Rigel memperhatikan lamat wolf snake yang baru saja ia masukkan tikus ke dalam kandangnya. Gerakan pelan ular itu melilit mangsanya tampak sangat anggun. Kadang Rigel berpikir kalau ularnya ini perempuan jika saja tidak ingat bagaimana jantannya Neo. Sementara tangannya yang lain mengeluarkan Opie dari kandang dan meletakkannya di bahu gadis itu.
"Neo, Opie, inget Arrel yang waktu itu Thea ceritain, gak? Thea kangen sama Arrel," adunya sambal mengelus kendang Neo.
"Sekarang, gimana ya, kabarnya Arrel? Kemari nada yang ngaku-ngaku jadi Arrel. Awalnya Thea berusaha nolak dia, tapi hati Thea gak bisa bohong kalau Thea suka dia bilang kalau dia itu Arrel. Sampai sekarang Thea masih belum menemukan jawabannya...."
"Kenapa yang pertama Thea inget setelah menginjakkan kaki di Indo itu Arrel? Kenapa, Arrel itu terasa penting banget buat Thea? Tapi, kenapa Arrel harus diingat tanpa bisa mengingat wajahnya? Thea aneh banget, Neo, Opie...."
Rigel menghela napas pelan. Puas memandangi Neo yang tengah makan, Rigel membawa Opie mendekati sebuah laci yang dari dulu ingin dibukanya, tapi dia terus-terusan merasa sakit akan hal itu. Laci yang menyimpan barang-barang masa kecilnya. Ia membuka laci itu dan menemukan gelang berbentuk kunci dan sebuah kotak berwarna putih dengan gembok berwarna silver di sana. Ia menyerngit, sejak kapan barang itu di sini?
"Kapan gue nyimpen ini?" monolognya sambal membolak balik kotak itu. Ia mencocokkan kunci di gelang itu dengan gemboknya. Cocok. Ia memasukkan kunci ke dalam lubang gembong dan memutarnya perlahan.
Kotak itu terbuka, menampilkan beberapa polaroid dan surat dengan berbagai warna kertas. Ada sebuah kalung berbentuk setengah bagian kupu-kupu. Rigel membuka surat dengan kertas berwarna biru dengan hati-hati.
Hai, Althea kesayangannya Arrel.
Udah tiga bulan kamu gak ada kabar. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengirim surat ini. Kamu apa kabar? Kenapa gak mau angkat telepon dari aku? Aku punya salah, ya?
Maaf, Thea, Arrel ini selalu merindukan kamu. Aku kirim surat ini juga sekaligus memberitahukan kamu kalau aku sudah keluar dari rumah dan beli apartemen yang gak jauh dari kompleks rumahmu.
Aku selalu menunggu kamu balik, Thea, meski aku gak tahu kapan kamu akan kembali. Nanti, ayo kita sekolah di satu tempat. Aku mau masuk ke Helscounth, kamu juga mau kan? Ayo, kita belajar bersama lagi.
Untuk rindu yang kutitipkan di bintang yang sama seperti nama rasi bintang kita,
Orion Satria Jarrel
Rigel menyerngit. Untuk apa laki-laki itu mengirim surat untuknya? Dan kenapa ia tahu soal panggilan kesayangan Althea-Arrel? Rigel meraih polaroid di dalam kotak dan memperhatikannya lamat.
"Ini, gue sama Rion?" cicitnya melihat foto dua remaja tanggung di bandara. Yang laki-laki mengenakan seragam SMP lengkap—meski terlihat kedodoran—dengan senyum terlukis di bibirnya sementara perempuan di dalam foto itu berdiri di samping koper yang lumayan tinggi sambil menunjukkan dua jarinya. "Jadi, Orion beneran Arrel? Rasanya gak—," Rigel memejamkan mata, selintas ingatan lewat begitu saja tanpa permisi.
***
Dua hari sebelum keberangkatan, Orion yang sudah berusia sebelas tahun dan duduk di bangku SMP datang membawa kotak kecil berwarna putih dengan seragam yang masih lengkap menempel, tapi dasinya terikat di kepala. Ia sudah bertekad menyerahkan ini sebelum sahabatnya itu pergi.
"Thea! Thea!" teriak bocah laki-laki itu di depan sebuah rumah yang sejak dulu sering jadi tempatnya pulang ketika ia sudah merasa lelah mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya. Ketika seorang wanita keluar dari rumah itu, ia langsung mencium punggung tangannya dan menyunggingkan senyum lebar.
"Arrel mau ketemu Thea?" Orion menjawab dengan anggukan mantap. "Ayo masuk, Thea baru aja bangun."
"Boleh, ma?"
Yura mengangguk. Orion langsung berlari masuk dan membuka kamar Rigel. Senyumnya mengembang ketika melihat sahabatnya itu masih asyik bergelung di dalam selimutnya.
"Seperti janji Arrel, Arrel akan selalu jagain Thea, tapi karena sebentar lagi Thea jauh, jadi anggap aja barang ini adalah ganti kehadiran Arrel di sisi Thea," bisiknya di telinga Rigel. "Thea, harus Thea tahu, Arrel selalu sayang Thea."
Orion meletakkan kotak putih itu di nakas, kemudian mengecup pipi Rigel sekilas sebelum berlari keluar dari kamar gadis itu. Dari balik selimut, Rigel sudah mencak-mencak menahan malu. Sungguh, ini adalah kecupan pertama di pipinya setelah papa, dan rasanya, seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya.
Rigel memegang pipinya yang dulu pernah dikecup Orion, terasa memanas. Matanya berkaca-kaca demi mengingat kembali keeping-keping kebersamaan mereka. Tapi, kenapa dulu mengingatnya sangat menyakitkan? Kenapa barus sekarang ingatan Arrel kembali? Tunggu, jadi, Orion itu Arrel?
"Thea, ayo— lho, kok nangis?" Yura yang baru berdiri di ambang pintu langsung tergopoh mendekati putrinya. Ia merangkul bahu Rigel dengan hangat dan menatap kotak di tangan gadis itu. Senyumnya terkembang tipis. "Udah ketemu ya?"
"Kenapa mama gak langsung kasih ini ke Thea? Kenapa ini tiba-tiba ada? Thea udah dari lama nyariin dia...."
"Mama mau kamu menikmati proses, sayang," Yura mengecup lembut kening Rigel. "Mama udah tahu dari lama keberadaan Arrel. Sayangnya, mama suka lihat kamu bersaing sama dia daripada gigitin pipi dia setiap hari."
"Mama jahat!"
Yura tertawa. "Jadi, Neo, Opie, Igel-nya kalian udah tahu siapa pemilik setengah liontin kalung yang dipakai Orion, nih~"
"Orion pakai kalung?"
"Thea gak tahu?" Rigel menjawab dengan gelengan pelan. "Kalau gitu, pakai kalung ini dan paksa Arrel buat ngeluarin kalungnya besok."
"Orion gak masuk sekolah, ma...."
"Kalau besok masuk, mama tantang kamu jatuh cinta sama dia. Kalau kamu bisa kasih kepercayaanmu ke dia, mama gak akan minta kamu balik ke Korea nemenin mama, gimana?"
Rigel diam, menimbang. Ia tidak ingin lagi kembali ke negara yang dulu menjadi saksi bisu ia hampir meregang nyawa di sana. Jadilah, ia mengangguk samar, dan membuat Yura tersenyum senang setelahnya.
***
Benar saja, Rigel menemukan Orion tengah membaca novel horor di pos jaga besok paginya. Laki-laki itu tampak sangat tenang dengan bacaannya, tak acuh dengan riuh remah pagi itu.
"Morning, Rion."
Pandangan Orion naik, bertumbukan dengan iris emerald milik Rigel. Entah kenapa, manik itu terlihat lebih berkilau pagi ini, begitu cantik. Ia meletakkan novel dalam saku lebar dibalik jas almamaternya. Ia tersenyum teduh.
"Morning, tumben nyapa gue. Biasanya pagi-pagi udah melengos."
"Jangan bikin gue emosi."
"Emosi lo semangat gue, Ri."
"Alah, gue tampol lo."
Orion tergelak. "Btw, selamat ranking satunya, my eternal angel."
Ia bangkit dari duduk dan merangkul bahu Rigel. Kali ini tidak ada penolakan dari gadis itu. Orion menggiring Rigel menuju kelas, sesekali menyapa beberapa murid yang berpapasan dengan mereka.
"Rion."
"Hm?"
"Orion."
"Apa, sayang?"
Rigel membelalak. Ingin rasanya ia memukul mulut laki-laki ini jika tidak ingat percakapannya semalam dengan Yura. Ia berusaha menetralkan perasaan sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Lo suka gue ya?"
Kini giliran Orion yang terkejut. Ia membutuhkan waktu hanya untuk menetralisir kegugupannya. Sebenarnya ia ingin mengangguk, tapi kini hanya senyum tipis yang jadi jawabannya. "Apapun perasaan gue, yang pasti, gue akan selalu ada di sisi lo, Rigel Althea Morrigan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Lacuna [END]
Novela JuvenilBagi Rigel, Orion adalah rival yang paling menyebalkan sejauh ia mengenal laki-laki keturunan Australia itu. Orion selalu berusaha mengganggunya, dan tidak pernah memberikan memori yang indah untuk Rigel. Tapi Orion, dia adalah orang yang paling men...
![Lacuna [END]](https://img.wattpad.com/cover/373241943-64-k183972.jpg)