22

13 1 0
                                        

"Sorry gue nggak jadi nonton konsernya Ca ada urusan keluarga" Setelah mengatakan itu sambungan teleponnya terputus menandakan bahwa telpon mereka telah berakhir.

Gadis itu terdiam beberapa saat, menatap layar ponselnya yang kini gelap. Awalnya, ia sama sekali tidak berniat menghadiri konser akhir tahun yang rutin diadakan kampus. Menurutnya, itu hanya sekadar acara hiburan biasa yang bisa ia lewati tanpa rasa rugi. Namun, semuanya berubah ketika seseorang dengan penuh semangat memintanya untuk ikut. Permintaan itu sederhana, tapi cukup untuk membuatnya mempertimbangkan ulang.

Dan kini, setelah mendengar kabar kalau orang itu tidak bisa datang, ada rasa kosong yang menyelinap di dada. Bukan karena konsernya, melainkan karena alasan ia ingin hadir disana tiba-tiba hilang begitu saja.

"Padahal kemarin kemarin aja semangat banget buat ngebujuk gue biar ikut nonton konser sekarang dia yang malah nggak bisa" Monolog Caca dalam hati, sambil memeluk bantal di kamarnya. "Masa iya gue cuma nonton berdua sama Aksa...aaagghhhh canggung banget pasti nanti, mana tuh anak akhir akhir ini rada gila gue rasa" Lanjutnya, ketika perkuliahan sudah di mulai nanti ia akan memaki maki kedua temannya itu yang memutuskan tidak jadi ikut menonton konser H-1 acara yang benar saja.

"Pengalaman pertama gue nonton konser masa sama Aksa sih, kalo nggak seru gimana" Ada perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan. Di satu sisi, ia penasaran dan sedikit bersemangat karena ini pertama kalinya ia akan merasakan suasana konser kampus yang katanya selalu meriah. Tapi disisi lain, fakta bahwa ia akan datang bersama Aksa justru membuat dadanya penuh keraguan. Bukan karena tidak nyaman, melainkan karena segala hal yang melibatkan pria itu selalu berhasil bikin hatinya ribut sendiri.

Ia menghela napas, mencoba menenangkan pikirannya. "Ya udahlah... yang penting gue punya temen buat nonton. Lagian, kalaupun nggak seru, minimal ada cerita buat diingat." Gadis itu sudah sampai di titik yang sangat pasrah mengenai bagaimana hari esok akan berjalan.

Baru saja ia hendak menutup mata, tiba-tiba ponselnya yang tergeletak di samping bantal bergetar keras.

Layar menyala menampilkan nama yang sama sekali tidak asing. Aksa.

Deg. Jantung Caca langsung berdegup lebih cepat. Seolah dunia menertawakannya, justru pria yang sejak tadi memenuhi isi kepalanya kini benar-benar menelepon.

"Ya ampun... ini orang, kenapa banget nelpon pas gue lagi mikirin dia," Gumamnya, separuh kesal, separuh gugup.

Tangannya sudah melayang di atas layar ponsel, tapi alih-alih langsung menekan tombol hijau, matanya justru melirik ke sekeliling kamar. Ia menajamkan pandangan, memperhatikan dinding, lemari, bahkan sudut-sudut langit-langit.

"Jangan-jangan nih orang pasang kamera pengintai atau apalah... masa bisa kebetulan banget sih?" Pikirnya sambil mengerutkan kening. Semakin ia menatap sekitar, semakin terasa konyol bayangannya sendiri, tapi rasa kaget yang tadi muncul membuatnya sulit mengabaikan kemungkinan aneh itu.

Akhirnya, setelah memastikan tidak ada benda mencurigakan di kamar, Caca kembali menatap layar ponselnya yang masih menyala dengan nama Aksa terpampang jelas. "Haloo..." suaranya terdengar ragu, hampir berbisik, seolah takut kalau jawabannya akan terdengar terlalu antusias.

"Halo, tumben lama jawab? Abis dari mana lo?" Ujar Aksa ketika ia berhasil mendengar suara gadis itu yang menandakan bahwa telpon mereka terhubung.

Mendengar itu alis Caca sedikit berkerut alasannya agak sedikit lambat menjawab karena ia berpikir bahwa pria itu mengintai dirinya dan tidak mungkin ia akan berkata jujur kepadanya bukan. "Dari toilet gue, kenapa nelpon?" Bohongnya.

"Gada sih cuma mau bilang besok ke lokasinya sama gue aja jangan sama Fio, Ivy, atau mereka sama kita aja biar sekalian gue jemput lo lo pada" Ucap Aksa di seberang sana, suaranya terdengar ringan tapi penuh penekanan, seperti sudah menyiapkan kalimat itu sejak awal.

TURNING 20!!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang