Mengambil karier yang berbeda dari Sang Ayah, Harsa Anindya justru memilih STIN dibandingkan Akmil ataupun Akpol. Dan kini, sosok menggemaskan Acha sudah lenyap berganti menjadi seorang wanita tangguh seperti bunglon yang bisa dengan mudah menyaru...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hollaaaaa Ikutin juga Harsa dan Jendra di aplikasi Kbm dan karyakarsa Happy reading semuanya
Macau. Jika Amerika memiliki Las Vegas maka Asia memiliki Macau dengan segala surga perjudian yang mendunia, namun percayalah, Macau tidak hanya berisikan Casino dan orang-orang yang menghamburkan uangnya saja, tapi Macau juga menawarkan sejuta keindahan yang sayang untuk dilewatkan.
Ranjang di Tartarus Hotel & Casino amungkin terlihat menggiurkan untuk ditiduri, ya Olympic Group, perpisahan raksasa di berbagai bidang di belahan dunia manapun ini selalu menampilkan performa terbaiknya, agak miris memang mengetahui kenyataan betapa banyak hal buruk yang mereka lakukan untuk menopangnya agar bisa berdiri tegak, mengesampingkan kenyataan menyakitkan ini, aku memilih untuk mencuci wajahku, reapply sunscreen karena aku ingin menikmati cuaca cerah yang sangat sayang untuk aku lewatkan.
Melalui ponsel kecil yang dirancang khusus oleh Mutia, aku memberikan laporan kepada Riza, sedangkan melalui ponsel pribadiku aku mengirimkan fotoku saat aku mengitari Senado Square atau lebih terkenal sebagai alun-alunnya Macau, kembali arsitektur Portugis yang kental membuatku serasa di Europe, dan aku yakin Mami akan iri saat melihat pemandangan indah dan klasik yang aku kirimkan.
Di Senado Square, aku memuaskan diri untuk berjalan-jalan, menjelajahi setiap jengkalnya dan mengabadikannya di dalam memori kamera yang aku bawa, aku sangat menikmati peranku sebagai seorang turis, bahkan aku pun tidak ingin melewatkan menikmati kuliner Portugis dan China yang tersedia di berbagai tenant menarik, puas menjelajahi Senado Square, seketika pandanganku terhenti pada St. Dominic Church sejak awal sudah mencuri perhatian dengan jendela hijaunya diantara gedungnya yang kuning.
Banyak orang yang berfoto diluar Gereja, dan reflek kakiku bergerak mendekati keramaian tersebut lazimnya orang yang penasaran dengan sesuatu hal yang banyak diminati, tapi sialnya apes itu sering kali di dapat oleh turis single trip sepertiku, yang tiba-tiba saja di tabrak hingga aku benar-benar jatuh tersungkur.
"Sorry, Miss. Apa aku melukaimu?"
Di tengah keterkejutan atas rasa sakit yang menghantam lututku, aku mendongak saat pria berwajah asing dengan american englishnya bertanya dengan nada prihatin saat dia membantuku untuk bangun. Jelas pria itu bukan orang lokal Macau, atau China Mainland, pria itu entah turis atau imigran, tapi dari bau badan yang menyengat aku bisa menerka jika pria itu bukan orang yang terawat. Jarak kami terlalu dekat, bahkan dia pun berusaha membersihkan lutut dan tasku.
"Tidak apa-apa, bukan masalah!" Aku menjawabnya, dan saat dia membantuku berdiri dan membersihkan diri aku menyadari jika pria ini adalah penjambret yang memang sengaja menabrakku, tangannya bergerilya mencari kesempatan ditengah kebingunganku, aku sudah mempersiapkan diri untuk menghajarnya namun dua orang laki-laki dengan tubuh besar mereka sudah menarik si penjambret ini untuk menjauh dariku, dan melemparkan bule kurus tersebut dengan mudahnya.
"Dasar kecoa menjijikkan, pergi carilah mangsa lain! Jangan mengusik tamu kami jika kamu tidak ingin kehilangan kedua tanganku untuk selamanya."
Ancaman dalam mandarin yang digunakan oleh kedua pria besar berwajah oriental seperti ex bodyguard Kylie Jenner tersebut tidak diucapkan dengan keras, namun meski dalam suara rendahnya aku bisa mendengar ancaman tersebut yang membuat si Bule penjambret lari terbirit-birit karena ketakutan.
Tidak hanya sampai disana keterkejutanku akan kehadiran dua orang penolong yang membantuku menghempaskan pencopet, astaga, rasanya aku ingin merutuki diriku sendiri yang terlalu tulalit terlena dengan suasana hingga mengendurkan kewaspadaanku sendiri, keterkejutanku semakin bertambah saat aku melihat Daniel, tetangga depan apartemen Narendra justru ada di hadapanku.
"Mbak Harsa........" Pria yang lebih muda dariku ini nyengir saat aku kebingungan mendapati dirinya ada di hadapanku, ditengah kota Macau yang jauh dari Jakarta, semuanya terlalu aneh untuk sebuah kebetulan semata. "Dunia sempit ya, kita ketemu lagi!"
No way, mustahil ini kebetulan semata, aku menggeleng pelan, menampik basa-basi yang Daniel tawarkan. Tidak aneh jika kita bertemu di Jakarta tapi ini Macau, yang jaraknya ribuan km dari Jakarta.
"Kok Mbak Acha kagetnya kayak gitu sih! Mbak masih syok gegara ulah penjambret tadi, Mbak? Tenang saja Mbak, dia udah pergi dan nggak akan berani buat deketin Mbak lagi kok. Tapi Mbak juga harus hati-hati samasnatcher."
Kalian tahu, saat Daniel menjelaskan hal tersebut, bukannya tenang aku justru menatap Daniel dengan curiga, kemunculannya tiba-tiba disaat aku kesulitan dengan dua orang bodyguard yang sangat jelas bukan preman ecek-ecek, tentu saja menjelaskan jika dia bukan sekedar Daniel, tetangga depan apartemen Naren yang sedang liburan.
Aku curiga, namun aku menyimpannya dalam hati dan memilih untuk mengangguk, "nggak nyangka aja kita bisa ketemu disini, Niel. Kayak dunia sempit banget seperti yang kamu bilang." Daniel tertawa, tawa yang dulu terdengar polos tersebut kini terasa seperti sebuah teka-teki yang membuatku bertanya-tanya dibalik senyuman yang aku perlihatkan kepadanya. "Jadi katakan, bagaimana bisa kamu juga ada disini, dan sepertinya kita selalu dipertemukan dalam kebetulan yang tidak mengenakan, sebelumnya saat aku harus memergoki mantan tunanganku selingkuh, dan sekarang saat aku hampir menjadi gembel karena dicopet."
Aku terus berjalan, menyusuti Senado Square yang ramai dengan turis dan pejalan kaki, rencanaku insiden kecil barusan tidak akan menghentikanku untuk berkeliling kota Macau dan menghancurkan rencanaku. Rupanya, kini Daniel pun mengikutiku, bersisian seperti ini membuatku tersadar jika Daniel adalah pria dewasa dengan tubuh tinggi dan besar, bagaimana bisa selama ini aku melihatnya sebagai sosok anak kecil?
Dengan kemeja hitam dan celana pendek warna abu-abu, dia berjalan di belakangku seperti seekor anjing yang menjagaku agar tubuh kecilku tidak terlempar saat berpapasan dengan orang-orang yang bergegas dalam berjalan.
"Saya juga jalan-jalan, Mbak Harsa. Yah, katakan saja sekarang sedang liburan menghamburkan uang yang susah payah saya cari selama setahun ini."
Aku menoleh ke arahnya, tidak tahu saja tapi aku sepertinya mulai bisa menebak siapa Daniel ini, dan bagaimana bisa dia menolongku tepat waktu dan berada ditempat-tempat yang tidak terduga, dugaan yang seketika membuatku masam sendiri, mual membayangkan betapa jauh sebenarnya hal tidak terlihat ini terjadi kepadaku, lama aku menatap Daniel, menelaah bagaimana bisa selama ini Daniel memainkan perannya dengan sangat apik, hingga Daniel merasa salah tingkah sendiri dengan pandangannku tepat sebelum aku memutus pandanganku darinya.
"Venetian atau Tartarus?" Tanyaku kepadanya, memilih untuk mengikuti permainan yang Daniel lakukan, "katakan dimana kamu menghabiskan uang yang susah payah kamu cari selama ini, Niel?"
"Tartarus, nggak ada yang bisa ngalahin Tartarus soal perjudiannya, Mbak Harsa."
Senyum tipis sama sekali tidak bisa aku tahan karena semua dugaanku terbukti benar. Jendra, Daniel, Tartarus semuanya adalah sebuah hal yang sama.
"Kalau begitu bisa kamu perlihatkan bagaimana caramu bermain? Kebetulan aku menginap di Tartarus Hotel." Jika sebelumnya aku yang dibuat terkejut dengan kenyataan akan dirinya, kini Daniellah yang terkejut karena permintaanku, tidak membiarkannya menolak permintaanku untuk masuk ke dalam celah yang terbuka lebar untuk lelang, "tolong, aku sedikit memaksa untuk ikut. Katakan saja, aku ingin mencoba sesuatu yang agak nakal." Tambahku sembari mengedipkan sebelah mataku menggodanya, yang akhirnya berbuah anggukan darinya.