukan?"

Astaga, kepalaku rasanya sangat pusing membayangkan bagaimana bisa Olympic bisa menjadi begitu keji, mereka ada di sekeliling kita, menyaru menjadi lembaga penyedia kerja namun ujung-ujungnya mereka justru mendorong para pencari kerja ke jurang kematian.

"Kenapa kita tidak mulai dari LPK-nya saja untuk menghentikan semua bencana ini? Setidaknya kita bisa mencegah korban lainnya untuk pergi jika kita bisa mulai dari pangkalnya!"

Riza yang mendengar argumenku langsung menyipitkan mata, "menurutmu saya tidak mencoba menghentikan dari bawah? Bagaimana kita bisa menghentikan dari bawah jika setiap kita melakukan sidak, tuduhan kita tidak terbukti, mereka bisa memberikan bukti setiap para pencari kerja yang berangkat melalui mereka bekerja dengan baik di PT yang bekerja sama di luar sana, serapi itu permainan mereka, Harsa. Olympic bermain dengan sempurna, itu sebabnya kita harus masuk langsung ke dalam pusat organisasi mereka untuk mendapatkan bukti, tempat terdekat yang bisa kita tuju adalah Macau, Tartarus Club, tempat Jendra menjadi Jendral di Pasifik. Disana mereka yang seharusnya bekerja di Taiwan, China Daratan, Hongkong, Jepang, dan Korea justru dilelang. Lelang di Tartarus Club ini adalah salah satu caramu untuk masuk secara halus mendekati Jendra, bagaimana caranya, saya percayakan kepadamu."

Bagaimana caranya itu terserah kepadaku. Dibandingkan menyusun rencana dengan banyak kepala, aku lebih nyaman bekerja seperti ini, sendiri, lebih aman tanpa resiko dan tekanan. Jika sebelumnya tugasku mengharuskanku ke Bangkok, maka kali ini aku harus terbang ke Macau.

"Saya tidak ingin kamu melapor kepada siapapun, Sa. Meskipun Narendra adalah atasanmu, tapi kamu harus melapor langsung kepada saya. Saya melihat Narendralah yang tidak bisa membedakan masalah personal kalian."

Riza tidak tahu, perintahnya kali ini seperti mengangkat satu beban tersendiri di bahuku, aku membenci Narendra dan aku tidak mau berhubungan dengannya lagi dalam bentuk apapun. Mungkin aku bisa tetap bersikap profesional, tapi Narendra, si B4ngsat itu selalu mempunyai cara untuk mengusikku. Sama seperti kali ini, tepat saat aku keluar dari ruangan Riza, si Br3ngsek tersebut sudah menungguku.

Tidak ada lagi senyuman yang aku berikan kepadanya, tidak ada lagi rengekan manja, yang tersisa hanya kebencian saat dia menghalangi jalanku.

"Minggirlah, AKP Narendra."

Tapi seperti yang sudah kalian duga, pria ini tetap bergeming ditempatnya, aku berusaha menyingkir ke kanan untuk menghindari perdebatan, dan dia mengikutinya, begitu pula saat aku beranjak ke kiri, dia kembali menghalangi langkahku yang membuatku mau tidak mau berdecak sebal kepadanya.

"Apa seperti ini caramu berbicara dengan atasanmu, Harsa Anindya! Sopankah sikapmu ini?"

Mendapati Narendra menegur keprofesionalan yang aku junjung tinggi, aku menegakkan tubuhku dan memberikan penghormatan kepadanya, "penghormatan seperti inikah yang Anda inginkan, Kapten?" Tanyaku dengan sarkas, aku membalas tatapannya dengan begitu tajam, hal yang dulu mustahil akan aku lakukan kepadanya.

"Belajarlah hormat saat berbicara dengan atasanmu, Sa."

"Saya akan menghormati Anda sebagai atasan Anda, tapi tidak sebagai manusia!"

Seringai penuh kepuasan tersirat di wajahnya seketika menghilang setelah aku sama sekali tidak membiarkannya berpuas diri bisa memanfaatkan pangkat dan jabatan yang dia miliki untuk mengendalikan diriku, benar dia mendapatkan hormat dariku namun aku memilih untuk berjalan meninggalkannya begitu saja yang ternganga.

Tidak terima dengan cemoohan yang baru saja aku lontarkan, lagi-lagi Narendra menahan tanganku membuat langkahku terpaksa berhenti, cekalannya begitu kuat saat dia menghempaskanku agar kembali berhadapan dengannya. "Berhentilah menjadi manusia sok suci, Cha. Hanya sekali aku melakukan kesalahan tapi kamu terus mengungkitnya seolah-olah aku mahluk paling buruk sedunia, sedangkan kamu, apa kamu tidak pernah berkaca bagaimana menjijikkannya dirimu yang mengobral diri demi sebuah informasi dari pejabat tengik itu? Bukan tidak mungkin selama misimu, kamu juga mengobral selakang........"

Plak..........

Plak..........,

Bughhhh........

"Woy, woy ada apaan ini. Duh Harsa berhenti Sa!"

Dua tamparan dan satu tinju melayang dengan bebasnya ke arah Narendra, si brengsek ini terlalu terkejut hingga dia sama sekali tidak mengelak, mungkin si brengsek ini mengira aku tidak akan berani menghajarnya di markas, sayangnya mengenalku sejak aku masih ingusan tidak membuatnya belajar jika aku adalah manusia yang tidak akan pernah membiarkan mulut kotor seseorang menghinaku.

Jika saja Mamat tidak menghentikanku mungkin aku akan menambahkan tendangan ke mulutnya yang menjijikkan tersebut, sayangnya kini Mamat menahanku, mengantisipasi agar aku tidak menghancurkan mulut busuk Narendra yang berdarah karena pukulanku.

"Lepasin, biar aku hancurin sekalian mulut busuknya, Mat. Di diemin bukannya sadar, intropeksi diri malah ngehina orang!" Dengan kasar aku melepaskan pegangan Mamat, Mamat yang sadar jika aku benar-benar marah pun segera beringsut mundur meski pun dia juga siaga kuda-kuda khawatir aku akan membunuh Narendra yang sibuk menyeka darahnya yang terus menetes, tidak ada belas kasihan aku rasakan mendapati dirinya yang terluka karena ulahku, bagiku apa yang dirasakan Narendra sekarnag tidak seberapa dengan hinaan yang baru saja dia lontarkan.

"Hanya karena dirimu busuk, bukan berarti orang lain busuk sepertimu, Sialan! Perlu kamu ingat, aku adalah seornag Aryaatmaja yang terhormat, diluar sana banyak pria lebih hebat dan lebih segalanya darimu namun aku selalu bisa menjaga diriku sendiri meskipun aku tidak pernah mencintaimu!"

Katakan, jika seperti ini apa aku tidak berhak marah?

"Aku menghargai hubungan kita meski terpaksa, dan beraninya kamu menghinaku mengobral selak4ngan demi sebuah misi! Mulut busukmu itu tidak hanya merendahkan harga diriku, tapi juga merendahkan kemampuanku, aku bukan pelacur yang sampai pada posisiku sekarang ini hanya modal ng4ngk4ng, B4ngsat!"

Mengingat apa yang dikatakan oleh Narendra beberapa saat lalu membuatku naik pitam, dengan kesal aku meraih es jumbo yang ditenteng oleh Mamat dan langsung menyiramkannya kepada Narendra yang lagi-lagi tidak berkutik tidak menyangka aku bisa senekad ini saat murka. Beberapa orang yang ada dikantor mendengar keributan atas teriakanku pun mendekat, mereka semua pun tercengang mendapati Narendra sudah basah kuyup seperti tikus got.

Berlalu aku meninggalkan orang-orang tersebut, menerobos kerumunan yang mungkin menatap Narendra dengan prihatin, tapi samar-samar disela langkahku yang semakin menjauh aku masih mendengar mereka bersuara.

"Berhentilah mengganggu Harsa, Narendra. Dia sudah cukup kecewa karena pengkhianatanmu, jangan menambahnya dengan luka yang lain!"

"Memang dasarnya nggak tahu diri saja Narendra ini, lu-nya aja ngeueee sama saudara Harsa sendiri, lo sendiri juga yang sibuk merasa tersakiti."

"Berhenti bikin malu diri lo sendiri, Ren."

My Innocent MonsterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang