Macau

478 60 2
                                        

"Cha, kamu beneran mau pergi?"

Pertanyaan yang dilontarkan Mami dengan mata berkaca-kaca membuatku yang tengah sibuk menikmati segelas americano dingin langsung mendekati beliau. Tidak seperti biasanya dimana aku akan pergi tanpa diantarkan kali ini Mami dan Papi mengantarku bahkan sampai ke Gate penerbangan International, ya hari ini aku akan berangkat ke Macau, semua rencana sudah tersusun rapi untuk misi yang aku jalankan, sayangnya saat Mami mengeluh kepadaku, ada perasaan yang berat saat harus meninggalkan beliau.

"Mi, jangan bikin Acha kepikiran. Acha pergi mau jalan-jalan, bukan mau perang, jangan nangis kek gini."

Berbeda dengan Mami yang sangat sedih, Papi adalah sosok suportif yang selalu memberikan dukungan positif kepadaku dan Mami. Aku tahu Papi pun berat melepasku tapi Papi tidak ingin menunjukkannya agar Mami tidak semakin sedih. Apalagi setelah Mami kehilangan anak kesayangannya, tidak heran Mami kali ini sangat berat saat aku harus pergi kembali. Itu sebabnya tidak ingin membuat Mami semakin bersedih, aku memilih untuk tidak banyak berkata dan memeluk beliau dengan erat.

"Mami, Acha janji kali ini Acha akan sering-sering telepon Mami. Doakan yang baik-baik buat Acha biar Acha bisa segera pulang."

Pelukan Mami mengerat, hembusan nafas beliau yang berat menunjukkan betapa sulitnya beliau untuk melepasku, tapi pada akhirnya beliau tidak bisa berbuat apapun selain mengusap punggungku dengan sedikit keras, "hati-hati Cha, pokoknya hati-hati. Mami nggak mau kehilangan anak Mami lagi."

Aku mengangguk, ucapan Mami masih menyiratkan kesedihan yang mendalam pasca kehilangan Nadira, selama beberapa waktu ini aku banyak menghabiskan waktu bersama Mami, berusaha menghibur Mami dari lukanya, tapi pada akhirnya saat aku harus kembali bertugas, Mami tetap merasa kehilangan.

Beralih dari Mami aku memeluk Papi, berbeda dengan Mami yang mellow, Papi memelukku namun juga menepuk punggungku sebagai bentuk kepercayaan beliau kepadaku. Meski berat, aku meninggalkan orangtuaku, untuk terakhir kalinya, dan mungkin ini memang kesempatan terakhirku, aku melambaikan tangan kepada mereka sebelum akhirnya aku masuk untuk boarding, wajah kedua orangtuaku yang membalas lambaian tanganku membuatku merasa berdosa karena setelah dewasa banyak waktu yang aku lewatkan tanpa pertemuan, bahkan Mami pun menjadi lebih dekat dengan Nadira dibandingkan diriku.

Mengusir perasaan pribadiku yang membuatku sesak, aku memilih untuk fokus, rencana matang sudah tersusun, dan aku yakin aku akan bisa melakukannya secara profesional meski semuanya melibatkan perasaan personal. Sulit untuk aku jelaskan, tapi secara sederhana, Jendra sama istimewanya seperti Narendra versi sebelum aku membencinya. Separuh hidupku terisi namanya, ada banyak hal yang aku bagi dengan Jendra, pria itu tidak bermulut besar namun dia adalah seorang yang lebih banyak bersikap.

Mengisi waktu menjelang takeoff aku membuka kembali ponselku untuk membuka kembali file seorang wanita yang akan membantuku melancarkan misi. Desi Fadilah, perempuan berusia 20 tahun yang baru saja selesai pelatihan di LPK Bumi Setia ini pasti berada disisi lain pesawat ini, wanita yang berwajah cantik khas Solo yang lembut ini mungkin tengah berdebar mendapati dirinya akan pergi keluar negeri untuk pertama kalinya, jauh dari keluarga demi kehidupan yang lebih baik, sungguh menyakitkan bahkan hanya untuk dibayangkan bahwa semua mimpi tersebut akan hancur, Desi Fadilah tidak akan menjadi pengasuh bagi siapapun, entah lansia atau anak kecil, tapi dia akan di lelang.

Selama sebulan ini aku mencoba berteman dengan Desi Fadilah secara halus, dan sekarang saat Desi dan teman-temannya yang lain akan berangkat ke Macau, aku pun juga berangkat sebagai turis yang akan merencanakan pertemuan tidak terduga mereka. Seperti yang orang-orang tahu dan orang-orang pikirkan, Harsa Anindya adalah anak orang kaya yang manja dan pengangguran yang hobinya jalan-jalan, jika ada hal apes yang menerjangnya saat dia tengah melancong itu bukanlah hal yang aneh untuk terjadi.

Memikirkan bagaimana orang-orang selama ini menilai dan memandangku serasa lucu sekali. Aaah, tapi aku menikmatinya, apalagi saat orang-orang tersebut mengguruiku dengan banyak hal, rasanya seperti berdiri di setitik kegelapan sementara aku bisa melihat dunia luar dengan terang benderang.

Menunggu waktu berjalan aku memilih memejamkan mata, senyuman kecil penuh rasa miris tersungging di bibirku, pada akhirnya saat aku bisa kembali bertemu dengan Jendra, kami justru berdiri berseberangan.

Entah siapa yang akan mati nantinya, dia dengan aku yang merantainya menuju tiang gantungan atau mungkin justru aku yang akan terbunuh di tangannya.

.............

5 jam perjalanan Jakarta Macau, akhirnya  aku sampai di Macau Internasional AirPort, sama seperti Jakarta yang panas, Macau pun tidak banyak berbeda, aku melongok jam yang aku kenakan untuk melihat angka 31• tertera di layar, panas namun tidak sepengap Jakarta. Dengan kelas bisnis yang aku pilih, aku memiliki kesempatan untuk turun terlebih dahulu, layaknya turis yang single trip ke Negeri orang, aku memilih untuk duduk dengan santai diatas koperku, menatap ke arah para pengunjung AirPort yang lalu lalang. Bercampur bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris terdengar, meski mataku menatap berkeliling tapi ekor mataku tidak lekat dari beberapa orang yang aku tahu merupakan rekan Desi Fadilah, para pencari kerja dari LPK Bumi Setia, wajah-wajah muda tersebut tampak bersemangat namun juga waswas disaat bersamaan saat akhirnya mereka menginjakkan kakinya di Macau.

Sungguh melihat wajah polos mereka membuat mataku yang tersembunyi dibalik kacamata hitam tersebut seketika berembun karena miris, mereka tidak tahu saja jika beberapa dari mereka tidak akan bekerja sesuai Job yang dijanjikan namun justru masuk ke dalam kandang singa.

Jika ada kalimat kecantikan adalah kutukan maka itu benar adanya, Desi, dan empat orang lainnya dengan wajah yang bisa aku anggap lebih cantik dari yang lain diambil secara terpisah dari rombongan, sembari meminum Americano dingin di cup yang ada ditanganku aku mulai berjalan mengikuti mereka yang mulai keluar dari terminal, aku memperhatikan semuanya bagaimana mereka bekerja, tidak ada prasangka dari Desi dan yang lain saat mereka berada di rombongan terpisah, mereka justru tampak senang karena mobil yang menunggu mereka lebih besar dari mobil yang mengangkut banyak orang lainnya. Desi, si cantik asal Solo itu terlalu antusias hingga dia tidak memperhatikan jika ada aku tidak jauh darinya.

Rupanya seperti ini Olympic bekerja melalui kaki tangannya, sebagian benar-benar bekerja ditempat yang dijanjikan, dan sebagian lainnya dipisahkan untuk Lelang. Tidak ada pria dalam kloter ini, sehingga fokusku hanya pada mobil Desi yang akhirnya pergi.

"Miss Anindya, right?"

Rencana liburanku sudah aku susun sesempurna mungkin, selayaknya anak manja yang tidak mau repot, aku memesan service terlengkap dari Tartarus  Hotel & Casino.

Semuanya, dimulai dari sini, dari kota metropolitan dengan keindahan arsitektur Portugis dan Mandarin yang mendominasi, aku berharap misiku akan berjalan dengan sempurna.

My Innocent MonsterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang