Waktu dan Konsekuensinya

4 0 0
                                        

"Chel, apa aku bisa lepas dari semua ini? Aku lelah harus selalu bergantung dengan obat-obatan ini...," ia menghela napas sambil menyandarkan diri pada kursi. Hari ini adalah hari pemeriksaannya untuk yang kesekian kali.

Dokter perempuan yang baru selesai membereskan peralatannya menghela napas, kemudian mengelus rambutnya. "Capek banget ya, Rion?"

Orion mengangguk pelan. Jujur saja, ia belum menyangka kalau hidupnya akan berkubang dengan obat-obatan seperti ini setelah sebuah kejadian yang mengubah segalanya.

"Aku akan mencoba yang terbaik agar kamu bisa lepas dari ini. Tapi ingat pesanku, jangan patah semangat, ya. Aku selalu ada di sisimu."

Orion tersenyum kecil. Perlahan, direngkuhnya tubuh dokter perempuan itu dengan lembut, menyalurkan semua rasa frustasinya. Jika begini, ia merasa selalu menemukan rumahnya yang sejati.

***

Tidak ada yang tahu konsekuensi dari menunggu, baik itu sebentar atau lama. Sama halnya dengan Orion, ia tidak pernah paham situasi yang terjadi dalam dirinya selama ia menunggu sosok yang selalu bermain dipikirannya.

"Bang Sat, kalo dateng ke sini cuma buat ngelamun, gue ada latihan basket buat persiapan lomba bulan depan. Gue tinggal sama Maomao ya."

Orion memandang laki-laki yang hendak beranjak dari tempat duduknya itu dengan tatapan datar. Ia sedang berada di rumah Demian hanya untuk menenangkan pikiran setelah pemeriksaan tadi.

"Gue butuh minum."

"Yaudah sih, di kulkas banyak."

"Gue lagi manja."

Demian mendengkus. Ia akhirnya beranjak dan mengambilkan Orion air. Mau tidak mau, mengingat laki-laki satu ini juga jarang sekali menampakkan kemanjaannya—biasanya Demian lah yang sering menyuruh Orion.

"Om Kevin mana? Tumben rumah sepi," celetuk Orion ketika Demian datang membawa segelas air dan membawa Maomao, kucing kesayangannya, duduk di pangkuan laki-laki itu.

"Biasa, papi kan gila kerja."

"Lo gak mau kerja?"

Demian menggeleng. "Mau cari kerja yang kerjaannya cuma duduk tapi dapet uang."

Orion menghela napas pelan. Pemikiran Demian ternyata masih saja sama. Malas bergerak. Padahal orang satu itu termasuk dalam jajaran murid berprestasi di Helscounth, namun malah menonjolkan kemalasannya. Memang, orang pintar itu beda jenisnya.

"Terserah lo, pokoknya jangan ngeribetin gue kalo lo buntu nyari kerjaan."

Demian menyengir. Ia mendekap Maomao lebih erat sampai kucing itu meronta meminta dilepaskan. Orion yang melihatnya tak habis pikir, Demian itu selalu ada-ada saja sikapnya ketika bersama seekor kucing.

"Dem, nanti mati."

"Maomao tahan banting."

Akhirnya Orion mengalah. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan memejamkan mata. Semuanya terlalu abstrak untuknya yang sudah terlewat lelah pada dunia yang masih tampak sangat jahat untuknya.

"Dem, kalo gue mati, lanjutin tugas gue nyariin Thea ya. Gue tahu lo bisa jadi orang yang baik buat Thea. Gue capek banget, Dem, dunia udah gak berpihak lagi sama gue sejak lama."

"Ngomong lagi gue bungkam mulut lo pake lampu bohlam yang baru dilepas papi semalem, bang!"

"Sensi lo, mirip emak-emak gak dapet arisan."

"Emang!"

Orion tertawa, kemudian merangkul bahu Demian dan menariknya mendekat. Ia menepuk kepala laki-laki itu dua kali, seakan memberi kepercayaan padanya. Ia sudah di ambang batas, dan hanya menunggu waktu sampai tubuhnya tak lagi kuasa menahan luka.

"Lo tahu, Dem. Gue harap ini gak pernah berakhir...."

"Gue juga, bang. Gue pengen kita semua bareng sama anak cucu dan nostalgia tentang masa remaja kita. So, bertahan ya bang, ini bukan apa-apa ketimbang penantian lo buat Thea-nya lo itu."

Senyum Orion tercetak tipis di bibirnya. Semangatnya perlahan mulai kembali, ia tak ingin mengecewakan banyak orang hanya karena keputusan gilanya.

***

Bab terpanjang dari cerita seseorang adalah mengenai semua yang harus membuatnya menyerah. Dan ia tidak sanggup lagi menulis apa yang harus membuatnya seperti itu. Semua sudah terlalu jauh, ia tidak bisa mundur lagi.

"Satria,"

Ia menoleh. Seorang laki-laki paruh baya mendekat dan memperhatikan laptop yang masih menyala di meja kerjanya. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis, berharap laki-laki itu tidak membaca apa yang ditulisnya dalam notes yang selalu ia sembunyikan dalam locked folder di laptop itu.

"Sudah selesai laporan produksinya?"

Ia mengangguk sekilas.

"Nanti kirim lewat e-mail papa, ya. Papa tunggu secepatnya," sejenak laki-laki itu mengusap rambutnya. "Kamu sudah memastikan tanggal pertunangan?"

Ia mengangguk lagi.

"Semoga acaranya nanti akan berjalan dengan lancar dan pengobatanmu bisa sampai tuntas, ya. Papa bahagia sekali bisa menikahkan kamu dengan anak perempuan papa."

Tidak ada jawaban. Ia mempertahankan senyum tipisnya sampai laki-laki itu pergi, kemudian menyandarkan punggung ke kursi kerjanya. Ia ingin berlari, tapi inilah pilihannya. Konsekuensi dari segala waktu yang dihabiskannya untuk menunggu hingga terjebak dalam kubangan hal yang tak pernah diinginkannya selama ini.

Lacuna [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang