23

5 1 0
                                        

Kata siapa jika selama liburan tidak kemana mana itu membosankan? Buktinya sudah tiga minggu ini Caca libur kuliah dan gadis itu memutuskan untuk hanya berdiam diri dirumah sembari menonton drama kesukaan atau membaca buku yang belum sempat ia baca. Itu merupakan liburan yang sangat nyaman bagi gadis itu. Tahun sudah berganti, tetapi kesibukan gadis itu masih sama saja.

Setiap pagi ia bangun tanpa terburu-buru, membuat matcha hangat sambil menikmati udara segar dari jendela kamarnya. Siang hari dihabiskannya dengan menonton drama kesukaan yang sudah lama tertunda karena padatnya kuliah. Terkadang, jika sedang bosan menatap layar, ia akan mengambil salah satu buku yang menumpuk di lemarinya, membacanya perlahan sambil berselimut nyaman.

Baginya, tidak perlu pantai, gunung, atau kafe estetik untuk merasa bahagia. Cukup suasana rumah yang tenang, playlist favorit yang mengalun pelan, dan secangkir minuman hangat di tangan itu sudah cukup membuat hari-harinya terasa penuh.

Sore itu, matahari mulai turun perlahan di balik jendela kamarnya. Caca masih duduk bersandar di kasur, matanya fokus pada layar laptop yang menampilkan episode terakhir dari drama yang ia tonton selama seminggu terakhir. Di sebelahnya, tumpukan buku dan bungkus camilan berserakan—tanda bahwa gadis itu benar-benar menikmati waktu liburannya dengan damai.

Oh iya Beberapa hari sebelumnya, Caca dan keluarganya sempat pulang ke kampung halaman sang ibu. Kakeknya sedang sakit, dan mereka menyempatkan diri untuk membesuk, bertepatan dengan libur akhir dan awal tahun. Perjalanan itu singkat namun cukup melelahkan, penuh dengan suasana haru dan kehangatan keluarga. Namun kini semuanya telah berlalu. Caca kembali ke "kandangnya"—kamarnya yang sunyi dan nyaman.

Sebenarnya Caca sudah sangat biasa di rumah sendirian, sebagai anak bontot ia sangat sering sendirian dirumah karena hanya dia yang aktivitasnya tidak selalu padat seperti yang lainnya. Namun itu bukan masalah bagi gadis itu, ia malah sangat menikmatinya, ya walaupun awal awal terasa aneh di tinggal sendirian di rumah, namun akhirnya ia menikmatinya.

+++++

Berbeda dengan Caca, Aksa malah menjalankan hari hari sisa liburannya dengan bermain video game favoritnya tanpa mengenal waktu dan tanpa memperdulikan orang orang sekitarnya. Ia bisa duduk berjam-jam dengan posisi yang sama, headset terpasang rapat, jemarinya lincah menari di atas kontroler. Dunia di sekitarnya seolah menghilang.

Aksa tahu bahwa itu merupakan kebiasaan yang sangat buruk dan dan memiliki dampak yang negatif jika ia melakukannya secara terus-menerus, akan tetapi di dalam logikanya ia hanya melakukan kebiasaan ini selama libur saja, lagi pula ia tetap bangun pagi dan menemani sang mama ke pasar. Ia tidak juga lalai pada kewajibannya, yang berubah hanyalah aktivitas utamanya saja yaitu bermain game.

Terkadang juga Kafi menjemput pria itu untuk sekedar bersepeda atau jogging di taman jika sudah berada di titik yang paling bosan dengan aktivitas biasanya. Jangan ragukan pertemanan Aksa dan Kafi, mereka itu sangat bro sekali hahaha. Satu hal yang sangat berbeda dari keduanya adalah Kafi itu gampang bosan dan gampang memulai, sedangkan Aksa tidak, jika ia sudah merasa nyaman maka susah untuknya merasa bosan, makanya jika diminta meneruskan habit atau mencari suasana baru maka Aksa akan memilih meneruskan habitnya.

Seperti sore ini, Kafi mengajaknya bermain bowling, entahlah Aksa juga bingung dengan temannya itu, Kafi memang terlalu random untuk Aksa yang hidupnya sudah tertata rapih sesuai planingnya.

"Tumen banget main bowling?" ujar Aksa sambil melirik ke arah lintasan di depan mereka, matanya menyapu suasana tempat itu yang cukup ramai oleh pengunjung.

"Gabut gue, Sa," sahut Kafi santai sambil mengambil bola bowling dan menimbangnya sebentar. "Lo nggak bosen apa di rumah aja? Gue beneran bosen banget ini."

TURNING 20!!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang