Aku menatap Narendra tidak percaya, aku berharap semua ini adalah lelucon yang sangat buruk. Jendra, misi, Olympic Group, semua hal itu adalah kombinasi tidak menyenangkan yang tidak ingin aku jalani. Itu sebabnya dibandingkan terus meladeni Narendra yang menggila aku memilih untuk segera berlari pergi, dan satu-satunya orang yang ingin aku temui adalah mahluk sialan bernama Riza Hamdan.
Laki-laki mendekati 50an adalah komandan tertinggi di Divkrimsus, selama ini aku bekerja dengan nyaman dibawah kendali Faisull dan mendadak aku justru dimutasi kebawah kepemimpinan Narendra dan sialnya misinya harus berkaitan dengan Jendra.
Sejak awal aku tahu Jendra berkaitan dengan Olympic aku sudah memiliki firasat yang tidak bagus. Olympic bukanlah perusahaan biasa, cepat atau lambat, perusahaan besar yang sudah lama kami curigai menjadi kedok banyak skandal mengerikan perdagangan manusia, penjualan organ dalam, dan peredaran obat-obatan terlarang tersebut akan kami selidiki, sayangnya entah bagaimana caranya perusahaan besar yang menancapkan cakarnya bukan hanya di pertambangan tapi juga disektor entertain tersebut menyembunyikan segala skandalnya dengan rapi. Semua tuduhan terarah kepada mereka, sayangnya setiap penyelidikan yang kami lakukan selalu terbentur pada kurangnya bukti, dan sekarang entah apa yang dikatakan Narendra kepada Riza, tapi bisa-bisanya akulah yang disodorkan untuk misi ini?
Benar Jendra menjadi salah satu CEO Casino besar milik Olympic Group, tapi bagaimana bisa Narendra mencurigai adiknya sendiri terlibat dalam Mafia besar yang bukan hanya beroperasi di Indonesia tapi juga hampir separuh dunia.
"Tolong katakan kalau yang dikatakan Narendra tidak benar! Komandan nggak bisa mutasi saya sesuka hati seperti ini!"
Tanpa ada kesopanan sama sekali aku menerobos masuk ke dalam ruangan Riza Hamdan, pria lajang yang bertanggungjawab langsung pada Kapolri tersebut menatapku penuh isyarat karena dia masih sibuk dengan teleponnya, dengan sabar aku menunggu meski mulutku tidak bisa berhenti merepet, sampai akhirnya saat pria kelewat matang ini selesai berbicara dia menatapku dengan santainya tanpa dosa.
"Jadi katakan terlebih dahulu, dengan siapa saya berbicara kali ini, dengan Harsa Anindya, 441254? Atau Harsa Anindya Aryaatmaja?"
Deg, teguran dari pria yang kini memiliki tiga melati di bahunya namun sangat jarang digunakan tersebut bertanya dengan santainya tapi sukses membuatku langsung menegakkan diri dan memberikan penghormatan formal kepadanya meski dalam hati aku ingin sekali mencekiknya.
"Lapor Komandan, Harsa Anindya, kode 441254 menghadap!"
Riza Hamdan, jika ada satu hal yang tidak aku suka dari si Bangkotan satu ini mungkin adalah sikapnya yang menyebalkan, dia ini nih kadar pinternya diluar nalar tapi kadang sampai nggak masuk akal. Bisa-bisanya dia memindahkan diriku bahkan tanpa pemberitahuan kepadaku terlebih dahulu.
Seringai menyebalkan terlihat di wajahnya penuh kemenangan saat akhirnya aku tunduk pada hierarki yang berlaku, dia adalah atasan, sedangkan aku adalah alat yang dia gunakan sebagai proyektil untuk menghancurkan musuh yang terkunci. "Baiklah, sekarang katakan, apa yang membuat saya mendapatkan kehormatan setinggi ini sehingga kamu mendatangi kantor saya ini dengan tergesa."
Tanganku terkepal, menahan kekesalan yang mati-matian aku tahan. "Narendra memberitahu saya jika sekarang saya berada dibawah perintahnya untuk menangani misi Olympic dan targetnya adalah Jendra Cakraningrat. Saya ingin mengonfirmasi sebuah misi yang ..........."
Kalimatku seketika terhenti saat Riza Sialan Hamdan ini tiba-tiba saja mengangkat tangannya menghentikanku yang berbicara. Wajahnya yang menyebalkan seketika berubah serius saat dia memintaku untuk duduk, "jadi Narendra sudah memberitahumu tentang misi Olympic?"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Innocent Monster
Roman d'amourMengambil karier yang berbeda dari Sang Ayah, Harsa Anindya justru memilih STIN dibandingkan Akmil ataupun Akpol. Dan kini, sosok menggemaskan Acha sudah lenyap berganti menjadi seorang wanita tangguh seperti bunglon yang bisa dengan mudah menyaru...
