#Chapter 3 : Biru dan merah

25 1 0
                                        


Happy Reading...

.

.

.

Pagi itu, sekitar pukul sepuluh, tim Tulip Merah Muda sudah sibuk di rumah penyihir Lacta, atau yang akrab mereka panggil Kak Acha. Sama seperti kemarin, pekerjaan rumah menanti mereka. Mereka memang tengah menjalani misi, tetapi lebih terasa seperti menjadi pelayan tak resmi.

Suasana kesibukan pecah oleh suara ketukan di pintu depan.

"Buka, dong. Itu siapa yang ketuk?" Zivana berkata santai sambil memegang kain lap di tangannya.

"Iya, iya..." jawab Aoi sambil beranjak dari tempatnya. Ia membuka pintu dengan malas, dan di depannya berdiri lima remaja seusianya dengan seragam sekolah yang sama. Mereka adalah Tim Daisy Biru.

Di depan barisan itu, seorang pemuda berambut coklat dengan iris hijau lime menatap Aoi dengan ekspresi meremehkan. Senyum mencemooh menghiasi wajahnya.

"Oh? Jadi kalian sudah sampai? Tim kesayangan memang beda, ya," ucapnya dengan nada tajam.

Mendengar ejekan itu, teman-teman si pemuda tertawa pelan, sementara Aoi menatap balik dengan senyum tipis yang penuh arti.

"Wah, iya nih. Kalian ke mana aja? Susah banget, ya, nyari rumah ini? Atau jangan-jangan baru mulai nyari sekarang? Ah, pemalas memang beda." Balasan Aoi memancing kekesalan pemuda itu.

Pemuda itu hendak membalas dengan emosi, tetapi seorang gadis dari timnya, dengan suara lembut, menenangkannya.
"Kyle, sudah. Kita ke sini untuk bertemu Penyihir Lacta, bukan buat bertengkar," katanya sabar.

Kyle mendengus, tetapi akhirnya mengangguk. "Ya, kau benar. Kita fokus saja."

Namun, Aoi dengan nada santai berkata, "Sayangnya, Kak Acha sedang keluar. Mungkin lebih baik kalian balik ke penginapan dan ke sini lagi nanti."

"Apa?! Baru sampai sudah disuruh pulang?" Kyle mulai naik darah.

Tiba-tiba, suara lembut namun penuh karisma terdengar dari belakang.
"Wah, wah, ada apa ini ribut-ribut?"

Semua mata langsung beralih pada sosok Kak Acha yang baru saja tiba. Ia tersenyum hangat dan berjalan mendekat. Aoi menyeringai kecil, merasa sudah menang dalam adu mulut barusan.

"Ah, jadi kalian teman-teman Aoi, ya? Seragam kalian sama. Kalau begitu, masuklah dulu," ujar Kak Acha sambil mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu.

Yuri, salah satu anggota Tim Tulip Merah Muda, diminta untuk membuat teh. Tak lama kemudian, ia kembali dengan nampan berisi beberapa cangkir. Setelah menyajikan teh, Kak Acha mulai mengatur ulang tugas mereka.

"Untuk memasak, aku minta Yuri dan Sadie yang mengurus. Bersih-bersih, aku serahkan pada Aoi, Zivana, dan Emest. Sisanya, berburu atau belanja bahan makanan. Paham?" katanya tegas.

"Tapi bagaimana dengan penelitianmu?" tanya Kyle penasaran.

Kak Acha tersenyum misterius dan menjawab, "Itu urusan belakangan. Yang penting pekerjaan rumah ini selesai dulu."

Setelah memberikan arahan, ia kembali ke kamarnya di lantai dua, meninggalkan anak-anak itu untuk memulai pekerjaan mereka.

Di tengah tugas berburu, suasana sempat memanas. Rey, salah satu anggota tim daisy biru, terlihat kesal karena Kyle selalu mencari masalah dengannya.

"Woi, lo nembak ke mana sih? Untung nggak kena gua!" bentaknya.

"Maaf, nggak sengaja," jawab Kyle dengan nada tak peduli.

School Of Magic [OC]Stories to obsess over. Discover now