Pagi itu, Kamis, 21 Juli 2022, Caca terbangun seperti biasa dengan rasa malas yang masih setia menempel. Sejak dinyatakan lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), ia tanpa sadar membentuk kebiasaan buruk: tidur larut hampir setiap malam dan bangun kesiangan keesokan harinya. Ritme hidupnya berantakan, seolah tubuhnya masih menuntut waktu istirahat setelah masa-masa penuh tekanan sebelumnya.
Namun hari ini berbeda. Sangat berbeda. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Caca bangun pagi, bahkan bisa dibilang terlalu pagi. Jarum jam baru saja menunjukkan pukul 05.00 WIB ketika matanya terbuka. Bukan karena niat atau semangat, melainkan karena kewajiban. Hari ini ia harus menjalani tes kesehatan, salah satu syarat penting sebelum resmi memasuki dunia perkuliahan yang selama ini ia perjuangkan.
Jika yang terbayang adalah Caca menyambut pagi itu dengan antusias dan senyum penuh harapan, maka bayangan itu keliru. Kondisi tubuhnya pagi itu jauh dari kata siap. Sejak tiga hari terakhir, Caca dinyatakan sakit. Diagnosis dokter menyebutkan stres dan asam lambung—dua hal yang rasanya masuk akal setelah perjuangan panjangnya mengejar PTN dan jurusan impian. Energinya seperti terkuras habis, seolah semua tenaga dan ketahanan mentalnya telah ia habiskan demi satu tujuan itu.
Tubuhnya terasa lemas, kepalanya berat, dan perutnya masih sering melilit. Bahkan untuk sekadar duduk di tepi kasur saja membutuhkan usaha lebih. Beberapa kali terlintas di benaknya untuk membatalkan keberangkatan pagi itu. Kondisinya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Namun disisi lain, ia tahu betul bahwa tes kesehatan ini bukan hal yang bisa ditunda dengan mudah.
Di antara rasa sakit dan kelelahan, Caca terdiam sejenak. Ada dilema yang mengendap—antara menjaga tubuhnya yang sedang rapuh, atau tetap melangkah demi masa depan yang sudah begitu dekat.
"Dek, nggak usah ikut tes kesehatan ya. Lokasinya jauh, kondisimu juga belum ada tanda-tanda membaik," ucap Nely, mama Caca, dengan nada khawatir yang tidak bisa disembunyikan.
Seperti yang dikatakan sang mama, lokasi kampus tempat Caca harus menjalani tes kesehatan memang cukup jauh. Jarak tempuhnya sekitar satu jam perjalanan jika jalanan lengang, dan bisa lebih lama karena harus melewati tol. Bagi orang dengan kondisi tubuh prima saja perjalanan itu sudah melelahkan, apalagi untuk Caca yang sejak beberapa hari terakhir masih berkutat dengan rasa sakit.
Namun Caca menggeleng pelan, meski tubuhnya terasa lemah. "Kalau aku nggak ikut tes kesehatan," ucapnya lirih namun tegas, "berarti aku gagal masuk PTN itu, Maa."
Di dalam hatinya, ia menggerutu. Siapa juga yang rela melepaskan kesempatan masuk perguruan tinggi negeri dengan persaingan seketat itu hanya karena sedang sakit? Setelah semua perjuangan, air mata, dan tekanan yang ia lalui selama berbulan-bulan terakhir, menyerah di tahap akhir terasa begitu konyol.
"Ya Sudah minta anter Papa aja yaa kesana jangan sendirian" Final mamanya, jujur saya Nely pun tak tega berkata hal tersebut kepada Caca, anaknya sampai drop sakit begini karena terlalu memforsir belajar untuk masuk di PTN itu.
Pagi ini akhirnya Nando, sang Papa memutuskan untuk pergi ke kantor sepulang dari mengantarkan putri bontotnya untuk tes kesehatan. Bontot being bontot Caca ini sangat manja kepada kedua orang tuanya dan orang tuanya juga menerima jika anak bontotnya itu sangat manja kepada mereka. Caca memiliki dua kakak perempuan tetapi kedua kakaknya itu tidak tinggal bersama kedua orang tuanya lagi, kakak Caca yang pertama sudah memiliki rumah tangga sendiri sedangkan kakak Caca yang kedua bekerja di salah satu Bank yang berada di Jakarta Selatan.
Sekitar pukul 07.00 WIB Caca dan Papanya bersiap menuju ke kampus tanpa ditemani Mamanya, Caca hanya berdua bersama Papanya. Sepanjang perjalanan Caca hanya tertidur di mobil karena tidak punya cukup energi untuk berbincang dengan Papanya, dan Nando pun memaklumi hal itu. Nando memilih untuk melewati tol tujuannya agar cepat sampai ke kampus sang putri. Semua persiapan yang dibutuhkan untuk melakukan tes kesehatan sudah disiapkan Nely di dalam map berwarna hijau jadinya Caca tinggal membawanya saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
TURNING 20!!!
Novela JuvenilApa yang akan kalian rasakan ketika melihat orang yang kalian suka bahkan orang yang kalian sayangi, ternyata sedang berjuang untuk orang lain? Sakit? Tentu saja. Perasaan kecewa, marah, dan sedih bercampur menjadi satu, meninggalkan luka yang tidak...
