18

22 2 0
                                        

Seperti yang sudah dikatakan Aksa kepada Caca di mobil tadi, bahwa ia akan menjawab semua pertanyaan yang diajukan gadis itu, apapun yang akan gadis itu tanyakan Aksa usahakan akan menjawab dengan tenang dan berkepala dingin tanpa menyudutkan pihak manapun, ia akan sedewasa mungkin menyikapi masalah ini.

Posisi mereka sama seperti saat sebelum kembali ke dalam venue saat acara belum dimulai, di dalam mobil hanya ada mereka berdua, dengan Caca yang masih memiliki tatapan kosong, melalun seperti tidak ada gairah untuk melakukan sesuatu.

Tidak ada senyuman manis dari gadis itu, tidak ada jokes yang sangat amburadul yang biasa ia keluarkan serta tidak ada semangat yang biasa ia kasih dan disebarkan kepada orang orang sekitarnya.

Hari sudah menunjukkan waktu petang, matahari perlahan mundur dari pandangan dan digantikan dengan rembulan yang akan menampakan keindahan dirinya kepada semua manusia yang akan menyaksikannya.

Keadaan Caca dan Aksa masih dilanda keheningan, pria itu tak tahu harus memulai percakapan dari mana, sementara gadis yang duduk dengan tenang dan masih dengan tatapan kosongnya itu juga belum mengeluarkan suara apapun.

Sepanjang perjalanan yang sangat menyiksa bagi Aksa karena ia sungguh tak tega melihat gadis itu hanya diam. Gadis itu tidak meributkan musik apa yang akan diputar ketika mereka di perjalanan, gadis itu tidak menanyakan kemana pria itu akan membawanya dan gadis itu tidak menceritakan kesibukannya hari ini. Sungguh itu sangat menyiksa bagi Aksa.

Tanpa gadis itu sadari mereka kini telah tiba di salah satu cafe yang bernuansa outdoor dimana mereka dapat melihat secara langsung pemandangan langit malam yang bertabur bintang dan sangat menenangkan.

"Turun Ca udah sampe" Akhirnya Aksa memulai percakapan kepada gadis itu.

"Dimana ini?" Caca yang baru menyadari bahwa Aksa tidak langsung mengantarnya kembali ke rumah.

"Turun aja dulu, kita makan dulu lo pasti lapar, kan katanya lo mau nanya banyak ke gue" Ujar Aksa kepada gadis itu. Tanpa protes dan komplain sedikitpun gadis itu langsung saja keluar dari mobil seperti yang dikatakan Aksa tadi.

Caca langsung saja mencari tempat duduk yang sangat strategis, tidak terlalu ramai dan sangat nyaman dengan pemandangan bintang di langit. Sementara Aksa, pria itu sedang memesankan makanan dan minuman yang akan ia dan Caca makan selama mereka mengobrol nanti.

"Suka sama tempatnya?" Tanya pria itu ketika ia ke tempat dimana Caca sedang duduk sambil memandangi bintang dengan hikmat.

"Suka, lo tau tempat ini dari mana? Nanti kalo gue sedih lagi gue mau kesini aja sendirian" Ucap gadis itu yang sedikit menampakan senyum indah dirinya.

"Enak aja mau kesini sendirian, ajak gue lah kan gue yang ngasih tau tempat ini gimana sih" Pria itu mencoba untuk kembali membangunn mood gadis itu agar menjadi lebih baik.

"Iya iya tuan Aksa yang terhormat nanti gue ajak lo kesini kalo gue pengen, but before that kalo lo ada pacar let me know ya Saa biar gue ga dikira PHO" Ucap Caca diakhiri dengan tertawa kecil kepada pria itu. Sementara Aksa hanya terdiam tanpa menjawab ucapan gadis itu.

"Jadi apa yang mau lo tanyain? Same question kek pagi tadi?" Aksa rasa mood gadis di depannya ini sudah mulai stabil dan tidak salah jika ingin menanyakan pertanyaan tersebut.

"Gue kalo nanya pertanyaan yang sama kek pagi tadi rasanya kek haus validasi banget ga sih? Kek lebay banget ga sih Sa?" Nah sisi diri Caca yang ini yang sangat Aksa tidak suka, sisi tidak percaya diri.

"Nggak kok, lo ga haus validasi, lo ga lebay karena semua emosi yang lo rasain tuh valid Ca, karena lo emang ga salah" Ucap Aksa.

"menurut lo gue jahat ya Sa sama Hanin? Kok bisa dia sejahat itu sama gue, jangankan nganggep dia musuh, gue nganggep dia temen aja nggak, kek dia bagi gue tuh sekedar ada aja ga ada dampak apa apa, kok dia segitu jahatnya ya sama gue" Akhirnya gadis itu sudah terpancing untuk bercerita panjang kepada Aksa.

"Sama si Kafi, padahal gue udah nganggep dia bener bener temen deket gue, kok bisa bisanya dia lebih percaya sama Hanin dari pada gue, bahkan dia ga mau dengerin penjelasan gue, jahat banget ya Sa" Lagi gadis itu menceritakan lebih banyak lagi tentang keluh kesah nya kepada Aksa mengenai hari yang cukup berat bagi dirinya.

"Aksa gue mau jujur....Sebenernya gue tuh suka sama Kafi dan agak nggak nyaman dengan kedekatan Kafi sama Hanin akhir akhir ini, ya tapi gue sadar posisi kok toh gue sama Kafi juga cuma temen kan jadi gue give him space buat dia sama Hanin, tapi akhir akhir ini memang gue sama Kafi deket lagi, mungkin Hanin juga suka kali yaa sama Kafi makanya dia marah sama gue, dan keknya Kafi juga suka sama Hanin ya kan Sa, Hanin cantik, pinter, baik, lucu siapa coba yang ga suka sama orang kayak dia" Nah di bagian ini sungguh Aksa tidak suka dengan Caca, dimana Caca terlalu memandang tinggi orang lain dan memandang rendah dirinya.

"Hey, dengerin gue, mau lo suka sama Kafi, deket sama Kafi itu nggak ada yang salah Ca, terus kalau pada kenyataannya si Hanin dan bahan Kafi juga saling suka itu juga bukan salah lo, jangan jadiin diri lo sendiri jadi kambing hitam, lo nggak salah Ca, dan kalo faktanya Hanin jahat sama lo dengan nuduh lo kek yang dia lakuin tadi gue mohon banget sama lo, jangan jadi kek dia ya, please tetep jadi orang baik, lo nggak cocok jadi jahat soalnya, satu lagi perasaan gue dari tadi muji muji Hanin terus, lo terbaik tau Ca di versi diri lo" Ucap Aksa panjang lebar dan tepat di kalimat terakhir pria itu mengusap lembut pucuk kepala gadis itu.

Lagi lagi gadis ini merasa beruntung karena semesta memberinya kesempatan untuk mengenal pria yang ada di depannya ini. Untuk kesekian kalinya Aksa menjadi penerang bagi dirinya, Aksa berhasil merajut kembali benang benang kusut yang ada di kepala gadis itu, memberikan cahaya di kegelapan yang ada di dirinya.

"Udah ah jangan sedih sedih" Setelah Aksa mengucapkan kalimat itu keduanya sontak saja tertawa. "Lagian ya Ca, galau dan sedih gini ga cocok tau sama lo" Sambungnya.

"Terus gue cocoknya apa?" Gadis itu penasaran, memang dirinya ini cocok bagaimana di mata pria itu.

"Lo mah cocoknya buat Velocity, galau galau gini lucu malah kalo lo yang ngalamin" Yang benar saja, Aksa kira Caca manusia berhati baja kah yang nggak pernah galau, dasar.

"Lo kira hidup gue 100% isinya Velocity apa?" Walaupun Aksa tidak salah sepenuhnya karena Caca sangat suka membuat jedag jedug slowmo dan Velocity.

"Coba trend slowmo dan Velocity mana yang lo nggak ikutan bikin? Nggak ada kan" Tepat sasaran, ucapan pria itu sangat tepat tidak meleset sedikitpun.

"Sialan lo, yaudah kalo gitu kita buat trend Velocity yang each and everyday aaaaaa i don't know why, seru parah tau Saa" Sialan Aksa menyesali perbuatannya yang mengingatkan gadis itu soal jedag jedug slowmo.

"Nggak nggak apaan, ga suka gue lo aja buat sendirian sono" Yakali seorang Aksa membuat video semacam itu, yang benar saja.

"Jahat banget ih sumpah" Ucap gadis itu sembari mengeluarkan puppy eyes nya dengan penuh harap bahwa Aksa akan luluh dan mau membuat jedag jedug bersama dirinya.

"Nggak ya Ca, gue traktir ice cream matcha aja deh, terserah lo mau seberapa banyak gue jabanin daripada buat video gituan" Ini adalah harapan terakhir pria itu, sungguh besar harapannya bahwa gadis itu menyetujui negosiasi yang ia ajukan.

"Bener ya? Seminggu full traktir gue ice cream matcha" Caca saat ini benar benar definisi dikasih hati minta jantung.

"Iyaa, lo kalo mau ice cream bilang aja sama gue ntar gue beliin" Tentu saja Aksa setuju, dirinya tidak apa apa boncos daripada harus membuat jedag jedug.

"Aaaaa jadi sayang, beruntung banget sih pacar lo nanti" ya beginilah dark side seorang Caca jika sudah nyaman berteman kata dan sikap yang akan gadis itu keluarkan kadang diluar batas skinship.

"Pacar gue kan banyak" Mendengar jawaban yang diberikan pria itu sontak membuat Caca memukul kepala sang empu, tidak sekuat itu pastinya.

"Ampun deh Mr. Playboy yang pacarnya dimana mana, atau disini juga ada pacar lo? Mana gue mau kenalan nih sama pacar Mr. Playboy ini terus gue bilang mending jauh jauh sama lo, karena lo pacarnya banyak" Sungguh gadis yang sangat dramatis tapi entah mengapa Aksa sangat nyaman ketika berada didekat gadis ini.

"Iya nih Mr. Playboy ini banyak pacarnya mbak, mau ikut daftar nggak? Kalo mau silahkan antri di belakang, atau mau pake jalur fast track?" Bukannya kesal atau marah kedua insan itu hanya bisa tertawa lepas, seakan akan obrolan mereka beberapa jam yang lalu bukanlah masalah yang besar. 

Hallow cacut back again, long time no see......

TURNING 20!!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang