Kelas XII untuk Rigel sudah dimulai beberapa minggu lalu. Melewati kelas tanpa Orion memang bukanlah hal yang mudah, tapi membiarkan ia terhanyut dalam kesedihan juga bukan hal yang benar. Gadis itu membenahi poni yang sudah berantakan karena stress mengerjakan matematika di saat jam istirahat sudah tiba.
Baru akan menjejaki soal baru, ponsel Rigel berdering. Dionyx Alfareezel is calling.... Rigel menggeser tombol hijau itu sedikit malas, pikirnya, pasti Dion akan minta diabsenkan ketika laki-laki itu hendak membolos lagi.
"Ri, lo harus denger ini," Dion sama sekali kehilangan kesopanannya. Tapi, kapan memang laki-laki itu terlihat sopan?
"Apaan?"
"Diem dulu."
Rigel menurut. Ia menajamkan mata demi mendengar tawa seseorang yang familiar di ujung sana. Orion? Sebentar, itu memang Orion. Rigel hendak angkat bicara ketika Dion menyelanya.
"Dateng ke sini, kalau lo masih mau dia."
Hati Rigel mencelos. Jelas ia mau Orion kembali, meski tak lagi sama kelas kalau laki-laki itu tidak bisa mengejar ujian kenaikan kelas yang sempat ditinggalkannya kemarin. Jadilah kini ia, menutup telepon sepihak dan menyambar ranselnya. Tujuannya satu, bertemu Orion setelah sekian lama laki-laki itu tak lagi mengisi harinya.
***
Rigel berlari menyusuri sepanjang lorong rumah sakit, berharap menemukan ruang Orion yang sudah cukup lama tak didatanginya karena alasan tidak sanggup. Gadis itu sudah cukup terluka tanpa kehadiran Orion. Dan mengunjungi laki-laki itu tiap hari bukanlah pilihan yang tepat, menurutnya yang masih sedikit menjalankan logika.
Langkahnya memelan begitu melihat pintu ruang rawat Orion. Namun suara di dalam sana membuatnya berhenti.
"Satria, maaf, tapi papa ingin tanggal pernikahan kamu dimajukan."
"Tapi, pa...."
"Papa mohon, setelah ini, papa akan membiarkan kamu kembali bersekolah setelah menikah. Tidak akan ada yang tahu tentang pernikahanmu dan anak papa. Bukannya kamu ingin sembuh, Satria?"
"Satria minta waktu lagi, pa."
Rigel menempelkan telinga di dinding, berusaha mendengar lebih jauh percakapan itu. Sayangnya, ada banyak hal yang tidak bisa ditangkap telinganya dengan posisi seperti ini.
"Hanya ikrar, Satria. Dan kamu bisa melanjutkan kehidupan kamu bersama anak saya. Ini semua juga demi kesehatan kamu."
Ia bisa mendengar helaan napas seseorang di dalam sana. "Baik, pa. Apapun yang papa minta."
Hati Rigel sekali lagi mencelos. Ketidaktahuan apalagi ini? Apa ini hanya sebuah sandiwara? Rigel memundurkan tubuhnya, tapi malah menabrak seseorang di belakangnya. Ia menoleh, menemukan Demian yang kini menyangga tubuhnya sementara Dion menyerngit heran.
"Masuk aja kali, Ri. Ngapain lo nguping? Ada siapa?"
Rigel menggeleng. Ia berkilah dari tubuh Demian dan beranjak pergi. Detik itu, ia enggan lagi menemui Orion. Sebesar apapun rasanya, nyatanya, pada akhir cerita, Orion tak bisa bersamanya. Rigel berlari, menjauhi lukanya. Dengan Demian dan Dion yang menatapnya dengan tatapan heran.
Namun tak lama, Demian langsung mengejarnya. Meski laki-laki itu tak tahu apapun, tapi guratan luka di matanya jelas memberi Demian sinyal untuk menyusul gadis itu. Apapun yang membuat gadis paling manis di matanya itu terluka.
"Ada apa, kak?"
Setelah berhasil menggapai Rigel dan mendekap tubuh kecil itu dari belakang, Demian meletakkan dagunya di atas kepala Rigel. Gadis itu menggeleng.
"Jujur, atau gue cium."
"Dem, gak."
"Gue gak bisa lihat lo luka, kak."
"Gue juga gak mau luka."
"Terus, apa yang bikin lo luka?"
Rigel melepaskan dekapan Demian, menatap mata sayu itu dengan segala emosi yang tertahan di lubuk hatinya. Entah kenapa Rigel jadi selemah ini sekarang. Padahal dulu ia bisa dengan mudah memukul orang untuk meluapkan emosi.
"Orion mau nikah?"
"Hah?!" Demian seketika lemot.
"Dia mau nikah," dengan senyum terpaksa yang dilukiskan gadis itu di sudut bibirnya. "Tapi yang pasti, gak sama gue."
"Jangan ngaco lo."
"Gue denger sendiri."
"Sama siapa?"
Rigel menggeleng. Enggan untuk menjawab pertanyaan itu, dan enggan mencari tahu. Yang pasti, lukanya sudah menganga lebih lebar dari sebelumnya.
"Gue, gak mau hidup lagi, Dem."
"Lo masih punya kehidupan, kak."
"Dunia udah runtuh sejak gue pisah sama Arrel, sama Orion gue."
Demian menggenggam jemari Rigel. "Semuanya masih tegak berdiri, kak. Lo adalah perempuan terkuat yang pernah gue temui."
"Gue gak sekuat itu."
"Maka dari itu, gue ada sekarang."
Rigel memejamkan mata. Rasanya, semua ini terlalu sulit dicerna. Ia berharap ini hanya mimpi, dan ketika terbangun nanti, ia menemukan Orion yang tengah tersenyum padanya, memberikan lembaran manis baru dalam kehidupannya. Nihil. Nyatanya, ia benar-benar terluka sekarang. Hatinya terkoyak begitu dalam, begitu banyak darah tak kasat mata keluar.
Sementara Demian, hanya mampu merengkuh tubuh itu, tak tahu apa lagi yang bisa diucapkannya. Kini, hanya pelukan yang mampu laki-laki itu berikan. Dan semoga, semesta masih berbaik hati memberikan kebahagiaan pada gadis itu.
***
Sejak mendengar sendiri pembicaraan di dalam ruang rawat hari itu─meski menguping, Rigel enggan kembali bertegur sapa dengan Orion yang mulai masuk satu minggu setelah ia dinyatakan sadar dari koma. Setelah banyak luka, ia tak pernah mendapat jawaban pada akhirnya.
"Rigel," pandangan gadis itu naik, bertemu dengan hazel milik Orion. "Gue butuh ngomong."
"Gak usah."
"Kenapa sih, lo ngehindarin gue? Salah gue apa?"
"Gak ada. Salah gue yang terlambat buat menyadari kalau lo bukan punya gue."
Orion terhenyak. Apa gadisnya tahu? Tidak, ia belum lagi siap mengolah kata untuk menenangkan gadis itu. Ia belum memiliki pertahanan yang baik untuk bisa kehilangan Thea untuk yang kedua kalinya.
"Congrats, btw. Bentar lagi punya istri," Rigel beranjak, menepuk pundak Orion dua kali, membuat laki-laki itu membeku. "Gue gak pa-pa, santai aja."
Orion menatap kepergian gadis itu dengan jeri. Sakit di hatinya lebih sakit daripada cluster yang biasa ia hadapi. Jadi, ini patah hati keduanya dengan orang yang sama, di waktu berbeda. Jadi, apakah ini memang ujungnya?
Orion hendak menyusul Rigel─memberi penjelasan─ketika melihat gadis itu tampak sangat bahagia bersama dengan Demian. Langkah lak-laki itu berhenti. Tidak apa, setidaknya gadisnya bahagia bersama dengan orang yang sangat Orion percaya. Ia tidak seharusnya kembali.
Harusnya, ia tidak memaksa Rigel mengingat.
Harusnya, semua hanya masa lalu.
Karena, kembali lagi, waktu tak lagi sama untuk dirinya yang sudah dipenuhi lebam karena jahatnya dunia tempatnya berpijak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lacuna [END]
Novela JuvenilBagi Rigel, Orion adalah rival yang paling menyebalkan sejauh ia mengenal laki-laki keturunan Australia itu. Orion selalu berusaha mengganggunya, dan tidak pernah memberikan memori yang indah untuk Rigel. Tapi Orion, dia adalah orang yang paling men...
![Lacuna [END]](https://img.wattpad.com/cover/373241943-64-k183972.jpg)