Mengawali pagi dengan sangat semangat karena salah satu proker yang sangat mengganggu pikiran Caca hari ini akhirnya terlaksana, setidaknya ketika proker ini telah selesai dijalani sedikit beban di pundak Caca menghilang.
Pagi ini dirinya menolak ajakan pergi bersama yang ditawarkan oleh Kafi dan Aksa, gadis itu memutuskan untuk pergi sendiri, tetapi tidak sendirian melainkan diantar oleh Papa-nya sudah lama dirinya tidak diantar. Dan bertepatan dengan hari ini yang merupakan weekend maka tidak ada alasan bagi Papa-nya untuk menolak mengantar dirinya, iya kan.
Walaupun dirinya merupakan panitia, tetapi Caca dengan sangat santai pergi ke lokasi acara hari ini, tidak berniat untuk tiba tepat waktu seperti yang sudah dijanjikan, karena gadis itu tahu bahwa jam mulainya pasti akan diundur makanya dirinya sangat santai sekarang, duduk di samping Papa-nya yang sedang menyetir sembari menikmati sarapan yang sudah disiapkan oleh Mama-nya untuk dirinya.
Setibanya di lokasi, sesuai dengan prediksi Caca, sudah ramai dan mulai sibuk mengurusi urusan yang belum sempat dilakukan kemarin, mengingat dirinya hanya panitia bagian sponsor dan job desk nya sudah 100% selesai maka tak ada rasa bersalah sedikitpun di benak gadis itu, dirinya datang saja sudah untung.
Di dalam venue Caca melihat ada beberapa panitia sponsor, perlengkapan, acara dan bahkan sampai ketua pelaksana yang sedang berdiskusi dan waktu menunjukan acara akan dimulai tiga puluh menit lagi, saat melihat itu Caca menghampiri kerumunan itu karena salah satu teman yang menyadari kehadiran dirinya seperti memberikan kode agar gadis itu datang ke arah mereka.
"Nah udah dateng lo, Ca. Ini gimana ini kok plakatnya kurang? Kan gue dah kasih info untuk ngasih list plakat yang bakal dicetak ke anak perlengkapan?" Ketika ketua pelaksana menyadari kehadiran dirinya, Caca langsung disuguhi pertanyaan yang bahkan dirinya saja tidak tahu mengapa itu ditanyakan kepada dirinya.
"Udah kok, gue udah ngasih info ke Hanin, karena dia yang ngechat gue buat minta list" Karena dirinya tidak merasa melakukan kesalahan apapun maka gadis itu menjawab pertanyaan dari ketua pelaksana itu dengan santai tanpa terasa ada beban sedikitpun.
"Iya tapi kata Hanin lo cuma ngasih satu nama sponsor aja" Saat mendengar perkataan itu dahi Caca mengernyit heran, padahal dirinya sudah memberitahu Hanin bahwa sponsor yang Fix ada dua.
"Iya Hanin juga ngasih tau gue kalo yang fix dari lo cuma sponsor dari Bank, ini kok tiba tiba Anak acara nanya mana plakat untuk Perusahaan Pupuk, jelas nggak ada karena lo cuma ngasih tau yang Bank doang" Bukan, itu bukan ketua pelaksana mereka yang berbicara melainkan Kafi. Sungguh perkataan Kafi barusan membuat Caca merasa sangat terpojok dan kehilangan kata kata untuk membela diri, bisa bisanya pria itu.
"Bentar bentar, ini lo semua nyalahin gue? Karena katanya gue ngasih tau Hanin cuma satu sponsor yang fix yang gue pegang? Terus plakatnya cuma di cetak satu untuk Bank itu doang, yang Perusahaan Pupuk nggak ada? Itu salah gue?" Walaupun Caca mengatakan itu untuk semua, tetapi tatapannya tidak lepas dari pria yang baru saja menyalahkan dirinya tanpa tahu fakta sesungguhnya.
"Ya terus kita nyalahin siapa lagi kalo bukan lo? Kan disini emang lo yang salah" Lagi, Kafi sekali lagi memojokkan gadis itu.
"Wow..." Kata yang pertama keluar dari bibir gadis itu "...Lo ngomong dong, jangan diem doang, bisu lo?" Ucap gadis itu kepada Hanin "Keren juga bakat lo ngebuat gue seolah olah pelaku kejahatan disini" Lanjut dirinya.
Sementara Hanin masih saja terdiam, bahkan sampai menunduk tidak berani menatap mata Caca yang sedang berbicara kepada dirinya.
"Kok lo nyalahin Hanin sih? Kan lo yang salah nggak usah play victim, Ca" Lagi lagi Kafi yang angkat bicara. Iya kalian tidak salah dengar Kafi memanggil gadis itu dengan sebutan 'Ca' alih alih memanggil dirinya Renjana. "Kalo salah yaudah akuin aja jangan malah lempar batu sembunyi tangan, nggak profesional banget" Lanjutnya dengan nada yang lumayan tinggi.
KAMU SEDANG MEMBACA
TURNING 20!!!
Ficção AdolescenteApa yang akan kalian rasakan ketika melihat orang yang kalian suka bahkan orang yang kalian sayangi, ternyata sedang berjuang untuk orang lain? Sakit? Tentu saja. Perasaan kecewa, marah, dan sedih bercampur menjadi satu, meninggalkan luka yang tidak...
