#Chapter 21 : Ujian Pertama.

7 0 0
                                        

Happy Reading . . .

__________________

.

.

.

Pagi itu, kabut belum sepenuhnya sirna ketika lonceng akademi berdentang tiga kali—pertanda hari kedua ujian dimulai. Suasana Akademi Sihir Altherya lebih sunyi dari biasanya, bukan karena tidak ada suara, tapi karena tegangnya antisipasi. Semua murid tahu, ujian hari ini bukan sembarang tes teori atau praktek dasar.

Di tengah lapangan utama, para profesor sudah berdiri melingkar. Kepala Ujian, Profesor Lienne—wanita bertubuh mungil dengan rambut perak bergelombang—melangkah maju dan berbicara dengan suara jernih namun menggema berkat penguatan sihir:

"Selamat pagi, murid-murid. Hari ini kalian akan menghadapi Ujian Elemen: ujian kerja sama, adaptasi, dan strategi."

Sebuah peta besar melayang di udara, memperlihatkan empat wilayah berbeda: tanah bertebing curam, gurun berapi, danau luas yang membeku sebagian, dan padang berangin dengan bukit-bukit hijau.

"Setiap kelompok akan menempati satu wilayah, mewakili satu elemen. Tugas kalian adalah bertahan dan menaklukkan wilayah lain tanpa melukai lawan secara fatal. Penilaian mencakup sinergi tim, adaptasi medan, dan taktik sihir."

Kelompok Yuri—yang terdiri dari Yuri, Rey, Ken, Zivana, Aoi, dan Alex—ditempatkan di wilayah Angin.

"Angin, ya..." gumam Aoi, menatap daerah bukit-bukit curam yang dikelilingi jurang dan padang rumput tinggi yang bergoyang oleh hembusan udara. "Medan ini gak bisa dianggap enteng."

Rey, yang baru saja memasang jubah ujiannya, menjentikkan rambutnya dramatis. "Tapi sesuai banget sama kita. Ringan, gesit, dan penuh kejutan. Kayak... perasaanku ke Yuri."

Zivana tertawa pelan. "Cepet banget nyambungnya."

Yuri hanya mengangkat alis tanpa menoleh. "Kalau perasaanmu seenteng angin, jangan kaget kalau terbang begitu saja dan nggak balik."

Rey terkekeh, tidak tersinggung sama sekali. "Tenang, aku udah pasang mantra penambat hati. Gak akan terbang kecuali kamu yang ngusir."

Yuri menghela napas pelan, menahan senyum kecil yang hampir muncul. "Fokus dulu ke ujian, Rey. Kalau kamu ketampar angin sampai nyemplung jurang, yang nolongin bukan aku."

"Jadi siapa? Ken?" Rey menoleh ke Ken yang sibuk memeriksa perlengkapan sihirnya.

Ken hanya menjawab datar, "Kalau kamu jatuh karena bercanda waktu ujian, aku anggap itu karma."

Zivana nyengir. "Solid juga kekompakan kita."

Alex datang dari kejauhan. "Jangan lupa, kita harus bikin strategi. Grup Api terkenal agresif,"

Yuri mengangguk dan segera mengarahkan semua untuk berkumpul.

Setelah diskusi singkat, Yuri membagi tugas. Ia menyusun strategi berdasarkan karakter dan kemampuan tiap anggota, tak lagi ragu seperti dulu.

Ken menjaga jalur masuk utama. Aoi dan Rey sebagai duo pengalih perhatian. Zivana diposisikan di tebing kecil sebagai pengontrol runa. Alex bergerak sebagai pengintai dan penyuplai informasi medan.

Yuri sendiri jadi pengatur pusat—mengendalikan ritme serangan dan bertugas mengadaptasi strategi kalau situasi berubah.

Dan itu memang terjadi.

Tak lama setelah ujian dimulai, kelompok mereka langsung diserang oleh tim Tanah dari sisi barat. Tanah bergerak seperti gelombang keras, mencoba menghantam posisi Ken. Tapi Ken bertahan dengan mantra penguat gaya gravitasi yang memaku tubuhnya ke tanah.

School Of Magic [OC]Stories to obsess over. Discover now